Seminggu setelah kemunculan akun-akun media sosial palsu itu, kehidupan Hartono mulai berubah.
Bukan karena bisnisnya langsung hancur.
Melainkan karena pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor, ia selalu membuka ponselnya terlebih dahulu.
Mengecek apakah ada unggahan baru.
Apakah ada komentar baru.
Apakah ada orang yang kembali menanyakan akun-akun yang mengatasnamakan dirinya.
Semakin sering ia memeriksa...
semakin gelisah dirinya.
Di kantor, Hartono tidak lagi fokus.
Saat rapat berlangsung, beberapa kali ia kehilangan konsentrasi.
"Pak Hartono?"
Suara direktur utama membuyarkan lamunannya.
"Maaf, Pak."
"Saya ulangi?"
Direktur itu menghela napas.
"Ini sudah ketiga kalinya hari ini."
"Kalau memang ada masalah pribadi, selesaikan dulu."
Hartono hanya mengangguk.
Ia mencoba kembali memperhatikan presentasi.
Namun bayangan unggahan-unggahan media sosial itu terus mengganggu pikirannya.
Sore harinya...
Sebuah telepon masuk dari bagian pemasaran.
"Pak..."
"Ada apa?"
"Beberapa calon klien membatalkan pertemuan."
"Kenapa?"
"Mereka bilang sedang menunggu klarifikasi soal pemberitaan di media sosial."
Hartono memejamkan mata.
"Lagi..."
"Ya, Pak."
"Katanya mereka tidak ingin nama perusahaan ikut terseret."
Hartono menutup telepon tanpa berkata apa-apa lagi.
Ia mulai menyadari bahwa serangan itu perlahan memasuki dunia profesionalnya.
Belum menghancurkan.
Tetapi cukup membuat orang mulai menjaga jarak.
Malam itu...
Suasana meja makan kembali dipenuhi keheningan.
Hartono baru saja pulang dengan wajah lelah.
Jessica mencoba mencairkan suasana.
"Hari ini bagaimana di kantor?"
Hartono tidak langsung menjawab.
"Biasa."
Jessica tahu jawaban itu berarti tidak baik.
Sementara itu Maya tampak beberapa kali menahan mual.
Ia meletakkan sendoknya.
"Wah..."
Maya buru-buru berlari menuju kamar mandi.
Bram langsung menyusul.
Jessica ikut berdiri.
"Maya!"
Tak lama kemudian terdengar suara muntah dari dalam kamar mandi.
Bi Sumi saling berpandangan dengan Jessica.
"Wah..."
"Mungkin..."
Jessica mulai tersenyum.
Keesokan paginya...
Bram dan Maya pergi ke rumah sakit.
Menjelang siang mereka pulang.
Begitu turun dari mobil, wajah Bram tampak berseri-seri.
Ia hampir berlari memasuki rumah.
"Kak!"
Jessica yang sedang membaca dokumen langsung berdiri.
"Ada apa?"
Bram menyerahkan hasil pemeriksaan.
"Maya hamil."
Jessica membelalak.
"Serius?"
Maya mengangguk sambil tersenyum malu.
"Iya."
Jessica langsung memeluk adik iparnya.
"Selamat..."
Bi Sumi yang mendengar kabar itu ikut tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah."
Rio dan Ria yang sedang menyapu halaman hanya memperhatikan dari kejauhan.
Hartono baru tiba beberapa menit kemudian.
Melihat semua orang berkumpul, ia bertanya,
"Ada apa?"
Jessica menghampiri sambil membawa hasil USG.
"Maya hamil."
Hartono menerima kertas itu.
Ia tersenyum tipis.
"Selamat."
Namun senyum itu tidak bertahan lama.
Entah mengapa...
dadanya justru terasa sesak.
Lima belas tahun.