Dua hari setelah pertengkaran soal mobil itu, rumah Hartono kembali sibuk.
Hartono berangkat sejak pagi menghadiri pertemuan dengan beberapa klien. Jessica juga keluar untuk menemui notaris perusahaan. Bram mengaku hendak mengikuti wawancara kerja, meski tak seorang pun benar-benar yakin apakah ia memang pergi melamar pekerjaan atau sekadar menghabiskan waktu di luar.
Rumah akhirnya terasa lebih lengang.
Bi Sumi memanfaatkan kesempatan itu untuk membersihkan gudang belakang yang sudah lama tak tersentuh.
Gudang itu berada di sudut paling belakang rumah. Sebuah ruangan sempit dengan rak-rak kayu tua yang dipenuhi kardus, koper usang, dan map-map arsip yang mulai menguning.
"Rio... Ria..." panggil Bi Sumi.
"Iya, Bi."
"Tolong bantu bersihkan gudang."
Ria mengangguk cepat.
"Baik, Bi."
Rio ikut mendekat.
Begitu pintu gudang dibuka, aroma debu langsung menyeruak keluar.
Ria spontan menutup hidungnya.
"Sudah berapa tahun tidak dibuka, Bi?"
Bi Sumi tersenyum kecil.
"Sejak rumah ini direnovasi."
"Mungkin sepuluh tahun."
Rio memperhatikan ruangan itu.
Sebagian besar kardus diberi label tahun.
Ada juga beberapa koper tua tanpa tanda apa pun.
"Yang penting jangan asal dibuang," pesan Bi Sumi.
"Kalau ada foto atau dokumen penting, pisahkan."
Rio mengangguk.
"Baik."
Pekerjaan dimulai.
Ria membersihkan debu dari rak-rak kayu.
Rio memindahkan kardus satu demi satu agar lantainya bisa disapu.
Sesekali mereka saling melempar candaan kecil untuk mengusir rasa bosan.
Sampai akhirnya...
Sebuah kardus tua yang diletakkan paling bawah roboh ketika Rio mengangkat tumpukan di atasnya.
Bruk.
Isinya berhamburan ke lantai.
Map lusuh.
Album foto.
Beberapa amplop cokelat.
Dan sebuah bingkai foto yang kacanya sudah retak.
Rio segera berjongkok.
"Maaf..."
Ia memungut satu per satu benda yang berserakan.
Saat itulah pandangannya berhenti pada sebuah foto lama.
Seorang pria muda mengenakan kemeja putih berdiri tersenyum di samping seorang perempuan yang sedang hamil besar.
Di belakang mereka terdapat sebuah rumah sederhana.
Rio membeku.
"Ria..."
Adiknya menoleh.
"Ada apa?"
Rio tidak menjawab.
Ia hanya menyerahkan foto itu.
Ria menerimanya.
Beberapa detik kemudian wajahnya ikut berubah.
"Ini..."
Suaranya hampir tak terdengar.
Perempuan dalam foto itu memiliki senyum yang sangat mereka kenal.
Meski usianya jauh lebih muda.
Meski rambutnya masih panjang.
Meski wajahnya belum dipenuhi penderitaan.
Rio perlahan berbisik.
"ini..."