DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #15

Kecurigaan Rio & Kemarahan Bram

Sore itu langit Jakarta mulai berubah jingga ketika mobil yang dikendarai Rio memasuki halaman rumah Hartono. Perjalanan panjang bersama sang majikan baru saja selesai. Sepanjang jalan pulang, Rio hampir tidak banyak bicara. Ucapan Hartono saat makan siang masih terus terngiang di kepalanya.

"Kalau sudah punya keluarga, jangan pernah tinggalkan mereka."

Kalimat itu terdengar seperti lelucon yang paling kejam.

Rio mematikan mesin mobil, lalu menarik nafas panjang sebelum turun. Ia menatap rumah mewah di hadapannya. Bangunan megah itu berdiri kokoh dengan pagar besi tinggi, taman yang terawat, dan mobil-mobil mahal berjajar rapi di garasi.

Semua kemewahan itu terasa seperti penghinaan bagi dirinya dan Ria.

Rio menggeleng pelan, mengusir bayangan masa kecil yang kembali datang. Ia mengambil tas kerja Hartono lalu berjalan mengiringi sang majikan masuk ke dalam rumah.

Bi Sumi menyambut mereka di ruang depan.

"Alhamdulillah sudah pulang, Pak."

Hartono mengangguk.

"Iya, Bi. Hari ini lumayan terbantu sama Rio."

Mendengar pujian itu, Rio hanya tersenyum tipis.

Tak jauh dari ruang tamu, sepasang mata memperhatikan mereka dengan sorot tajam.

Bram.

Tangannya mengepal begitu melihat Hartono menepuk bahu Rio dengan akrab.

Seketika rasa panas menjalar ke seluruh dadanya.

Seharusnya hari ini Hartono tidak bisa berangkat kerja.

Seharusnya mobil itu tetap mogok.

Seharusnya ia mendapat kesempatan meminjam mobil tersebut untuk pergi ke beberapa perusahaan yang katanya membuka lowongan pekerjaan.

Namun semua rencananya berantakan sejak Rio muncul.

Malam mulai turun.

Di ruang makan, seluruh penghuni rumah berkumpul untuk makan malam.

Jessica duduk di samping Hartono.

Di sisi lain ada Bram dan Maya yang sejak tadi hanya sibuk memainkan ponsel masing-masing.

Bi Sumi bersama Ria mondar-mandir menyajikan hidangan.

Rio memilih makan belakangan di dapur bersama Ria & Bi Sumi Setelah mereka selesai bekerja.

Ia memang lebih nyaman berada jauh dari meja keluarga itu.

Namun dari dapur, suara percakapan mereka masih terdengar cukup jelas.

"Bram."

Hartono memanggil tanpa menoleh.

"Iya, Mas."

"Sudah dapat pekerjaan?"

Bram menghela napas.

"Masih cari."

"Sudah berapa tempat yang kamu datangi?"

"Baru beberapa."

Hartono meletakkan sendoknya.

"Kalau cuma beberapa ya jangan berharap cepat diterima."

Nada bicaranya memang tidak keras, tetapi cukup membuat Bram tersinggung.

"Aku juga berusaha, Mas."

"Usaha itu kelihatan dari hasilnya."

Jessica langsung menyela.

"Mas... jangan terlalu menekan Bram."

Hartono mengusap dahinya.

"Aku bukan menekan. Aku cuma ingin dia sadar kalau hidup itu butuh tanggung jawab."

Bram menahan rahangnya agar tidak sampai membalas.

Maya yang duduk di sampingnya ikut memasang wajah kesal.

Rio yang mendengar percakapan itu hanya diam.

Ia mulai memahami pola hubungan di rumah tersebut.

Hartono memang keras.

Jessica selalu membela adiknya.

Sedangkan Bram tampak semakin menyimpan kebencian.

Selesai makan malam, Rio membantu Bi Sumi mencuci piring.

Lihat selengkapnya