Pagi itu rumah Hartono terasa lebih sunyi dari biasanya.
Semua orang menjalankan rutinitas masing-masing, tetapi keheningan itu bukan karena damai. Justru sebaliknya. Sejak insiden mobil beberapa hari lalu, udara di dalam rumah terasa berat. Setiap orang berbicara seperlunya, seolah takut salah mengucapkan satu kalimat yang bisa memicu pertengkaran baru.
Di garasi, Rio sedang memeriksa oli salah satu mobil perusahaan.
Tangannya sibuk membuka baut, tetapi telinganya menangkap suara langkah kaki yang tergesa dari arah ruang tengah.
Bram.
Pria itu berjalan mondar-mandir sambil memegang ponsel. Wajahnya kusut.
"Aku capek begini terus..." gumamnya.
Rio hanya melirik sekilas lalu kembali bekerja.
Tak lama kemudian suara Jessica terdengar dari ruang keluarga.
"Bram... sini dulu."
Bram langsung menghampiri kakaknya.
"Ada apa?"
Jessica baru saja selesai menerima kiriman dokumen kantor milik Hartono. Wajahnya terlihat lelah.
"Aku dengar kamu masih belum dapat pekerjaan."
Bram mengembuskan napas panjang.
"Masih proses."
"Sudah berapa perusahaan?"
"Lima."
"Lalu?"
"Mereka maunya pengalaman."
Jessica mengangguk pelan.
"Itu memang harus sabar."
Bram tersenyum tipis.
"Makanya aku mau minta bantuan."
Jessica sudah bisa menebak arah pembicaraan itu.
"Bantuan apa?"
Bram duduk lebih dekat.
"Kak..."
"Sekarang banyak lowongan yang butuh kendaraan sendiri."
Jessica diam.
"Aku cuma butuh mobil."
Jessica mengernyit.
"Mobil?"
"Iya."
"Buat apa?"
"Biar gampang kerja. Masa setiap wawancara naik ojek terus? Gimana orang mau percaya?"
Jessica mulai menghela napas.
"Bram... mobil bukan barang murah."
"Aku tahu."
"Aku cicil nanti."
"Dengan apa?"
"Nanti kalau sudah kerja."
Jessica menggeleng pelan.
"Itu bukan jawaban."
Bram mulai kehilangan senyum.
"Kakak sama Mas Hartono punya beberapa mobil."
"Itu mobil perusahaan."
"Satu saja."
"Tidak bisa."
"Aku pinjam dulu."
"Kalau rusak?"
"Ya aku tanggung."
"Dengan uang siapa?"
Nada suara Jessica mulai meninggi.
Bram ikut berdiri.
"Kakak sekarang berubah."
"Aku realistis."
"Dulu Kakak selalu bantu aku."
"Aku masih membantu."
"Mana?"
"Kamu tinggal gratis di sini."
"Makan gratis."
"Listrik."
"Air."
"Semua ditanggung."
"Itu masih kurang?"
Bram tertawa sinis.
"Jadi aku dianggap beban?"
Jessica tidak langsung menjawab.
Keheningan itulah yang justru menjadi jawaban paling menyakitkan.