Sore mulai merambat turun ketika mobil yang membawa Rio, Ria, dan Bi Sumi memasuki kawasan perumahan elite di Jakarta Selatan. Jalanan yang sebelumnya dipenuhi hiruk-pikuk pasar perlahan berganti menjadi lingkungan yang tenang. Deretan pohon palem berdiri rapi di sepanjang trotoar. Rumah-rumah besar dengan pagar besi tinggi berjajar megah, seolah menjadi dunia yang sama sekali berbeda dari tempat yang selama ini mereka kenal.
Ria memandangi semuanya dari balik jendela mobil.
"Kak..."
Rio menoleh.
"Iya?"
"Rumah orang-orang di sini besar sekali."
Rio hanya menganggukkan kepala pelan. Tatapannya ikut menyapu bangunan-bangunan mewah yang berdiri kokoh di kanan kiri jalan.
"Seumur hidup aku belum pernah melihat rumah sebesar ini."
Bi Sumi yang duduk di depan tersenyum tipis.
"Nanti kalian lebih kaget lagi."
Mobil kemudian berhenti di depan sebuah gerbang otomatis berwarna hitam dengan ornamen emas sederhana. Seorang petugas keamanan membuka gerbang setelah mengenali penumpang kendaraan yang mereka tumpangi.
Begitu memasuki halaman, Rio dan Ria sama-sama terdiam.
Halaman rumah itu sangat luas.
Rumput hijau terawat membentang seperti karpet alami. Di sisi kiri berdiri taman bunga dengan berbagai warna yang tersusun rapi. Sebuah kolam ikan koi memantulkan cahaya matahari sore, sementara dua mobil mewah terparkir di garasi yang terbuka.
Rio menelan ludah.
Dalam benaknya muncul satu kalimat sederhana.
Beginikah kehidupan orang kaya?
Mobil berhenti tepat di depan teras.
Bi Sumi turun lebih dulu.
setelah membayar taksi onlinenya Bi Sumi mengajak Rio dan Ria masuk ke halaman rumah.
"Ayo."
Rio membantu membuka pintu untuk Ria.
Mereka berjalan mengikuti Bi Sumi memasuki rumah.
Begitu pintu terbuka, hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka. Lantai marmer mengkilap memantulkan bayangan lampu gantung kristal yang menjuntai tinggi dari langit-langit.
Ria sampai memperlambat langkah.
Takut sepatunya yang mulai usang meninggalkan bekas kotor.
"Ayo masuk saja."
Bi Sumi memahami kecanggungan mereka.
"Jangan takut."
Rio mengangguk pelan.
Meski begitu, ia tetap melangkah hati-hati.
Bi Sumi mengajak mereka menuju dapur.
"Duduk dulu."
Rio segera menggeleng.
"Kami berdiri saja, Bi."
"Kalian tamuku."
"Tapi pakaian kami kotor."
Bi Sumi tersenyum.
"Kursinya tidak akan rusak."
Akhirnya mereka duduk di kursi kayu dekat meja makan kecil yang biasa digunakan para pekerja rumah.
Bi Sumi mengambil kotak P3K.
"Lukanya masih terasa?"
Rio melirik siku dan pelipisnya yang tadi terkena pukulan preman.
"Sudah lebih baik."
"Jangan sok kuat."
Perempuan itu mulai membersihkan sisa darah yang mengering.
Rio hanya meringis pelan ketika cairan antiseptik menyentuh kulitnya.
Ria memandang kakaknya dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Maaf, Kak."
Rio tersenyum.
"Untuk apa?"
"Kalau bukan karena aku..."
Rio menggeleng.
"Kamu adikku."
"Itu sudah cukup jadi alasan."
Ria menunduk.
Matanya kembali berkaca-kaca.
Bi Sumi hanya memperhatikan keduanya sambil tersenyum haru.
Anak-anak ini benar-benar hanya memiliki satu sama lain.
Setelah mengobati Rio dan beristirahat sambil berbincang, tidak lama kemudian terdengar suara mesin mobil memasuki halaman.
Bi Sumi langsung menoleh ke arah jendela.
"Sepertinya Pak Hartono pulang."
Rio spontan berdiri.
"Kami sebaiknya pamit."
"Iya, Bi."
Ria ikut berdiri.
"Kami sudah merepotkan."
Bi Sumi menghela napas.
"Kalian ini."
Belum sempat ia menjawab, suara pintu depan terdengar terbuka.