Pagi itu suasana rumah Hartono terasa lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya. Matahari yang baru muncul menyinari halaman depan, membuat embun di atas rumput taman berkilauan. Bi Sumi sudah sibuk menyapu teras, sementara Ria menyiram tanaman di halaman belakang seperti yang biasa ia lakukan sejak mulai membantu pekerjaan rumah.
Di sisi lain rumah, Rio sudah berada di garasi sejak subuh.
Tangannya penuh oli. Ia sedang memeriksa tekanan ban salah satu mobil keluarga Hartono. Setelah selesai, ia beralih mengecek oli mesin, air radiator, hingga membersihkan bagian dalam kabin.
Tak ada yang memintanya melakukan semua itu.
Ia melakukannya atas inisiatif sendiri.
Baginya, kendaraan yang dipakai setiap hari harus selalu siap digunakan kapan pun.
Kebiasaan itu sudah terbentuk sejak bertahun-tahun menjadi sopir angkot tembak di kampung. Jika kendaraan mogok di jalan, bukan hanya penumpang yang rugi, tetapi dirinya juga kehilangan penghasilan hari itu.
Tanpa sadar, etos kerja yang sama kini ia bawa ke rumah mewah tersebut.
Dari jendela ruang kerja lantai dua, Hartono memperhatikan semua itu.
Sudah hampir lima belas menit ia berdiri sambil memegang secangkir kopi.
Tatapannya tidak lepas dari pemuda yang sibuk di garasi.
"Aneh..." gumamnya pelan.
Tidak ada satupun pekerja yang pernah ia miliki bekerja serajin itu tanpa disuruh.
Bahkan beberapa montir langganannya hanya memperbaiki bagian yang rusak lalu selesai.
Sedangkan Rio justru memeriksa semuanya secara menyeluruh.
Entah kenapa, semakin lama memperhatikan pemuda itu, semakin besar rasa percaya yang tumbuh dalam dirinya.
Tak lama kemudian Hartono turun ke garasi.
Rio yang sedang membersihkan velg langsung berdiri.
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi."
Hartono mengamati mobil yang kini tampak jauh lebih bersih daripada biasanya.
"Kamu mulai kerja dari jam berapa?"
Rio tersenyum kecil.
"Sehabis subuh, Pak."
"Bagus..?"
Rio tersenyum.
"Bagaimana apa semua baik-baik saja?"
"Pastikan tidak ada kendala hari ini?"
Hartono sengaja menyuruh Rio kembali lagi untuk menyiapkan kendaraanya.
"Beres pak, saya sudah periksa semua.. tidak ada masalah dan siap digunakan”
“Kalau kendaraan dirawat setiap hari, kerusakan kecil bisa ketahuan sebelum jadi besar."
Jawaban itu membuat Hartono mengangguk pelan.
Cara berpikir Rio mengingatkannya pada seseorang.
Pagi itu Hartono kembali menggunakan jasa Rio sebagai sopir menuju kantor.
Selama perjalanan, mobil melaju mulus tanpa kendala.
Sesampainya di gedung perusahaan, Hartono turun sambil berkata singkat.
"Nanti jangan pulang dulu."
Rio sedikit bingung.
"Baik, Pak."
Ia mengira mungkin Hartono membutuhkan kendaraan lagi siang nanti.
Karena itu ia memilih menunggu di area parkir basement.
Sambil menunggu, Rio justru membantu petugas kebersihan membersihkan beberapa bercak oli yang mengotori lantai parkir.
Seorang satpam memperhatikannya sambil tersenyum.
"Kamu pegawai baru ya?"
"Iya, Pak."
"Jarang ada anak muda yang ringan tangan begini."
Rio hanya tertawa kecil.
Baginya membantu orang lain bukan sesuatu yang istimewa.
Ia hanya tidak suka duduk diam.
Menjelang siang, Hartono memanggil Rio ke ruangannya.
Ruangan itu luas dan mewah.
Dindingnya dipenuhi piagam penghargaan serta foto-foto perusahaan.
Rio berdiri dengan sedikit canggung.
"Bapak manggil saya?"
Hartono mempersilahkannya duduk.
"Duduk saja."
Rio tetap memilih berdiri.
"Saya di sini saja, Pak."
Hartono tidak memaksa.
Ia membuka sebuah map berisi beberapa dokumen.
"Selama ini saya memperhatikan kamu."
Rio mulai merasa gugup.
Ia takut ada kesalahan yang tidak disadarinya.
Namun Hartono justru tersenyum tipis.
"Kamu rajin."
"Jujur."