DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #20

Sumpah Diatas Pembalasan

Sejak menemukan album foto di gudang dua hari lalu, tidak ada yang berubah di rumah Hartono.

Setidaknya...

begitulah yang terlihat dari luar.

Hartono tetap berangkat bekerja setiap pagi.

Jessica masih sibuk mengurus perusahaan.

Bram masih mondar-mandir dengan alasan mencari pekerjaan.

Bi Sumi tetap mengurus seluruh isi rumah.

Dan Rio serta Ria menjalankan tugas mereka seperti biasa.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah tenang dua kakak beradik itu, sebuah kepastian telah mengubah segalanya.

Kini mereka tidak lagi merasa bekerja di rumah orang asing.

Pagi itu Ria baru selesai mencuci pakaian.

Karena cuaca cukup cerah, ia memutuskan mandi lebih awal sebelum kembali membantu Bi Sumi memasak makan siang.

Di kamar mandi belakang, air dingin mengalir membasahi tubuhnya.

Untuk sesaat, semua beban pikirannya seolah ikut hanyut.

Namun begitu keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut, pikirannya kembali dipenuhi bayangan album foto yang mereka temukan.

"Ibu..."

gumamnya pelan.

Ia mengenakan pakaian rumah sederhana.

Saat hendak mengancingkan bagian belakang bajunya, suara Bi Sumi terdengar dari dapur.

"Ria!"

"Iya, Bi."

"Tolong ambilkan bumbu di dapur."

"Sebentar bi."

Karena terburu-buru, Ria hanya menyampirkan handuk kecil di bahunya dan belum sempat merapikan kerah bajunya yang sedikit terbuka di bagian belakang.

Ia berlari kecil menuju dapur.

Bi Sumi sedang memotong sayuran ketika menoleh.

"Ambilkan bawang putih di rak..."

Kalimatnya terhenti.

Tatapannya membeku.

Di tengkuk hingga sedikit ke arah punggung belakang Ria terlihat jelas sebuah tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit.

Pisau yang dipegang Bi Sumi terlepas.

Ting...

Lalu disusul piring yang sedang dipindahkannya.

Prang!

Pecah berkeping-keping di lantai.

Ria terkejut.

"Bi!"

"Ada apa?"

Rio yang sedang membersihkan halaman belakang langsung berlari masuk.

"Ada apa Bi..!?"

Bi Sumi tidak menjawab.

Matanya masih menatap tanda lahir itu.

Wajahnya perlahan memucat.

Bibirnya bergetar.

"Mustahil..."

bisiknya.

Ria bingung.

"Bi... kenapa?"

Bi Sumi maju beberapa langkah.

Tangannya gemetar ketika menyentuh bahu Ria.

"Boleh... Bibi lihat?"

Ria mengangguk pelan.

Bi Sumi membuka sedikit kerah baju itu.

Tanda lahir tersebut terlihat semakin jelas.

Air mata Bi Sumi langsung jatuh.

Tangannya menutup mulut sendiri.

"Ya Allah..."

Ria semakin kebingungan.

"Bi... ada masalah apa?"

Tanpa menjawab, Bi Sumi tiba-tiba memeluk Ria erat.

Sangat erat.

Tangis perempuan tua itu pecah begitu saja.

Ria hanya bisa diam.

Pelukan itu terasa berbeda.

Bukan pelukan seorang majikan kepada pembantunya.

Lihat selengkapnya