DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #9

Insiden Preman Pasar

Pagi itu, Pasar Induk Jakarta telah bergemuruh bahkan sebelum matahari sepenuhnya naik.

Suara roda troli beradu dengan lantai semen yang basah. Para pedagang saling berseru menawarkan dagangan. Aroma bawang merah, cabai segar, ikan laut, dan kopi hitam dari warung kecil bercampur menjadi satu, menciptakan bau khas yang hanya dimiliki pasar tradisional.

Rio dan Ria telah berada di sana sejak subuh.

Seperti hari-hari sebelumnya, mereka membagi pekerjaan.

Rio membantu mengangkat karung beras dan peti sayuran milik beberapa pedagang.

Sementara Ria berpindah dari satu sudut ke sudut lain, menyanyikan lagu-lagu sederhana dengan gitar kecilnya.

Penghasilan mereka memang tidak besar.

Namun cukup untuk membeli makan hari itu.

"Kak."

Rio menoleh ketika Ria menghampirinya.

"Aku pindah ke depan kios buah, ya."

Rio mengangguk.

"Jangan terlalu jauh."

"Iya."

"Kalau ada apa-apa, panggil."

Ria tersenyum.

"Aku bukan anak kecil lagi."

Rio mengacak pelan rambut adiknya.

"Di mata Mas, kamu tetap adik kecil."

Ria hanya tertawa sebelum berjalan menuju sisi lain pasar.

Di depan deretan kios buah, suasana jauh lebih ramai.

Ria mulai memetik gitar.

Suaranya yang lembut perlahan menarik perhatian para pembeli.

Seorang ibu memasukkan beberapa lembar uang ke dalam kotak kecil.

"Terima kasih."

"Semoga rezekinya lancar, Bu."

Ria membungkukkan badan dengan sopan.

Beberapa pedagang bahkan ikut tersenyum mendengar nyanyiannya.

Namun tidak semua orang menikmati suasana itu.

Di ujung lorong pasar, tiga pria bertubuh besar memperhatikan Ria sejak tadi.

Mereka adalah preman yang biasa berkeliaran di sekitar pasar.

Salah seorang di antaranya melangkah lebih dulu.

"Hei."

Ria menghentikan petikan gitarnya.

"Iya, Bang?"

Pria itu menyeringai.

"Baru di sini?"

Ria mengangguk pelan.

"Iya."

"Kalau cari uang di wilayah ini..."

Ia mengetuk kotak uang di tangan Ria dengan jari telunjuknya.

"...ada aturannya."

Ria mengernyit.

"Aturan?"

"Harus setor."

Ria menggenggam kotaknya lebih erat.

"Maaf."

"Saya dapatnya juga sedikit."

Preman itu tertawa pendek.

"Sedikit atau banyak bukan urusan kami."

"bayar setoran."

Ria menggeleng.

"Maaf."

"Saya nggak bisa."

Senyum di wajah pria itu perlahan menghilang.

"Aku bilang..."

Suara pria itu menjadi lebih berat.

"...Bayar!,"

Tangannya meraih kotak uang milik Ria.

Ria spontan menariknya ke belakang.

"Jangan."

Beberapa pembeli mulai melirik ke arah mereka.

Namun tidak ada yang berani mendekat.

Preman kedua maju.

"Keras kepala juga."

Ria mundur selangkah.

"Itu uang hasil kerja."

"Kami juga kerja."

Pria itu tertawa sinis.

"Kerja menjaga wilayah."

Ria menggigit bibir.

"Saya nggak ganggu siapa-siapa."

Preman pertama tiba-tiba menarik ujung gitar yang dibawa Ria.

"jangan banyak ngomong?"

Gitar itu hampir terlepas dari tangan Ria.

"Jangan!"

Ria berusaha mempertahankannya.

Tarikan itu membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Preman ketiga ikut mendekat.

Tatapannya membuat Ria merasa semakin terpojok.

"Kalo gitu.. Ayo ikut sebentar."

"Kami cuma mau ngobrol."

Ria menggeleng cepat.

"Saya nggak mau."

Ia berusaha menghindar.

Lihat selengkapnya