DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #26

Penangkapan Pelaku Pembunuhan

Suara sirene memecah kesunyian malam.

Dua mobil patroli dan sebuah ambulans berhenti di depan rumah Hartono.

Lampu merah dan biru berputar silih berganti, memantulkan cahaya ke dinding rumah yang beberapa jam sebelumnya masih tampak megah dan tenang.

Kini...

rumah itu menjadi tempat kejadian perkara.

Beberapa polisi bergegas masuk.

"Semua mundur!"

"Tidak ada yang menyentuh apa pun!"

Seorang petugas langsung memeriksa tubuh Bram.

Beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan kepada rekannya.

"Tidak ada denyut nadi."

Petugas medis hanya bisa menutup tubuh Bram dengan kain putih.

Maya menjerit histeris.

"Brraaaam!"

Jessica yang baru sadar dari pingsannya kembali menangis ketika melihat tubuh adiknya sudah ditutup kain.

"Tidak..."

"Ini bukan kenyataan..."

Bi Sumi memeluk Jessica yang tubuhnya gemetar hebat.

Sementara Rio dan Ria berdiri di sudut ruang tamu.

Keduanya memilih diam.

Seorang penyidik menghampiri Hartono.

Pria itu masih terduduk di lantai.

Tangannya dipenuhi darah.

Tatapannya kosong.

"Pak."

Hartono perlahan mengangkat kepala.

"Apakah Bapak yang melakukan penusukan?"

Beberapa detik ia tidak menjawab.

Lalu mengangguk pelan.

"Iya."

"Tapi..."

"Saya hanya membela diri."

Penyidik mencatat keterangannya.

"Apa korban membawa senjata?"

Hartono terdiam.

"Tidak."

"Apakah korban mengancam nyawa Bapak?"

Hartono menunduk.

"Dia menyerang saya."

"Itu saja."

Penyidik saling berpandangan dengan rekannya.

Mereka kemudian mengambil pisau yang masih berada di lantai sebagai barang bukti.

"Pak Hartono..."

"Kami harus membawa Bapak untuk dimintai keterangan."

Hartono tidak melawan.

Ia perlahan berdiri.

Tangannya langsung diborgol.

Suara rantai borgol bergema pelan di ruang tamu.

Jessica menangis semakin keras.

"Mas..."

Hartono menoleh.

Untuk pertama kalinya malam itu...

air mata jatuh dari wajahnya.

"Maaf..."

Hanya satu kata.

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada penjelasan.

Hanya penyesalan yang datang ketika semuanya telah terlambat.

Saat Hartono digiring menuju mobil polisi...

Beberapa wartawan yang entah dari mana sudah mulai berdatangan.

Kamera langsung mengarah ke wajahnya.

"Pak Hartono!"

"Benarkah Bapak membunuh adik ipar sendiri?"

"Apakah motifnya masalah warisan?"

"Benarkah selama ini keluarga Bapak tidak harmonis?"

Lampu kilat kamera menyala bertubi-tubi.

Hartono tidak mengangkat kepala.

Ia masuk ke mobil polisi tanpa sepatah kata.

Pintu ditutup.

Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah.


Rio memperhatikan kendaraan itu hingga menghilang di ujung jalan.

Di dalam mobil itulah...

untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lalu...

Hartono benar-benar kehilangan segalanya.

Lihat selengkapnya