DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #25

Pertumpahan Darah di Rumah Mewah

Sesampainya di dalam kamar, Maya membereskan tas yang dibawanya dari rumah sakit.

Ia menemukan map berisi hasil pemeriksaan kandungannya.

Di sela-sela dokumen itu terselip secarik kertas kecil.

Kertas catatan yang diberikan perawat sebelum pulang.

"Jika Ibu menemukan obat, jamu, atau suplemen yang sebelumnya dikonsumsi, mohon dibawa saat kontrol berikutnya."

Maya kembali teringat pada botol obat tanpa label yang sempat dilihatnya yang ditemukan di tempat sampah oleh suaminya Bram.

Ia memang tidak tahu milik siapa.

Namun pikirannya yang masih dipenuhi duka mulai menghubungkan berbagai kejadian.

Saat itu...

Hartono adalah orang pertama yang datang menjenguk.

Hartono pula yang sejak awal tampak tidak senang mendengar dirinya hamil.

Semakin dipikirkan...

dugaan itu semakin terasa masuk akal.

Padahal tidak ada bukti.

Hanya luka yang sedang mencari kambing hitam.

Bram masuk ke kamar.

"Mas..."

Maya menatap suaminya.

"Aku mau tanya."

"Apa?"

"Kalau..."

Maya berhenti.

"Menurutmu botol itu bekas obat apa?"

"Menurutmu?"

"Botol obat yang aneh."

Bram menggeleng.

"Kenapa?"

Maya menunjukan catatan yang ia dapat dari perawat di rumah sakit.

Bram mengambil botol bekas itu, lalu menimbang-nimbnag.. kemudian wajah Bram semakin gelap.

"Aku sudah bilang..."

"Apa?"

"Mas Hartono tidak pernah benar-benar menerima kita."

Maya menunduk.

"Aku tidak punya bukti."

"Mungkin botol ini adalah bukti."

"Kalau benar dia yang menyebabkan anak kita pergi..."

Kalimat itu menggantung.

Namun api kemarahan mulai menyala di mata Bram.


Mobil yang membawa Hartono memasuki halaman rumah menjelang sore.

Lengan kirinya masih di gips. Perban menutupi pelipisnya yang terluka akibat benturan saat kecelakaan. Dokter sebenarnya meminta ia menjalani rawat inap beberapa hari lagi, tetapi Hartono bersikeras pulang.

Bukan karena tubuhnya sudah pulih.

Melainkan karena pikirannya tidak lagi mampu mempercayai siapa pun.

Rio membukakan pintu mobil.

"Hati-hati, Pak."

Hartono turun perlahan.

Tatapannya langsung mengarah ke rumah.

Rumah yang selama bertahun-tahun ia bangun dengan kerja keras.

Kini justru terasa seperti tempat yang penuh ancaman.


Di dalam rumah...

Jessica membantu suaminya duduk di ruang tamu.

"Aku ambilkan obat."

Hartono mengangguk singkat.

Tatapannya terus menyapu ruangan.

Matanya berhenti ketika melihat pintu kamar tamu masih tertutup.

Tempat Bram dan Maya tinggal.

Tangannya mengepal tanpa sadar.

Hartono langsung masuk ruang kerjanya...

Dia memandangi laporan hasil pemeriksaan mobil.

Bengkel resmi mengirimkan foto kerusakan melalui surel.

Teknisi menuliskan satu kalimat yang terus terngiang di kepalanya.

"Sambungan saluran minyak rem tampak pernah dilonggarkan secara manual."

Bukan kerusakan alami.

Bukan keausan.

Seseorang menyentuhnya.

Hartono menutup laptop perlahan.

Yang terlintas di kepalanya hanya satu nama.

Bram.

Ia berdiri.

Meski tubuhnya masih sakit.

Ia berjalan keluar menuju kamar tamu.

Tok...

Tok...

Tok...

Pintu diketuk keras.

Bram membukanya.

"Ada apa?"

Hartono menatapnya tanpa berkedip.

"Kita bicara."

"Bicara apa?"

"Tentang mobilku."

Bram mendengus.

"Lagi?"

"Kamu pikir aku pelakunya?"

Hartono maju satu langkah.

"Berhenti berpura-pura."

"Aku sudah dapat hasil pemeriksaan."

"Bukan kecelakaan."

"Seseorang sengaja merusak rem."

Bram tertawa sinis.

"Lalu?"

"Kamu menuduhku?"

"Aku tidak menuduh."

"Aku yakin."

Bram langsung mendorong dada Hartono.

"Jangan asal bicara!"

Hartono terdorong beberapa langkah karena kondisi tubuhnya masih lemah.

Jessica yang mendengar keributan segera berlari naik.

"Sudah!"

"Kalian jangan bertengkar!"

Namun keduanya sudah tidak lagi mendengar.

"Kenapa kamu lakukan itu?" bentak Hartono.

Lihat selengkapnya