DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #28

Pengakuan yang Terlambat

Dua hari berlalu sejak Hartono ditahan.

Rumah megah yang selama bertahun-tahun menjadi lambang keberhasilan keluarga itu kini terasa seperti bangunan kosong.

Tidak ada lagi suara rapat bisnis.

Tidak ada lagi tamu yang datang.

Beberapa wartawan masih sesekali menunggu di depan gerbang, berharap mendapatkan komentar dari keluarga.

Namun pintu rumah tetap tertutup.

Semua orang memilih berdiam diri.


Sementara di dalam jeruji besi...

Hartono mulai memutar memori lamanya.

Tentang Ratih.

Tentang kemiskinan.

Tentang ambisi yang membuatnya meninggalkan keluarga.

Tentang pertemuannya dengan Jessica.

Tentang keputusan-keputusan yang saat itu ia anggap benar.

Namun setiap kalimat yang keluar...

terdengar seperti pengakuan dosa.

Hatinya merintih...

"Aku pikir..."

"Kalau aku sukses..."

"Semuanya akan selesai."

"Ternyata tidak."

Hartono merasakan dadanya teramat sesak.


Sementara di luar lapas..

Langit Jakarta masih diselimuti mendung tipis.

Rio menggenggam map cokelat peninggalan ibunya erat-erat.

Di sampingnya, Ria berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Bi Sumi ikut mengantar mereka sampai gerbang lembaga pemasyarakatan.

Sebelum mereka masuk, perempuan tua itu memegang kedua tangan mereka.

"Kalau hati kalian sudah terlalu berat..."

"...tidak apa-apa kalau memilih memaafkan."

Rio tersenyum hambar.

"Mema'afkan bukan berarti melupakan, Bi."

"Dan luka kami..."

"...terlalu panjang untuk selesai dalam sehari."

Bi Sumi mengangguk pelan.

Air matanya kembali jatuh.

"Pergilah..."

"Setidaknya..."

"...biarkan dia mengetahui siapa anak-anak yang selama ini dicarinya dalam penyesalan."

Di ruang tahanan...

Hartono duduk bersandar di dinding.

Sejak ditahan, ia hampir tidak pernah tidur.

Setiap kali memejamkan mata...

wajah Bram muncul.

Disusul wajah Ratih.

Lalu dua anak kecil yang menangis ketika digendong ibunya meninggalkan rumah.

Seorang petugas menghampiri.

"Pak Hartono."

"Iya."

"Ada yang ingin bertemu."

Hartono mengangkat kepala.

"Siapa?"

Pintu besi terbuka.

Suara gesekan rantainya menggema panjang.

Seorang sipir mengantar Rio dan Ria menuju ruang kunjungan.

Ruangan itu dipisahkan kaca tebal.

Di tengahnya terdapat telepon.

Rio belum pernah merasa sejauh ini dengan seseorang.

Padahal...

Orang itu hanya berjarak beberapa meter.

Beberapa menit kemudian...

Hartono masuk.

Tubuhnya jauh berbeda.

Rambutnya kusut.

Wajahnya kusam.

Tatapan matanya kosong.

Namun ketika melihat Rio dan Ria...

Ia langsung membeku.

"Hah..."

"... kalian..."

Hartono perlahan duduk.

Tangannya gemetar mengambil gagang telepon.

Rio melakukan hal yang sama.

Untuk beberapa detik...

Tak seorang pun berbicara.

Hanya suara napas yang saling berkejaran.

Hartono lebih dulu memecah keheningan.

"Kalian..."

"...datang untuk menertawakanku?"

Rio menggeleng pelan.

"Tidak."

"Lalu..."

"...untuk apa?"

Rio membuka map warisan Ratih.

Satu demi satu dokumen dikeluarkan.

Akta kelahiran.

Surat nikah.

Sebuah Album foto keluarga

Dan sebuah foto usang.

Foto seorang perempuan muda sedang menggendong bayi perempuan dan disampingnya ada seorang anak laki-laki usia dua tahun.

Lihat selengkapnya