Aroma obat-obatan menguar pekat di udara, menyamarkan bau kematian yang perlahan merayap ke setiap sudut kamar mewah itu. Di atas ranjang besar berukir jati, terbaring Salman. Tubuh pria paruh baya yang dulu tegap dan ditakuti oleh banyak orang, kini layu, dimakan oleh penyakit yang tak bisa disembuhkan oleh seluruh kekayaan yang ia miliki. Alat-alat medis berbunyi ritmis, menjadi satu-satunya pertanda bahwa sang juragan tanah yang kaya raya itu masih bernapas.
Matias, anak lelaki Salman, berdiri di sisi ranjang dengan wajah datar. Pakaian hitamnya yang rapi kontras dengan kulit pucat ayahnya.
Dua hari lalu, tepat sebelum kondisinya memburuk secara drastis, Salman telah memanggil pengacaranya. Di hadapan notaris dan di bawah sisa-sisa kesadarannya yang mulai pudar, Salman menyerahkan seluruh kekayaannya yang tak terhitung jumlahnya kepada Matias. Bukan kepada istri mudanya, bukan pula kepada kerabat yang lain. Semuanya jatuh ke tangan Matias. “Matias.” Suara Salman terdengar serak, lebih mirip gesekan ranting kering di musim kemarau. Matanya yang cekung menatap Matias dengan tatapan emosional. Seolah-olah, mengulur waktu pada kematian yang sebentar lagi menjemput nyawanya.
Matias membungkuk, mendekatkan telinganya ke bibir ayahnya yang tampak pucat dan berkerut. "Ya?"
“Pergilah ke kampung itu,” bisik Salman, setiap kata seolah menguras tenaga terakhirnya. “Urus tanah, dan lahan perkebunan milikku di sana. Semuanya. Harus kau pegang. Jangan biarkan siapa pun mengambilnya.”
Matias mengangguk pelan. “Aku mengerti, Ayah. Aku akan mengurusnya.”
“Dan satu lagi ... jangan jadi iblis,” ucap Salman sebelum mati.
Salman, sang juragan tanah yang serakah dan berkuasa, menghembuskan napas terakhirnya, meninggalkan kekayaan besar yang selama ini ia kuasai. Kematian itu disambut dengan isak tangis yang terdengar sumbang dari kerabat dekat, atau orang munafik, yang pernah menjadi musuhnya dahulu. Namun bagi Matias, kematian ayahnya adalah awal dari kekuasaan mutlak.
Malam setelah Salman dimakamkan, suasana rumah besar itu terasa lebih dingin dan sepi dari biasanya. Sebelum Matias berbaring di atas ranjangnya, ia berbicara dengan seseorang di telepon. “Besok kita berangkat ke sana. Ada seseorang yang ingin aku temui, sebelum aku ke luar negeri. Sekalian, kau urus warisanku.”
“Baik, Pak.”
Salman menutup teleponnya. Ia menatap langit-langit kamar. Rasa lelah setelah mengurus prosesi pemakaman seharusnya membuatnya tertidur pulas, tetapi matanya enggan terpejam. Ketika akhirnya ia terlelap, kegelapan malam tidak memberinya kedamaian, melainkan mengantarnya pada sebuah alam mimpi yang mengerikan.
Dalam mimpinya, Matias tidak berada di kamarnya yang nyaman. Udara terasa luar biasa panas, mencekik paru-parunya. Ia mendapati dirinya berdiri di tengah sebuah tanah lapang yang gersang. Asap hitam pekat membumbung tinggi ke langit yang berwarna merah darah. Matias mencoba bergerak, tetapi kakinya terasa seperti terpaku ke tanah. Panik mulai menjalar saat ia menyadari sekelilingnya.
Api.