DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #30

Rumah Singgah Dua Nyawa (EPILOG)

Enam bulan kemudian.

Rio mewujudkan cita-citanya untuk punya bengkel mobil sendiri, dengan modal warisan dari ibunya. 

Ria dan Bi Sumi membuka Rumah Makan di Halaman Rumah mereka.

Matahari pagi menyinari halaman rumah yang dahulu begitu sunyi.

Namun kini...

Halaman itu dipenuhi suara tawa.

Puluhan anak berlarian mengejar bola.

Beberapa anak perempuan sedang menggambar di teras.

Ada yang belajar membaca.

Ada pula yang duduk mengelilingi Bi Sumi sambil mendengarkan dongeng.

Rumah yang dulu dipenuhi pertengkaran...

Kini dipenuhi kehidupan.

Di pagar depan, sebuah papan kayu besar telah dipasang.

RUMAH SINGGAH BUNDA RATIH

"Tak Ada Anak yang Pantas Ditinggalkan."

Rio berdiri memandang tulisan itu cukup lama.

Ria datang membawa dua gelas teh hangat.

"Masih suka melamun?"

Rio tersenyum kecil.

"Bukan melamun."

"Cuma sedang mengingat."

"Mengingat apa?"

Rio menatap halaman.

"Dulu..."

"...aku pernah tidur di emperan toko sambil berharap ada seseorang yang datang menjemput."

Ria ikut memandang anak-anak yang sedang bermain.

"Aku juga."

"Tiap malam aku selalu berdoa..."

"...semoga besok Ayah datang."

Rio menghela nafas panjang.

"Sayangnya..."

"...yang datang hanya matahari."

Mereka berdua tertawa kecil.

Tawa yang terasa asing.

Karena selama bertahun-tahun...

Mereka lupa bagaimana rasanya tertawa tanpa rasa takut.

Bi Sumi keluar dari dapur.

Tangannya masih membawa nampan berisi pisang goreng.

"Marco!"

"Maria!"

Rio dan Ria saling menatap.

Mereka tersenyum.

Nama itu kini tidak lagi menghadirkan luka.

Melainkan pengingat...

bahwa ibu mereka pernah mencintai mereka sepenuh hati.

“Rio dan Ria aja Bi..”

Bi Sumi membalas senyum mereka.

"Ayo makan dulu."

"Nanti anak-anak ikut berebut."

Belum sempat mereka duduk...

Seorang anak laki-laki kecil berlari menghampiri Rio.

Usianya mungkin baru tujuh tahun.

Pakaiannya lusuh.

Di wajahnya masih terlihat bekas lebam.

"Bang Rio..."

"Iya?"

"Boleh tanya?"

Rio berjongkok.

"Apa?"

Anak kecil itu menggigit bibirnya.

"Kalau ayahku nggak pernah datang..."

"...apa aku anak nakal?"

Lihat selengkapnya