DENDAM LUKA & CINTA

Donny Sixx
Chapter #2

Rumah Tua Dan Pohon Kering Di Lahan Kosong

Perjalanan meninggalkan hiruk-pikuk kota metropolitan memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang angkuh berlapis kaca perlahan memudar di kaca spion mobil SUV hitam yang melaju membelah jalan raya. Sebagai gantinya, hamparan pepohonan liar, bukit-bukit yang mulai menguning akibat musim kemarau, dan jalanan aspal yang tak lagi mulus menyambut kedatangan mereka. Suasana di dalam kabin mobil itu terasa sangat sunyi, seakan udara dingin dari pendingin ruangan ikut membekukan kata-kata di tenggorokan dua pria yang berada di dalamnya.

Matias duduk bersandar di kursi penumpang sebelah kiri, matanya menatap kosong ke arah luar jendela, namun pikirannya mengembara jauh ke masa lalu. Kematian ayahnya, Salman, yang baru beberapa hari berlalu masih menyisakan beban tak kasat mata di kedua pundaknya. Bukan kesedihan kehilangan sosok ayah yang membebaninya, melainkan wasiat dan kekuasaan yang kini jatuh ke tangannya. Salman adalah pria yang kejam, otoriter, dan tak kenal ampun. Matias tahu betul bagaimana ayahnya membangun kerajaan bisnis dan tuan tanahnya: dengan darah dan penindasan. Dan semalam, mimpi buruk itu—api yang berkobar, wajah-wajah hancur yang menatapnya menuntut balas—seolah menjadi peringatan bahwa dosa-dosa ayahnya kini menjadi warisan yang harus ia tanggung.

Di kursi kemudi, Seth memegang setir dengan kedua belah tangannya yang kokoh. Ia mengemudi dengan sangat tenang, matanya fokus menatap jalanan yang mulai menyempit dan berbatu. Sesekali, ekor mata Seth melirik melalui kaca spion tengah, mengamati raut wajah Matias yang tegang dan gelisah. Seth mengenali ketakutan itu. Namun, di balik wajah datar yang selalu ia tunjukkan sebagai seorang asisten setia, tersembunyi ombak emosi yang jauh lebih gelap. Bagi Seth, perjalanan ini bukanlah sebuah tugas rutin. Ini adalah sebuah napak tilas, sebuah perjalanan pulang menuju titik awal di mana luka paling sakit dalam hidupnya ditorehkan.

Matias lalu berdeham, untuk memecah kesunyian. “Muka pak Matias kelihatan pucat,” katanya.

“Hah? Apa,” bingungnya seperti orang kikuk.

“Muka pak Matias pucat.”

“Ah, masa?”

“Iya. Soalnya, dari tadi aku lihat pak Matias melamun terus. Barangkali ada yang ketinggalan?”

“Tidak kok, tidak ada.” Matias kelihatan berusaha mengelak.

“Atau kita singgah sarapan dulu, pak. Kebetulan, di daerah sini rumah makannya banyak,” sarannya saja.

“Belum kepikiran makan sih. Kamu saja yang singgah. Biar aku tunggu di mobil.”

“Tidak pak, terima kasih. Tadi pagi, aku sudah sarapan di rumah.”

“Oh.” Matias mengangguk.

Seketika Matias melemparkan topik lain, mencoba melupakan bayang-bayang mimpi buruk semalam yang masih mengganggu pikirannya. “Eh, iya. Nanti, kamu ikut aku ke luar negeri.”

Mendadak Seth agak terkejut. “Ke luar negeri, pak?”

“Iya.”

“Tidak usah deh, pak. Aku jagain pabrik saja di sini.”

“Hmm. Kau kan asisten aku. Harus ikut dong.”

Lihat selengkapnya