DENDAM LUKA & CINTA

Donny Sixx
Chapter #9

Kejahatan Yang Tak bisa hilang

Tiba-tiba, langkah kaki terdengar dari arah jalan setapak. Semua orang menoleh. Dari balik sisa kabut, muncul seorang perempuan. Ia berjalan tegak, langkahnya mantap, seolah tidak peduli dengan lumpur dan kabut. Pakaiannya hitam rapi—kebaya hitam, kain batik gelap, rambut diikat rapi ke belakang. Wajahnya bersih, tanpa bedak pucat atau riasan menyeramkan. Matanya jernih, tajam, dan sadar. Seth membeku. Amara mengerutkan kening. Sisilia menggenggam tangan Amara lebih erat. Feodora menatap perempuan itu dengan mata membelalak.

“Bibi,” ucap Feodora.

Si perempuan berhenti di tepi gundukan tanah. Ia menatap nisan kayu, lama, lalu ia menatap Feodora. “Jangan menangis terlalu lama, Nak. Air matamu tidak akan menghidupkan kembali orang yang telah mati, ”katanya dengan tenang, jernih, tidak ada nada gila sama sekali. “Mulai hari ini aku yang akan mengurusmu.”

“Kamu toh si perempuan kuntilanak itu,” kata Seth.

Si perempuan tersenyum tipis.

“Kamu Nora kan?” sambung Amara.

Si perempuan mengiyakan. “Saya bibinya Feodora. Adik kandung dari ibunya. Rosana adalah kakakku.”

Suasana langsung hening. Amara melangkah maju dan berkata, “Yang kami tahu kau tidak punya saudara.”

Nora, nama si perempuan, menatap Amara. Matanya tajam, seolah membaca isi kepalanya. “Di mata kalian, aku memang tidak punya saudara, sengaja aku tidak ingin kalian tahu. Sebab lebih mudah dianggap gila daripada dianggap ancaman.”

“Ancaman? Apa maksudmu?” Amara penasaran.

“Orang yang dianggap ancaman, pasti punya dendam.”

Amara kembali bertanya, “Dendam pada siapa?”

“Orang yang menghancurkan keluargaku.”

Amara menunduduk. Ia teringat Bapaknya yang dulu pernah berbuat salah pada keluarga Nora.

Nora melanjutkan, “Ingin sekali aku membunuhnya.”

“Maaf, tapi siapa yang ingin kau bunuh?” lanjut Amara.

Nora berlutut di samping gundukan tanah. Tangannya menyentuh tanah seolah merasakan tubuh kakaknya di bawah sana. Nora tidak langsung memberitahunya. “Seseorang. Tapi sayang sekali, orang yang ingin aku bunuh sudah meninggal, hanya meninggalkan luka yang tak akan sembuh seumur hidup.”

Seth bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang siapa orang yang dimaksud Nora. Nora kemudian mendekati keponakannya, memeluknya erat. “Sekarang jangan takut, Nak. Ada Bibi yang akan jaga kamu. Tapi kamu harus tahu, aku bukan orang gila. Aku orang yang terluka. Dan orang yang terluka itu, akan selalu mencari cara untuk membalas.”

Lihat selengkapnya