DENDAM LUKA & CINTA

Donny Sixx
Chapter #4

Saudari Tiri Yang Mempesona


Seth kemudian ikut bicara, “Pak Matias baru saja mewarisi semua aset Alm. Pak Salman. Kami datang ke sini untuk mengurus surat-surat tanah dan perkebunan.”

Amara mengangguk pelan, wajahnya sedikit serius. “Pasti banyak yang harus diurus. Bapak dulu jarang sekali pulang ke kampung. Orang-orang di sini kadang takut sama nama Bapak.”

Matias menyipitkan mata. “Takut? Kenapa?”

Amara melirik Aram sekilas sebelum menjawab. Amara melanjutkan, “Bapak kan juragan besar. Banyak tanah yang dikuasai. Ada yang bilang beberapa warga dipaksa menjual tanahnya dengan harga murah. Tapi aku tidak terlalu tahu detailnya seperti apa, abang.”

Seth tersenyum tipis. “Aku akan mengurus semuanya dengan baik. Soalnya, pak Matias ingin kampung ini lebih maju.”

Amara tersenyum lagi, mencoba mencairkan suasana. “Bagus dong. Kalau begitu, abang harus tinggal lebih lama di sini. Biar aku yang ajak keliling kampung. Ada banyak tempat yang dulu abang suka main waktu kecil.”

Matias tertawa pelan, jarang sekali ia tertawa. “Kamu masih ingat, dulu waktu kita kecil, kamu suka ikut aku main di sungai.”

“Masih. Abang dulu suka angkat aku di pundak kalau aku sudah lelah,” kenang Amara sambil tertawa. “

“Aku kira kamu sudah lupa.”

“Mana mungkin aku lupa, abang.”

“Masa kecil yang indah,” kata Matias, “tapi sayang, kakakmu jarang main sama kita.”

“Aku lebih suka main di ladang. Temenin ibu nanam jagung dan bersihin pala. Karena waktu ibu masih hidup, dia gemar bertani,” kenang Aram mengingat almarhum ibunya.

“Semoga tenang ibu kalian di sana,” ucap Matias.

“Bapak juga,” balasnya.

Matahari tampak perlahan condong ke barat, itu pertanda, hari mulai sore.

“Amara, kau dan Sisilia ke dapur. Masakin buat abang kita,” suruh Aram.

“Abang jangan dulu pulang ya. Aku mau masak.”

“Masak yang enak.”

Amara tersenyum dan berlalu ke dapur. Di sebelah Matias, Seth tampak cemas. Ia mencoba menghubungi seseorang, tapi tidak direspon. Seth kemudian mendekat ke Matias dan berbicara pelan. “Pak, hand phone Petrus tidak aktif. Ada baiknya, kita lihat keadaan rumah. Takutnya, ada maling yang masuk.”

Sepintas Matias seperti memikirkan sesuatu. “Iya, kita ke rumah sekarang.”

Matias lalu berpamitan pada Aram. “Aram ... nanti lain kali saja kita makan sama-sama.”

“Abang sudah mau pulang?”

“Iya. Ini ... dari tadi pak Petrus tidak bisa dihubungi. Hand phone nya mati. Aku khawatir rumah Bapak dimasuki orang. Soalnya, banyak dokumen penting yang masih disimpan di dalam kamar Bapak.”

Lihat selengkapnya