Waktu terasa berjalan sangat cepat, Hartono mengangkat panggilan telepon dari kantor.
"Pak, rapatnya sudah mulai lima belas menit lagi," suara asistennya terdengar dari telepon.
"Aku tahu."
Hartono menutup sambungan itu dengan nafas panjang.
Biasanya ia selalu menyetir sendiri. Baginya, mengemudi adalah satu-satunya waktu untuk berpikir tanpa diganggu siapapun. Namun pagi itu, pekerjaan menumpuk dan ia harus mempersiapkan presentasi sebelum rapat dimulai.
Bi Sumi yang berdiri tak jauh dari sana memberanikan diri mendekat.
"Pak... kalau berkenan, Rio saja yang menyetir. Anak itu kelihatannya memang biasa bawa mobil."
Hartono menoleh ke arah Rio yang sedang membersihkan tangannya dengan kain lap bekas oli.
"Rio."
"Iya, Pak."
"Kamu bisa nyetir mobil matic sama manual?"
Rio mengangguk pelan.
"Sudah biasa, Pak."
Hartono menghela napas.
"Kalau begitu antar saya ke kantor."
Rio menatap Bi Sumi sekilas.
Perempuan tua itu tersenyum kecil seolah memberi semangat.
"Baik, Pak."
Beberapa menit kemudian mobil hitam mewah itu meluncur meninggalkan halaman rumah.
Rio duduk dibalik kemudi.
Tangannya menggenggam setir dengan mantap.
Keahlian bertahun-tahun membawa angkot membuatnya cepat beradaptasi dengan kendaraan semewah apapun.
Hartono yang duduk di kursi belakang membuka laptop.
Belum sampai lima menit perjalanan, suara notifikasi rapat daring mulai terdengar.
"Rio."
"Iya, Pak?"
"Nanti jangan terlalu banyak berhenti. Saya ikut rapat dari mobil."
"Siap."
Hartono mengenakan earphone lalu mulai bergabung ke ruang rapat virtual.
Suasana mobil langsung dipenuhi istilah bisnis yang tidak dipahami Rio.
"Laporan kuartal..."
"Target investasi..."
"Negosiasi proyek..."
Rio hanya fokus mengemudi.
Sesekali matanya melihat kaca spion.
Hartono tampak begitu serius.
Nada bicaranya tegas.
Tatapannya tajam.
Semua orang dalam rapat terlihat sangat menghormatinya.
Sekitar satu jam kemudian rapat selesai.
Hartono menutup laptop lalu meregangkan tubuh.
"Capek juga."
Rio hanya tersenyum kecil.
"Macet ya Jakarta."
"Iya, Pak."
Hartono melihat keluar jendela.
Kemudian tanpa diduga ia mulai membuka percakapan.
"Kamu asalnya dari mana?"
Rio sudah menduga pertanyaan itu suatu saat akan datang.
"Dari Jawa Barat, Pak."