DENDAM LUKA & CINTA

Donny Sixx
Chapter #11

Niat Tersembunyi

Ia tidak menegur karena ia bisu. Sisilia membeku ketika Matias berdiri di sana. Tubuhnya menghalangi hampir seluruh pandangan ke dalam. Mata mereka bertemu. Selama sedetik yang terasa sangat panjang, Sisilia melihat segalanya: tatapan lapar Matias, posisi tubuhnya yang mengintai, dan gorden yang masih bergerak di belakangnya. Sisilia ingin berteriak. Mulutnya terbuka. Tapi Matias bergerak lebih dulu. Ia berbalik penuh, menatap Sisilia langsung. Matanya mengeras, tajam, penuh ancaman yang tidak perlu diucapkan. Ia mengangkat satu jari ke bibirnya—isyarat diam yang dingin—lalu menggeleng pelan. Pandangannya turun ke leher Sisilia, seolah menghitung denyut nadi di sana. Sisilia gemetar. Air mata langsung mengalir tanpa suara. Ia mengangguk kaku, mundur satu langkah, dua langkah, lalu berbalik cepat menuju dapur dengan handuk masih digenggam erat di dada. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin pecah. Matias menutup pintu kamar mandi pelan, memastikan tidak berbunyi. Ia berdiri di lorong sejenak, mengatur napas, lalu berjalan kembali ke ruang tengah seolah tidak terjadi apa-apa. Tepat saat itu, suara Pak Petrus memanggil dari depan. “Pak Matias, ada tamu!”

Matias menghela napas, memasang wajah tenang, lalu keluar. Di depan rumah, Philip sudah berdiri di teras bersama dua anak buah berseragam. Wajah polisi itu datar, tatapannya dingin.

“Oh, pak Philip. Ayo masuk,” ajak Matias ke dalam.

“Kalian berdua tunggu di sini,” kata Philip.

Keduanya mengangguk. “Siap pak.”

Philip lalu diajak Matias ke ruangan pribadinya.

“Duduk, silakan duduk,” ucap Matias.

“Sudah lama aku tak kemari. Ruangannya pun masih sama,” kata Philip.

“Ya. Tak ada yang aku rubah. Semuanya sama. Aku tidak mau meninggalkan kenangan Bapak.”

“Anak baik. Pantas, kau mewarisi seluruh kekayaannya, dan tak meninggalkan sedikit untuk anak-haramnya.” Philip terkekeh.

Matias kemudian mengambil sebuah foto di dalam berkas dokumennya dan memberikannya pada Philip.

“Foto siapa ini?” tanya Philip.

“Itu foto lelaki yang masuk ke rumahku tadi pagi. Dia menuntut surat tanah keluarganya. Tapi surat tanah itu sepenuhnya sudah jadi milik Bapak.”

“Karena ini, dia menuntut kemari?”

“Ya. Dia bawa pisau dan mengancam ... sampai ingin membunuhku.”

“Namanya siapa?”

“Bashan. Dia pura-pura gila,” jawabnya, “dia ingin kulenyapkan dari sini. Untuk itu, aku meneleponmu ke sini.”

Philip tersenyum sambil mengangguk-angguk pelan.

Matias melanjutkan, “Kau pasti tahu tugasmu. Aku tak perlu bilang lagi. Harganya berapa, katakan?”

“Harga tetap sama, Pak?”

“Kecuali dibawa hidup. Tanggung ongkos kerja saja, pak.”

“Oke.” Matias mentransfer uang dari telepon selulernya ke rekening Philip. “Ini sudah kutransfer, masuk ke rekeningmu.”

Philip kembali terkekeh dengan memasang wajah yang menjengkelkan. “Makasih pak.”

“Ingat. Aku tidak mau dikejar hukum.”

“Tenang saja, aman, pak.”

“Sekarang panggil anak buahmu, kita sama-sama makan. Kalian pasti belum isi perut dari sana.”

“Iya toh pak. Kota kemari kan jauh. Jadi harus cepat-cepat datang. Takutnya, keburu sore.”

“Ayuk, ayuk. Nanti dingin makanannya.”

Di meja makan, Amara sementara mengatur-atur makanan sambil mengelap meja. Wajahnya segar, rambut masih basah, dan tidak tahu apa-apa, tentang kejadian tadi. Kecantikan Amara memang tiada duanya, langsung membuat Philip terpesona.

“Uh, Dia siapa?” tanya Philip pada Matias. Penasaran.

“Dia adik tiriku, Amara.”

“Amara, ya.” Philip menceklik lidahnya. “Aku baru tahu, adikmu secantik ini.”

Amara hanya tersenyum malu. Sisilia kemudian muncul membawa piring.

“Yang ini siapa?” tanya Philip lagi.

Lihat selengkapnya