Dua hari setelah Maya dinyatakan keguguran, rumah Hartono berubah menjadi tempat yang dipenuhi kesunyian.
Tidak ada lagi suara tawa dari kamar tamu.
Maya lebih banyak berbaring.
Sesekali menangis diam-diam ketika mengusap perutnya yang kini kosong.
Bram hampir tidak pernah meninggalkan sisi istrinya.
Namun semakin lama...
kesedihannya berubah menjadi kemarahan.
Di sisi lain, Hartono justru semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Gangguan media sosial belum berhenti.
Beberapa relasi bisnis mulai menjaga jarak.
Karyawan kantor mulai membicarakannya diam-diam.
Ditambah lagi pertengkarannya dengan Jessica yang belum benar-benar selesai.
Ia mulai mencurigai semua orang.
Bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.
Pagi itu Rio sudah berada di garasi sejak pukul enam.
Ia sedang melakukan pemeriksaan rutin terhadap seluruh kendaraan.
Tak lama kemudian Hartono datang.
"Rio."
"Iya, Pak."
"Hari ini saya harus ke Bandung. saya akan menyetir sendiri dulu, soalnya mobil ini disana nanti akan digunakan bersama teman-teman kantor saya"
"Rapat dengan investor."
Rio mengangguk.
"Baik pak, Mobil sudah saya siapkan."
Hartono menepuk bahu Rio pelan.
"Kamu memang rajin."
Rio hanya tersenyum tipis.
Namun ketika Hartono pergi ke dalam rumah untuk mengambil berkas...
senyum itu perlahan menghilang.
Ia memandang mobil hitam yang akan dipakai Hartono.
Beberapa detik...
ia hanya berdiri diam.
Lalu menarik napas panjang.
Bayangan masa lalu kembali muncul di kepalanya.
Malam-malam saat hujan di terminal.
Tangisan Ria yang masih kecil.
Kelaparan.
Tidur di emperan toko.
Dadanya bergemuruh.
Semua cerita ibunya.
Semua air mata wanita yang dulu ia anggap hanya luapan kepedihan masa lalu.
perlahan-lahan mengalir, mengeras dan menyatu.
Bayangan itu semakin terlihat nyata..
Hartono…
Ratih…
Rumah besar…
Pengkhianatan…
Pembuangan…
Semua itu berputar tanpa henti.
Rio mengepalkan tangan.
Berjuang menahan dirinya.
"Maafkan aku, Bu..."
gumamnya lirih.
Ia membuka kap mesin.
Tangannya bergerak cepat.
Bukan sebagai montir.
Melainkan seseorang yang memahami setiap bagian kendaraan.
Ia tidak menyentuh mesin.
Tidak pula merusak kemudi.
Perhatiannya tertuju pada sistem pengereman.
Dengan alat sederhana yang selalu ia simpan di kotak perkakas, Rio melonggarkan salah satu sambungan pada saluran minyak rem.
Tidak sampai putus.
Tidak cukup untuk langsung membuat rem gagal.
Tetapi cukup agar tekanan hidrolik perlahan berkurang setelah mobil digunakan beberapa puluh kilometer.
Ia kembali memeriksa pekerjaannya.
Hampir tidak terlihat.
Seolah semuanya masih normal.
Rio menutup kap mesin.
Menghapus sidik jari pada bagian yang disentuhnya.
Lalu kembali menyusun peralatan seperti semula.
Tak ada seorang pun melihatnya.
Pukul delapan pagi...
Hartono keluar rumah.
Jessica mengantarnya sampai teras.
"Hati-hati."
"Iya."
Rio membukakan pintu mobil.
"Silahkan, Pak."
Hartono tersenyum kecil.
"Kalau pulang nanti kita bahas servis mobil satunya."
"Baik, Pak."
Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah.
Rio berdiri memperhatikannya hingga menghilang di tikungan.
Tatapannya kosong.
Tidak ada rasa puas.
Hanya keheningan.
Perjalanan menuju Bandung berlangsung lancar.