Pagi itu langit Jakarta diselimuti awan kelabu.
Embun masih menempel di dedaunan ketika halaman rumah Hartono mulai dipenuhi kesibukan. Bi Sumi masih belum benar-benar pulih dari sakitnya, sehingga sebagian pekerjaannya kini dibantu oleh Ria.
Gadis itu sudah bangun sejak subuh.
Tanpa perlu disuruh, ia membantu menyapu ruang tamu, mengepel lantai, lalu menyiapkan sayuran yang akan dimasak Bi Sumi.
Meski baru dua hari bekerja, Ria belajar dengan cepat.
"Bagus, Ria," puji Bi Sumi sambil tersenyum.
"Kamu cepat sekali nangkapnya."
Ria tersipu malu.
"Masih banyak yang harus saya pelajari, Bi."
"Pelan-pelan saja."
"Bekerja itu bukan soal cepat."
"Tapi teliti."
"Iya, Bi."
Dari ruang makan, Jessica memperhatikan mereka sambil tersenyum puas.
Ia sempat khawatir Ria akan merasa canggung.
Nyatanya, gadis itu justru membawa suasana baru ke dalam rumah.
Rajin.
Ramah.
Dan selalu mendahulukan pekerjaan daripada berbicara.
Sifat yang sangat berbeda dengan Maya.
Di lantai atas, Maya baru bangun ketika jam hampir menunjukkan pukul sembilan.
Ia keluar kamar sambil meregangkan tubuh.
"Bi..."
Panggilannya terhenti ketika melihat Ria sedang menyusun piring di meja makan.
"Kamu siapa?"
Ria segera menundukkan kepala.
"Saya Ria, Mbak."
"Oh..."
"Yang baru kerja itu ya?"
"Iya."
Maya mengangguk sekilas sebelum duduk di kursi makan.
"Bi, kopi dulu ya."
Ria tersenyum sopan.
"Bi Sumi lagi minum obat."
"Kalau Mbak berkenan, saya yang buat."
Maya mengangkat bahu.
"Ya sudah."
Tak lama kemudian secangkir kopi hangat tersaji di depannya.
Maya mencicipinya.
"Hm..."
"Enak juga."
Ria tersenyum kecil.
"Terima kasih."
Percakapan mereka berhenti sampai di situ.
Maya kembali sibuk dengan ponselnya.
Sementara Ria kembali bekerja.
Di garasi belakang, Hartono sedang bersiap berangkat ke kantor.
Ia membuka pintu mobil sedan hitam kesayangannya.
Mobil itu selalu dirawat dengan baik.
Servis rutin.
Mesin diperiksa berkala.
Tak pernah sekalipun mengalami masalah serius.
Namun pagi itu, ketika tombol starter ditekan...
"Cek... cek... cek..."
Mesin hanya bergetar.
Tidak menyala.
Hartono mencoba sekali lagi.
Suara yang sama kembali terdengar.
"Cek... cek..."
Hartono mengernyit.
"Aneh."
Ia turun dari mobil lalu membuka kap mesin.
Semua tampak normal.
Tidak ada kabel yang putus.
Tidak ada oli yang bocor.
Namun mobil tetap tidak bisa hidup.
Jessica ikut menghampiri.
"Kenapa, Mas?"
"Nggak tahu."
"Padahal kemarin masih normal."
Bram yang baru keluar rumah ikut melihat.
"Mungkin aki."
Hartono menggeleng.
"Akinya baru tiga bulan."
Bram mendekat seolah ingin membantu.
Ia melihat ke dalam ruang mesin beberapa saat.
"Lumayan rumit ya."
Hartono hanya mengangguk.
Ia lalu mengeluarkan ponsel.
"Aku panggil bengkel."
Sementara itu, di luar pagar rumah, Rio baru saja selesai membantu seorang pedagang mengantar barang.
Sejak Ria bekerja di rumah Hartono, ia masih mengkhawatirkan adiknya karena baru kali ini mereka berjauhan maka Rio sesekali datang ke sana hanya untuk memastikan adiknya baik-baik saja.
Namun ia tidak pernah masuk.
Ia selalu menunggu di luar pagar.
Pagi itu Ria kebetulan sedang membuang sampah.
Melihat kakaknya berdiri di seberang jalan, wajahnya langsung berbinar.
"Kak!"
Rio melambaikan tangan.
"Gimana kerja?"
"Alhamdulillah."