Tiga hari berlalu sejak Rio mulai menghidupkan akun-akun media sosial palsu.
Ia tidak terburu-buru.
Tidak ada unggahan yang mencolok.
Tidak ada komentar yang mengundang perhatian.
Selama beberapa hari, akun-akun itu hanya digunakan seperti akun milik orang biasa.
Mengikuti halaman berita.
Memberi tanda suka pada beberapa unggahan perusahaan.
Mengikuti teman-teman bisnis Hartono.
Mengikuti komunitas sosial Jessica.
Sesekali mengunggah foto secangkir kopi, pemandangan jalan, atau kutipan motivasi.
Semuanya terlihat alami.
Rio tahu...
kepercayaan di dunia maya dibangun sedikit demi sedikit.
Suatu malam, setelah seluruh penghuni rumah tertidur, Rio kembali membuka laptopnya.
Ria duduk di samping ranjang sambil melipat pakaian.
"Apa malam ini mulai?" tanyanya pelan.
Rio mengangguk.
"Waktunya."
Ia membuka salah satu akun yang menggunakan nama Hartono.
Foto profilnya adalah gambar siluet seorang pria berpakaian jas.
Bukan foto asli.
Namun cukup meyakinkan jika dilihat sekilas.
Rio kemudian membuka akun lain.
Menggunakan nama Jessica.
Ia telah mempelajari cara Jessica menulis status melalui akun aslinya.
Cara menggunakan tanda baca.
Pilihan katanya.
Jam aktifnya.
Bahkan kebiasaan menggunakan emoji.
Semua dicatat.
Semua ditiru.
"Aku tidak akan menyalin persis," gumam Rio.
"Kalau terlalu mirip, orang akan curiga."
Ria hanya memperhatikan.
Semakin lama, ia semakin menyadari betapa telitinya kakaknya.
Unggahan pertama akhirnya muncul.
Bukan tuduhan.
Bukan fitnah.
Hanya sebuah foto interior mobil mewah yang diambil dari internet.
Di bawahnya tertulis,
"Kalau sudah terbiasa hidup nyaman, kadang lupa bagaimana rasanya naik angkutan umum."
Rio membaca ulang kalimat itu.
Sengaja dibuat sederhana.
Namun mengandung nada merendahkan.
Beberapa menit kemudian, ia mengunggah foto lain melalui akun yang memakai nama Jessica.
Kali ini berupa meja makan mewah penuh hidangan.
Keterangan fotonya berbunyi,
"Orang yang bilang uang tidak penting biasanya belum pernah merasakan hidup berkecukupan."
Rio tersenyum tipis.
"Bukan kata-kata yang kasar..."
"Tapi cukup untuk membuat orang kesal."
Ria menatap layar.
"Kalau ada yang percaya?"
"Itulah tujuannya."
Keesokan paginya...
Jessica sedang menikmati kopi sambil membuka ponselnya.
Tiba-tiba ia mengernyit.
"Aneh..."
Hartono yang sedang mengenakan dasi menoleh.
"Kenapa?"
"Temanku mengirim tangkapan layar."
"Apa?"
Jessica menyerahkan ponselnya.
Hartono membaca isi pesan itu.
"Jess, ini akun kamu yang baru ya?"
Di bawahnya terdapat tangkapan layar akun palsu yang baru semalam diaktifkan Rio.
Hartono mengangkat alis.
"Itu bukan akunmu?"
Jessica menggeleng.
"Bukan."
"Laporkan saja."
"Iya."
Jessica langsung menekan tombol laporan.
Ia tidak terlalu memikirkannya.