DENDAM LUKA & CINTA

Donny Sixx
Chapter #10

Kepalsuan

Hampir seluruh lahan di kampung ini milik Matias. Orang-orang yang tinggal di rumah mereka sendiri, menggarap sawah mereka sendiri, sebenarnya hanyalah penyewa. Atau lebih buruk—penghuni ilegal di tanah yang sudah dirampas.

Hujan mulai turun lagi hingga malam, deras, menghantam atap rumah dengan bunyi yang marak. Penerangan di desa seketika padam, sebab badai kembali menerjang. Di dalam kamar, Matias duduk di tepi kasur. Ia memegang telepon selulernya, memandangi foto-foto Amara yang ia ambil waktu itu. Matias memandanginya dengan nafsu yang tidak lagi ia sembunyikan. Napasnya memburu. Jemarinya mengusap wajah Amara di kertas, menggumam, sambil mengucap nama Amara, sesekali tangannya mengguyur dalam celana terus mengisut sendiri sampai lemas. Keenakan, hingga tak peduli lagi, kalau badai di luar semakin menggila, dan petir menyambar lebih dekat, membuat kamarnya yang gelap tampak seperti diskotek.

Di sisi lain, di rumah kecil yang telah miring oleh kibasan angin ribut, si lelaki gila melamun di depan sebuah foto usang yang ia pegang. Foto dirinya muda, berdiri di samping seorang perempuan cantik yang tersenyum. Rambut si perempuan tergerai, mata berbinar. Ia mengelus-elus foto tersebut dengan jarinya yang kotor. Di tangan sebelahnya, memegang sebilah pisau tajam yang mengilau di bawah cahaya temaram lampu minyak. Ia tersenyum-senyum sendiri, bibirnya bergumam tentang si perempuan, Ada, kenapa kau mati? Apa salahmu? Kau diperkosa iblis, Tuhan malah diam. Ingin kubunuh mereka, tapi aku tak sanggup. Aku hanyalah manusia lemah, bukan malaikat. Pisaunya digenggam erat. Matanya merah—berkaca-kaca, penuh dendam yang sudah lama membusuk.

Sementara itu, di rumah Feodora, Nora menidurkannya di kursi panjang, memeluknya yang tampak kusam, sedih dan murung. Di depan mereka, di atas meja kayu, tergeletak sebuah foto yang sama—Nora muda dan seorang perempuan yang mirip sekali dengan perempuan di foto si lelaki gila. Nora memandangnya. Jemari tangannya mengusap wajah perempuan di foto dan berkata, “Ada, kamu pasti sudah ketemu dengan bibimu, Rosana. Namun laki-laki biadab itu masih hidup. Aku bersumpah, akan membunuhnya sebelum aku mati.” Hujan deras terus mengguyur seisi kampung dan petir menyambar semakin ganas. Di rumah Matias. Seth terbujur di lantai kamarnya, dengan setumpuk surat tanah yang berserakan.

Besok harinya, langit masih kelabu. Kabut tipis belum sepenuhnya hilang dari pepohonan pisang di belakang rumah. Seth turun dari kamar dengan langkah berat. Matias sudah duduk di ruang tengah, wajahnya pucat tapi matanya tajam.

“Jemput Amara sekarang,” perintah Matias tanpa menoleh. “Bawa Sisilia juga. Aku ingin mereka memasak di sini hari ini. Jangan lama-lama.”

Seth mengangguk. Ia keluar, menyalakan mobil, lalu melaju pelan meninggalkan halaman. Begitu suara mesin mobil menjauh, dari balik semak di tepi jalan, si lelaki gila muncul. Rambutnya kusut dan pakaiannya masih basah oleh embun. Matanya merah, napasnya pendek. Ia menunggu sampai mobil benar-benar hilang di tikungan, lalu berlari membungkuk menuju ke rumah Matias. Pintu belakang tidak terkunci. Bashan masuk pelan, langkahnya hati-hati di atas lantai kayu. Ia menemukan Matias di ruang makan, sedang menyeduh kopi panas. Uap mengepul di atas cangkir. Si lelaki gila mulai mengancam Matias, “Kembalikan surat tanah keluargaku. Tanah itu milik ayahku. Salman merampasnya dengan catatan palsu. Aku tahu semuanya.” Si lelaki gila mencabut pisau yang ia selipkan di pinggang.

Matias berbalik, ia kaget. “Kau kan si gila itu,” sergahnya, “Berani sekali kau masuk ke rumahku dan langsung mengancam.”

Si lelaki gila menghunus pisau. “Aku tidak gila. Aku cuma mau minta surat tanah keluargaku. Cepat kembalikan sekarang, atau—”

“Atau apa ... huh?” Matias menggertak.

Si lelaki gila menengok-nengok sekeliling, mengawasi, sambil menghunuskan pisau ke arah Matias. “Ku-ku-kuhabisi kau.” Si lelaki gila masih agak ragu-ragu.

“Coba saja,” kata matias, memancing emosi si lelaki untuk bertindak, sebab Matias tahu si lelaki tidak berani untuk melukainya.

“Salah sendiri kalau kau mati.”

“Apa kau sanggup bunuh aku?”

Si lelaki gila mengerang, “Ah, banyak omong! Berikan saja surat tanah itu dan aku akan pergi dari sini. Aku tidak akan balik lagi. Aku janji.” Napas si lelaki memburu.

“Kau pikir bisa mengancamku dengan pisau itu? Kau bodoh, heh!” kata Matias, menyepelehkan.

“Sekali lagi, kumohon, kembalikan,” balas si lelaki gila sambil meminta dengan tangan satunya.

Tiba-tiba saja, tanpa diduga oleh si lelaki gila, Matias dengan gerakan cepat, meraih cangkir kopi panas di meja lalu melemparkannya ke wajah si lelaki gila. Air panas menyembur. Ia berteriak, tangan menutupi mata yang sakit. Penglihatannya kabur. Matias memanfaatkan kesempatan itu, berlari dan menendang dada si lelaki gila sekuat tenaga. Tubuhnya seketika terlempar ke belakang, menghantam meja kayu yang penuh pernak-pernik kaca dan porselen. Bunyi pecah menggelegar. Kaca berhamburan di lantai. Ia jatuh tersungkur, pelipis kanannya berdarah. Di luar, Pak Petrus baru saja tiba di halaman rumah membawa sekarung sayuran. Suara pecahan kaca membuatnya tersentak sejenak, kemudian berlari ke dalam rumah. “Pak Matias!”

Lihat selengkapnya