DENDAM LUKA & CINTA

Donny Sixx
Chapter #8

Pemakaman Rosana

Malam itu, setelah kematian Rosana, Seth datang melayat ke rumah Feodora, berdiri di luar, dan bersandar di mobil sambil merokok. Asapnya menggulung ke atas, mengusir binatang halus yang mendekat. Pikirannya tidak tenang, dibebani sesuatu. Tiba-tiba sosok lelaki kusut muncul dari gelap. Itu lelaki gila yang siang tadi hampir membuat matias marah. Ia mendekat, matanya merah, bau alkohol menyengat. Ia berbicara pelan pada Seth, “Desa ini dikutuk, karena ulah orang-orang biadab itu. Tiap minggu, harus ada yang meninggal. Dosa lama yang benar-benar belum lenyap.” Seth mengernyit, mencoba memahami, namun lelaki yang dianggap gila itu sudah menyelinap ke dalam kerumunan orang-orang yang berjalan menuju ke rumah duka.

Kabar kematian Rosana ternyata sudah menyebar ke seluruh desa. Seth mematikan rokoknya, lalu menyusul ke dalam rumah. Di dalam rumah duka yang kecil, Feodora duduk di samping jenazah Rosana yang sudah diselimuti kain putih. Wajahnya kosong, mata sembab. Seth berdiri di sudut, menatap Feodora lama. Ada rasa bersalah yang menggerogoti, meski ia tahu ia sudah mencoba membantu.

Sementara itu di rumah besar, Matias berbaring di kasurnya, memandang langit-langit. Pikirannya penuh dengan Amara—bau tubuhnya yang basah, kehangatan kulitnya, dan cara ia menolak. Matias mengepalkan tangan. Malam itu ia tidak bisa tidur. Setiap kali menutup mata, wajah Amara muncul, diikuti oleh bayangan api dan perempuan yang terbakar di lahan kosong. Hujan gerimis masih turun pelan di luar. Kampung terasa lebih gelap dari biasanya.

Selang beberapa jam kemudian, setelah orang-orang lain pulang, tinggallah kepala dusun, istri kepala dusun, hansip, dan beberapa warga yang menetap. Mereka tampak bergunjing mengenai kematian Rosana. Feodora lalu mengajak Seth ke dapur, dan memberitahukan padanya tentang kebenaran kematian ibunya.

“Pak, ada yang ingin aku kasih tahu,” kata Feodora sambil merengek.

“Apa itu, dik, katakan saja.”

“Ibu mati, bukan karena pingsan.”

“Terus karena apa?” tanya Seth mengerutkan dahi.

Feodora dengan suara parau memberitahukan siapa pelakunya, “Ibu mati di bunuh Jafar.” Seketika air mata Feodora pecah.

“Apa?” Mata Seth membelalak, mendengar kenyataan itu. “Jafar.” Feodora mengangguk mengiyakan.

“Kenapa Jafar bunuh ibu kamu?”

“Tadi siang, Jafar datang ke sini ... marah-marah, terus menghina kami. Dan yang buat aku sama ibu tersinggung, dia ingin aku jadi wanita simpanannya, baru uang Bapakku dia bayar lunas.”

Seth jadi geram mendengar pengakuan Feodora. “Biadab orang itu.”

“Dia jahat, pak. Sudah lama aku sama ibu dia buat menderita.” Feodora menangis tersed-sedu. “Aku ingin bunuh dia, pak.”

Lihat selengkapnya