DENDAM LUKA & CINTA

Donny Sixx
Chapter #7

Manusia Biadab

Sesaat, Seth memandang ke atas dan berkata pada Feodora, “Kelihatannya mau hujan. Pulang dan rawat ibu kamu. Besok, antar dia ke rumah sakit.” Feodora mengangguk mengiyakan.

Langit di atas kampung berubah dengan cepat setelah Seth meninggalkan Feodora. Awan hitam berkumpul tebal, menekan seolah ingin menelan seluruh pepohonan pisang dan atap-atap rumah kayu. Angin kencang berhembus, membawa debu dan daun-daun kering yang berputar di udara. Tidak lama kemudian, hujan deras mengguyur tanpa ampun. Butir-butir air sebesar biji jagung menghantam tanah, menciptakan genangan di setiap lubang jalan setapak.

Di rumah kepala desa, Jafar dimarahi istrinya karena Feodora terus-menerus datang menagih uang Bapaknya. “Kamu bilang sudah urus tu anak sialan! Kenapa dia masih balik, datang minta-minta di rumah, huh?” bentak istri Jafar.

“Kemarin sudah kuusir dan kuancam, tapi dia masih keras kepala.”

“Aku tidak mau tahu!” teriak istrinya. “Pokoknya sebelum aku balik ke rumah, masalah kita dengan anak itu harus selesai.”

“Iya, iya, tenang saja, mah. Beres,” kata Jafar supaya istrinya berhenti marah.

“Entah kamu mau sewa orang buat culik dia atau bunuh pun aku tidak peduli! Yang penting kelar. Kalau tidak, kamu sudah tau kan ... kita cerai!”

“Iya, iya, mah, iya. Nanti kusewa pembunuh buat habisin tuh anak supaya mamah puas.”

“Bagus.”

“Tapi siapa yang bilang sama mamah, sih?”

“Kenapa, mau cari tahu?”

“Ti-tidak, mah.” Jafar terkekeh kecil.

“Ingat, cepat selesain.”

“Iya mah.”

Istrinya menutup telepon, Jafar menggebrak meja. “Kurang ajar!” umpatnya, “Pasti si kepala dusun sialan itu yang ngasih tahu ke istri aku.” Wajahnya memerah. “Tunggu saja kamu gepeng setelah masalahku sama tu keluarga pengemis selesai,” katanya sendiri merujuk ke kepala dusun itu. “Mending kulabrak sendiri tu anak dan ibunya, dari pada sewa pembunuh, buang-buang duit. Tinggal kutelpon saja si polisi korup itu dan masalah beres.” Jafar mengendus. “Begitu kok repot”

Ia mengambil jas hujan yang tergantung di dinding, mengenakannya dengan kasar, lalu keluar menerjang hujan. Jafar tahu betul kapan ia harus bergerak. Mumpung badai, semua orang takut untuk beraktivitas di luar. Rumah Feodora terletak di ujung kampung, hampir tersembunyi di balik deretan pohon pisang yang basah kuyup. Jafar tiba di sana dengan mobilnya, wajahnya merah padam karena amarah yang tidak bisa lagi ia kendalikan. Jafar menendang pintu kayu yang sudah lapuk hingga terbuka. Di dalam rumah, Feodora sedang mencoba menyuapi ibunya, Rosana, yang batuk terus-menerus. Melihat kedatangan Jafar yang beringas, Feodora langsung berdiri di depan ibunya, tubuhnya yang ramping gemetar, namun matanya menunjukkan mental yang kuat. Rosana kemudian ikut berdiri dengan wajah pucat.

“Mau apa kau datang kemari?” tanya Rosana menggertak, meski badannya lemah.

“Kau dan anakmu. Tidak punya malu. Selalu mengemis, selalu mengganggu!”

Feodora menahan amarah. “Bayar dulu semua uang Bapak aku! Kalau sudah bayar, aku tidak akan ganggu,” kata Feodora.

“Uang bapak kamu?” Jafar tertawa sinis dan matanya membelalak. Ia meludah ke lantai. “Cih, sana ambil di kuburan. Untuk apa aku ngeluarin duit, cuma buat orang yang sudah mati? Huh? Apa untungnya buat aku.” Wajahnya kelihatan dibuat-buat untuk meledek Feodora dan Rosana, supaya memancing keributan.

“Kau memang manusia tidak punya hati,” kata Rosana.

“Mending tidak punya hati, dari pada kau dan anakmu itu sukanya ngemis minta-minta sama orang.”

“Kami tidak minta-minta, meskipun kami miskin. Anakku hanya menuntut hak Bapaknya yang kau tipu selama bertahun-tahun!”

Lihat selengkapnya