Sudah hampir seminggu Bram dan Maya tinggal di rumah Hartono.
Hari-hari yang awalnya terasa tenang mulai berubah menjadi lebih sibuk.
Bi Sumi yang selama puluhan tahun terbiasa mengurus rumah seorang diri kini harus menambah pekerjaannya. Bukan hanya memasak dan membersihkan rumah dua lantai yang luas itu, ia juga harus mencuci pakaian lebih banyak, menyetrika hingga larut malam, menyiapkan makanan tiga kali sehari, serta membereskan kamar tamu yang ditempati Bram dan Maya.
Ironisnya, penghuni baru itu hampir tidak pernah membantu.
Maya lebih sering sibuk membuat konten media sosial.
Sedangkan Bram, meski setiap pagi keluar mencari pekerjaan, ketika pulang hanya beristirahat tanpa menyadari betapa lelahnya Bi Sumi mengurus rumah.
Pagi itu Bi Sumi baru saja selesai menyapu halaman belakang.
Ia lalu memindahkan pot-pot bunga yang mulai layu karena semalaman diguyur hujan.
Belum sempat duduk, mesin cuci berbunyi.
Ia segera masuk ke ruang cuci.
Beberapa keranjang pakaian sudah menggunung.
Kemeja Hartono.
Gaun Jessica.
Kaos Bram.
Dress Maya.
Handuk.
Seprai.
Belum lagi pakaian olahraga yang dipakai Maya untuk membuat konten kebugaran.
Bi Sumi menarik napas panjang.
"Ya Allah... banyak sekali."
Ia mulai memasukkan pakaian ke mesin cuci satu per satu.
Tak lama kemudian terdengar suara Maya dari ruang keluarga.
"Bi..."
"Iya, Mbak?"
"Bisa bikinin jus alpukat?"
"Sebentar ya, Mbak."
"Terus jangan lupa tanpa gula."
"Iya."
Belum sempat Bi Sumi menuju dapur, suara Jessica kembali terdengar.
"Bi..."
"Iya, Bu."
"Nanti siang tolong setrika baju yang warna biru ya."
"Besok saya pakai meeting."
"Baik, Bu."
Tak lama kemudian Bram ikut muncul.
"Bi."
"Iya, Mas."
"Kalau sempat nanti bikinin kopi ya."
Bi Sumi tersenyum tipis.
"Iya."
Ia sama sekali tidak mengeluh.
Namun langkahnya mulai terasa semakin berat.
Menjelang siang, tubuh Bi Sumi mulai tidak enak.
Kepalanya terasa pusing.
Pandangan sedikit berkunang-kunang.
Meski begitu, ia tetap memaksakan diri memasak makan siang.
Saat sedang mengaduk sayur sop, sendok kayu di tangannya perlahan terlepas.
Tangannya gemetar.
Ia memegang meja dapur agar tidak jatuh.
"Bi?"
Jessica yang baru masuk ke dapur langsung menghampiri.
"Wajah Bibi pucat."
"Nggak apa-apa, Bu."
"Cuma agak capek."
Jessica memegang dahi Bi Sumi.
"Panas sekali."
"Ya Allah..."
"Bi demam."
Bi Sumi masih berusaha tersenyum.
"Nanti juga sembuh."
Jessica menggeleng.
"Nggak bisa."
"Bibi harus istirahat."
"Tapi pekerjaan rumah..."
"Sudah."
"Nggak usah dipikirkan."
Bi Sumi akhirnya tidak mampu lagi berdiri tegak.
Tubuhnya limbung.
Jessica segera memegang lengannya.
"Mas!"
Hartono yang sedang bekerja dari rumah hari itu langsung datang.
"Ada apa?"
"Bi Sumi demam."
Hartono langsung memanggil sopir langganan untuk mengantar Bi Sumi ke klinik terdekat.
Sore harinya Bi Sumi kembali ke rumah dengan membawa beberapa obat.