DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #27

Wasiat Ibu

Malam semakin larut.

Rumah yang biasanya dipenuhi suara percakapan kini hanya menyisakan keheningan.

Setelah polisi pergi dan jenazah Bram dibawa ke rumah duka, setiap sudut rumah terasa asing.

Jessica mengurung diri di kamar.

Maya memilih tetap berada di ruang tamu, memeluk foto terakhir bersama suaminya.

Bi Sumi duduk menemani Rio dan Ria di kamar kecil belakang.

Di atas meja kayu tua...

map peninggalan Ratih masih terbuka.

Tidak seorang pun berani menyentuh amplop bertuliskan "Untuk Marco dan Maria."

"Bi..."

Ria mengusap air matanya.

"Ibu benar-benar menulis ini?"

Bi Sumi mengangguk pelan.

"Dua hari sebelum beliau pergi meninggalkan rumah."

Rio mengangkat kepalanya.

"Maksud Bi..."

"Ibu sudah tahu Ayah akan mengusirnya?"

Bi Sumi menarik napas panjang.

"Tidak."

"Tapi Ratih merasa semuanya sudah berubah."

"Pak Hartono mulai jarang pulang."

"Sering marah tanpa alasan."

"Dan semakin sering bertengkar."

"Ratih pernah bilang..."

Bi Sumi berhenti sejenak.

"'Kalau suatu hari aku tidak ada, tolong jangan biarkan anak-anakku membenci ayahnya.'"

Rio langsung memejamkan mata.

Kalimat itu terasa seperti pisau.

Perempuan yang disakiti sedemikian rupa...

justru masih memikirkan agar anak-anaknya tidak hidup dalam kebencian.

Bi Sumi kembali melanjutkan satu kalimat yang sebenarnya tidak ingin ia ucapkan.

“Tapi.., ada satu kata yang paling Bibi ingat di setiap pertengkaran mereka… Selingkuh“

Rio dan Ria hanya menunduk..

Dengan tangan gemetar...

Rio membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas yang sudah menguning.

Tulisan tangan Ratih masih terlihat rapi.

Ria membaca pelan.

"Untuk Marco dan Maria..."

Suara Ria mulai bergetar.

"Kalau kalian membaca surat ini, berarti kalian sudah cukup besar untuk memahami hidup."

Air mata kembali mengalir.

"Ibu tidak tahu apakah saat itu ibu masih bersama kalian atau tidak."

"Yang ibu inginkan hanya satu."

"Jangan pernah membalas kebencian dengan kebencian".

Rio menutup matanya.

Tangannya semakin kuat menggenggam surat itu.

Ria melanjutkan membaca.

"Ayah kalian bukan orang jahat ketika ibu pertama kali mengenalnya."

"Beliau pernah menjadi laki-laki yang sangat mencintai keluarga."

"Kalau suatu hari beliau berubah..."

"Percayalah, setiap manusia bisa tersesat."

Bi Sumi menangis tanpa suara.

Kalimat-kalimat itu masih ia ingat.

Ratih memang menulis surat itu sambil terus menangis.

Namun sedikit pun ia tidak pernah menuliskan kebencian kepada suaminya.

Rio mengambil alih surat itu.

Ia membaca bagian berikutnya dalam hati.

"Kalau suatu hari kalian bertemu ayah..."

"Jangan balas dendam atas nama ibu."

"Karena balas dendam hanya akan membuat luka berpindah kepada orang lain."

Jantung Rio berdetak semakin keras.

Kata-kata itu seolah sedang berbicara langsung kepadanya.

Padahal...

semua yang ia lakukan selama beberapa bulan terakhir...

adalah membangun balas dendam.

"Tidak..."

bisiknya pelan.

Ria menoleh.

"Kak..."

Rio tidak menjawab.

Ia kembali membaca.

"Kalau memang Tuhan ingin menghukum seseorang..."

"Biarkan Tuhan yang melakukannya."

"Tugas kalian hanya menjadi manusia yang lebih baik daripada kami."

Ruangan kembali sunyi.

Hanya suara tangis pelan Bi Sumi yang terdengar.

Di lembar terakhir...

Ratih menuliskan sesuatu yang membuat ketiganya membeku.

"Rumah kecil kita memang sudah dijual."

"Tetapi sawah peninggalan kakek di Kampung Cibuntu tidak pernah ibu jual."

"Sertifikatnya ibu titipkan kepada Bi Sumi."

Lihat selengkapnya