DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #11

Mencari Peluang Kerja

Pagi di rumah Hartono selalu dimulai dengan kesibukan.

Jam baru menunjukkan pukul enam ketika Bi Sumi sudah selesai menyapu halaman depan. Aroma kopi hitam mengepul dari dapur, sementara suara berita pagi terdengar pelan dari televisi di ruang keluarga.

Hartono sudah siap berangkat ke kantor.

Seperti biasa, ia mengenakan kemeja putih yang disetrika rapi, dasi biru tua, dan sepatu kulit mengilap. Di tangannya sudah ada map berisi dokumen yang harus dibawa ke rapat pagi.

Jessica meletakkan secangkir kopi di depan suaminya.

"Mas, kopinya."

"Makasih."

Hartono mengangguk singkat lalu membuka layar ponselnya untuk mengecek jadwal hari itu.

Di sisi lain meja makan, Bram baru keluar dari kamar tamu sambil menguap lebar. Rambutnya masih berantakan. Kaus oblong yang dipakainya terlihat kusut, pertanda ia baru bangun tidur.

"Selamat pagi semuanya," sapanya santai.

"Pagi," jawab Jessica sambil tersenyum.

Hartono hanya mengangguk sekilas.

Tak lama kemudian Maya ikut keluar. Namun bukannya langsung menuju meja makan, ia justru berdiri di dekat jendela ruang tamu.

Ponselnya sudah berada di depan wajah.

"Halo, guys... selamat pagi..."

"Aku baru bangun nih."

"Mau siap-siap skincare dulu."

Jessica hanya tersenyum maklum.

Sementara Hartono melirik sekilas sebelum kembali menyeruput kopinya.

Suasana sarapan berlangsung cukup tenang.

Hingga akhirnya Bram berdeham pelan.

"Mas..."

"Hm?"

"Aku mau minta izin."

Hartono meletakkan cangkirnya.

"Izin apa?"

"Hari ini aku mau cari kerja lagi."

Hartono mengangguk pelan.

"Bagus."

"Rencananya ke mana?"

Bram terlihat sedikit gugup.

"Aku sudah lihat beberapa lowongan di internet."

"Mau coba datang satu-satu."

Hartono menatapnya beberapa detik.

"CV sudah siap?"

"Sudah."

"Fotokopi ijazah?"

"Sudah."

"Surat lamaran?"

"Sudah."

Hartono kembali mengangguk.

"Kalau begitu jangan ditunda."

"Banyak perusahaan mulai buka wawancara pagi."

"Iya, Mas."

Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, Hartono merasa Bram menunjukkan niat yang cukup baik.

Meski begitu, ia tetap belum bisa sepenuhnya percaya.

Setelah sarapan selesai, Bram masuk kembali ke kamar.

Ia membuka koper lalu mengeluarkan beberapa map.

"Yang mana ya..."

Ia mengacak-acak isi koper hingga pakaian berserakan di lantai.

Maya yang sedang duduk di depan cermin melirik sebentar.

"Kamu cari apa?"

"Map lamaran."

"Oh."

Jawaban Maya singkat, lalu ia kembali sibuk memilih filter video di ponselnya.

Bram akhirnya menemukan map biru yang dicarinya.

Ia membukanya.

Beberapa lembar fotokopi ijazah.

CV.

Surat lamaran.

Semuanya sudah siap.

Ia menarik napas panjang.

"Mudah-mudahan hari ini ada hasil."

Maya menoleh.

"Pasti dapat kok."

"Semoga."

Lihat selengkapnya