Jafar bergegas ke depan dan melabrak si gadis dengan kata-katanya yang kasar. “Sialan kau, bocah tengik! Berani-beraninya kau muncul di sini, pergi!” teriak Jafar.
Seth lalu mendekat ke Jafar. “Maaf pak, bukannya mau mengganggu. Ini kenapa ya pak?”
Jafar menyegir dan berkata, “Pak Seth mending pulang. Ini urusan saya. Kerjakan saja apa yang diperintah pak Matias. Demi kebaikan pak Seth sendiri.” Jafar tertawa kecil. Seth mengerutkan dahi, terdiam sebentar, merasa ada yang janggal pada wajah Jafar yang dipaksa, seolah-olah itu hanya sebuah masalah kecil.
Tak mau membuat masalah, Seth mengalah. “Iya pak, saya pulang dulu. Permisi,” ucap Seth.
“Iya. Hati-hati.”
Seth pun mencoba tidak melirik si gadis sampai ia masuk ke dalam mobil. Melihat si gadis masih ngotot tidak mau pergi dari rumahnya, Jafar makin naik darah. “Kurang ajar, sudah kusuruh pulang, masih saja kau keras kepala!”
“Mana uang Bapak aku!” balas si gadis dengan nada tinggi. “Aku mau uang Bapak aku. Ibuku lagi sakit. Kami perlu uang itu. Tolong bayar.” Air mata si gadis menjuntai di dagu.
“Tunggu di sini,” kata Jafar sambil berbalik badan dengan langkah seribu, wajahnya garang, menuju ke belakang. Namun, bukannya mengambil uang, Jafar malah mengambil satu ember air bekas cuci baju.
Di dalam mobil, Seth yang barus saja menyalakan mobil, sampai terkejut ketika menyaksikan, Jafar menyiram si gadis dari muka pintu. Namun si gadis tampak diam dan tak membalas.
“Pergi, cepat pergi! Dasar pengemis sialan!” maki Jafar lagi.
Akhirnya si gadis pergi. Ia menangis tersedu-sedu dan berlari keluar dari halaman rumah Jafar sambil sesekali menoleh ke arah mobil Seth dengan pandangan yang menyayat hati. Seth terdiam di dalam mobil, menatap si gadis yang berlari hingga ke ujung jalan, lalu lenyap di balik tikungan, di bawah pohon kersen. Ada sesuatu pada diri si gadis yang membuatnya merasa terusik. Ia tidak tahu mengapa Jafar bisa sekejam itu pada seorang remaja. Seth mengabaikan rasa penasarannya untuk sesaat dan menjalankan mobil.
Sementara itu, di sisi lain kampung, Matias dan Amara berjalan menyusuri jalan setapak di antara sawah. Matahari sudah agak tinggi. Mereka tampak serasi sambil bercerita. Matias sesekali menatap wajah Amara dari samping. Kecantikan saudari tirinya itu membuatnya sulit untuk berkonsentrasi.
“Abang masih ingat jalan ini?”
“Kalau tidak salah, ini kan jalan ke tempat mandi, di pinggir sungai.”
“Dulu Bapak sering ajak kita mandi sambil main perahu,” Amara tersenyum. “Setelah remaja, jadi tempat favorit kita, main-main bareng anak kampung di sini.”
“Sekarang mereka di mana? Kenapa, pas aku datang, tidak ada satu dari mereka yang aku lihat.”
Amara menunduk dan berkata, “Sebagian ikut orang tuanya pindah ke kampung lain dan sisanya, sudah lama meninggal.”
Sesaat Matias terdiam mendengar kabar buruk itu. Tiba-tiba mereka berpapasan dengan seorang lelaki kusut. Rambutnya panjang dan acak-acakan, pakaiannya kotor, dan matanya merah. Lelaki itu berhenti sejenak, menatap Matias dengan tatapan garang, lalu meludah tepat di depan kaki Matias.
Matias langsung menegang. Tangannya mengepal. “Hei!”
Amara segera memegang lengan Matias. “Tidak usah ladeni dia. Biarkan saja.”