Tiga hari setelah Rio menandatangani surat perjanjian kerja, Bi Sumi datang ke ruang kerja Hartono setelah makan malam.
Pria itu sedang duduk sendirian di depan meja kerjanya. Layar laptopnya menyala, tapi dia tidak melihat apapun. Tangannya memegang gelas kopi yang sudah dingin sejak satu jam yang lalu. Dia tidak menyentuhnya.
Bi Sumi mengetuk pintu pelan.
"Pak."
Hartono mengangkat kepalanya. Matanya merah. Sudah tiga malam dia tidak tidur nyenyak.
"Ada apa, Bi?"
Bi Sumi masuk dan menutup pintu perlahan. Dia tidak langsung bicara. Dia berdiri diam di depan meja, memutar ujung celemeknya dengan jari. Sudah dua puluh tahun dia bekerja untuk pria ini. Dia tahu kapan Hartono marah, kapan dia sedih, dan kapan dia hanya sangat lelah.
Sekarang dia melihat yang terakhir.
"Pak mau dengar yang sebenarnya?" tanya Bi Sumi akhirnya.
Hartono meletakkan gelas kopinya.
"Tentang mobil?"
Bi Sumi mengangguk.
"Rio tidak salah. Kabel rem itu tidak lepas sendiri. Seseorang sengaja mencabutnya. Hanya setengah. Cukup untuk membuat mobil mogok di jalan. Tidak cukup untuk membuat kecelakaan. Cukup untuk membuat Bapak terlambat."
Hartono tidak menjawab. Dia hanya memandang ke luar jendela. Dia sudah tahu. Dia sudah tahu sejak hari itu juga. Dia hanya tidak mau mengatakannya.
"Bram?" tanyanya pelan.
Bi Sumi tidak mengangguk dan tidak menggeleng. Dia hanya diam. Itu sudah cukup jawaban.
Hartono menghela napas panjang. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi. Selama tiga hari dia berusaha tidak memikirkan hal ini. Selama tiga hari dia berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa iparnya itu hanya anak muda yang malas, bukan orang yang berani merusak barangnya. Bahwa dia masih bisa mengendalikan semuanya.
Telepon di atas meja bergetar.
Nama atasannya muncul di layar. Hartono memandangnya tapi tidak mengangkat. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan pria itu. Dia sudah mendengarnya kemarin. Selama empat puluh lima menit. Tentang malu. Tentang ketidakpercayaan. Tentang bagaimana dia hampir merusak kontrak lima belas milyar hanya karena terlambat dua puluh menit.
Dia tidak mengatakan apapun tentang mobil. Dia tidak mengatakan bahwa seseorang dari rumahnya sendiri yang sengaja membuatnya terlambat. Dia hanya diam dan menerima semua makian.
"Bapak tidak akan melakukan apapun?" tanya Bi Sumi.
Hartono menggeleng.
"Apa yang harus saya lakukan? Menuduhnya? Jessica akan marah. Ibu mertua akan menelepon. Seluruh keluarga akan bilang saya orang yang tidak mau menolong adik ipar. Semua orang akan membenci saya."
Dia berhenti sebentar. Suaranya menjadi lebih pelan.
"Dan yang terburuk, Bi. Mereka semua benar. Saya memang orang seperti itu."