Pagi hari di desa itu datang dengan kabut tebal yang menyelimuti setiap jengkal tanah, membuat rumah-rumah tampak seperti bayang-bayang kelabu yang mengapung di atas awan. Seth adalah orang pertama yang keluar dari rumah besar itu. Ia membutuhkan udara segar untuk menenangkan pikirannya yang sejak semalam terusik oleh ingatan-ingatan masa kecil yang kembali menyakitkan. Luka bakar di pundak kirinya terasa berdenyut, sebuah sensasi yang selalu muncul setiap kali ia berada di dekat orang-orang yang memiliki darah yang sama dengan penyiksanya di masa lalu.
Ia berjalan menuju gerbang, menyalakan sebatang rokok, dan membiarkan asapnya lenyap ditelan kabut. Namun, langkahnya terhenti seketika saat ia mendongak. Di ujung jalan, tak jauh dari posisi berdirinya, sosok itu muncul lagi. Perempuan yang kemarin ia lihat di tengah jalan, perempuan yang berdandan seperti kuntilanak itu, kini berdiri tegak di tengah jalan yang berkabut. Gaun putihnya tampak lebih kotor, seolah telah diseret melalui lumpur. Namun, yang membuat Seth mematung bukan penampilannya, melainkan senyumnya. Itu bukan senyuman manusia yang ramah. Senyum lebar yang dipaksakan, memperlihatkan deretan gigi yang tampak tak terawat, dengan tatapan mata yang kosong namun menusuk hingga ke jantung. Senyuman mengandung sesuatu yang setan pun mungkin akan merasa ngeri.
“Mau apa kau datang ke sini?” tanya Seth dengan suara tinggi.
Si perempuan tidak menjawab. Ia hanya terus tersenyum, kepalanya sedikit miring ke kanan, memberikan kesan bahwa ia sedang menikmati sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah belakang Seth. Pak Petrus muncul dengan napas yang memburu. Tanpa basa-basi, Pak Petrus meneriaki si perempuan.
“Pergi kau, Nora! Jangan berani-berani mendekati rumah ini! Pergi!”
Si perempuan tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam tua. Ia menatap Seth sekali lagi, seolah sedang menghafal setiap inci wajah pria itu, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menghilang ke dalam kabut dengan gerakan yang tidak wajar, hampir seperti melayang. Seth menatap Pak Petrus dengan tatapan meminta penjelasan. “Dia itu siapa, pak? Kemarin kami berpapasan dia di tengah jalan. Aneh ... kayak ada dendam sama kita.”
“Namanya Nora. Sudah lama dia seperti itu. Biasanya dia hanya mondar-mandir di tengah kampung saja, tidak pernah berkeliaran sejauh ini. Aku tidak tahu kenapa dia berani datang ke sini sekarang,” pungkas pak Petrus.
“Kemarin juga dia bawa pisau sambil melototin kami,” sahut Seth dingin.
Pak Petrus membuang napas pendek dan menggeleng. “Ya, dia sering melakukan hal-hal aneh. Wajar, dia itu perempuan odgj di kampung ini.”
“Apa sudah lama dia menderita gangguan jiwa?”
Seketika gelagat pak Petrus kelihatan seperti menyembunyikan sesuatu. “Sudahlah, pak Seth, jangan pedulikan dia. Masuklah, sebentar lagi aku bawakan sarapan pagi untuk pak Seth dan pak Matias.”
Seth sedikit curiga pada pak Petrus, namun segera berlalu seiring matahari mulai tinggi. Ia mematikan puntung rokok yang masih setengah hidup di tanah, menyepaknya dengan sepatu, lalu melangkah masuk kembali ke dalam rumah dengan perasaan ganji. Tak lama kemudian, sesudah ayam berkokok yang kesekian kali, Matias sudah duduk dengan cangkir kopi di tangannya. Wajahnya terlihat segar, tapi sifatnya sama saja seperti biasanya. Pak Petrus tengah menyiapkan sarapan di atas meja.
“Sepertinya rumah ini butuh tukang masak,” kata Matias, “Ini makanan tadi malam. Apa tidak ada makanan yang baru?”
“Maaf pak. Saya memang bukan koki di sini. Saya cuma penjaga rumah. Yang saya masak, itu yang saya tahu,” katanya merendah, “tapi kalau mau, nanti saya ke warung buat beliin sarapan.”
Akan tetapi, Seth ternyata telah lebih dulu menyantap makanan tersebut, membuat Matias menaruh kembali sendok yang baru saja ia pegang, sebab nafsu makannya telah lenyap, dan hampir pula ia makan dengan kotoran cicak yang belum lama mendarat ke piring dari atas plafon.
“Selesai makan, antarkan aku ke rumah Amara. Kemudian kau pergi temui Jafar di rumahnya. Aku ingin surat-surat tanah warisan Bapakku segera diselesaikan. Semuanya,” kata Matias.
Seth mengangguk patuh. “Baik, pak.” Matias lalu beranjak dari situ meninggalkan Seth sendirian.