Sudah hampir dua minggu Rio dan Ria tinggal di rumah Hartono sebagai pegawai tetap.
Dari luar, kehidupan di rumah itu tampak kembali berjalan normal.
Hartono mulai sibuk mengejar proyek yang sempat tertunda.
Jessica berusaha mengembalikan suasana rumah agar tetap tenang.
Bram masih keluar masuk rumah dengan alasan mencari pekerjaan, meski lebih sering pulang membawa alasan daripada hasil.
Hanya Rio yang tahu...
semua ketenangan itu hanyalah permukaan.
Retakan-retakan kecil sudah ada.
Ia hanya perlu membiarkannya melebar.
Pagi itu Ria sedang menyiram bunga di taman belakang.
Rumah mewah itu memiliki halaman yang luas, dipenuhi bunga kamboja, melati, dan beberapa pohon mangga yang sudah berusia puluhan tahun.
Bi Sumi menghampirinya sambil membawa keranjang berisi pakaian yang baru dijemur.
"Rajin sekali kamu merawat tanaman."
Ria tersenyum.
"Ibu dulu suka bunga melati."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Bi Sumi menoleh.
"Ibumu?"
Ria mengangguk.
"Kalau pagi beliau selalu menyanyi sambil menyiram bunga."
Bi Sumi tersenyum tipis.
"Ibumu pasti perempuan yang lembut."
Ria hanya mengangguk.
Pandangannya menerawang jauh.
Tanpa sadar, bibirnya mulai bersenandung pelan.
Lagu lama.
Lagu yang dulu hampir setiap pagi dinyanyikan Ratih ketika membersihkan rumah kecil mereka.
Suara Ria sangat lembut.
Tidak keras.
Hampir seperti bisikan.
Namun nada-nadanya memenuhi halaman belakang.
Di ruang kerja lantai dua...
Hartono yang sedang membaca laporan keuangan tiba-tiba menghentikan aktivitasnya.
Tangannya membeku di atas lembar dokumen.
Ia mendengar lagu itu.
Pelan.
Sangat pelan.
Tetapi cukup jelas.
Dadanya mendadak sesak.
"Mustahil..."
gumamnya.
Lagu itu...
sudah bertahun-tahun tidak pernah ia dengar.
Ratih sering menyanyikannya ketika memasak.
Saat mencuci pakaian.
Saat menidurkan anak-anak.
Hartono menutup map di hadapannya.
Ia berdiri perlahan.
Langkah kakinya membawanya menuju jendela.
Dari balik kaca, ia melihat Ria sedang menyiram bunga sambil terus bersenandung.
Hartono memejamkan mata.
Suara itu...
bukan suara Ratih.
Tetapi iramanya.
Cara mengambil napas.
Cara mengucapkan setiap kata.
Sangat mirip.
Hingga bulu kuduknya meremang.
"Mas?"
Jessica masuk ke ruang kerja tanpa mengetuk.
Hartono buru-buru membuka mata.
"Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Kamu pucat."
Hartono menggeleng.
"Mungkin kurang tidur."
Jessica menghampiri jendela.
"Apa yang kamu lihat?"
Hartono segera menutup tirai.