Menjelang malam, Amara dan Sisilia tiba di rumah. Aram tampak sedang membersihkan cangkul di teras.
“Baru pulang?”
Amara mengangguk. Sisilia menuju ke dalam rumah tanpa bicara. Amara sekilas menatap wajah Sisilia yang sedari tadi kaku seperti dikejar setan semalaman.
“Tadi siang, Abang Seth datang jemput Amara, disuruh abang Matias buat masak di rumah.”
“Oh, aku kira kamu diajak ke kota.”
Amara menggeleng, “Tidaklah. Tapi kata abang Matias, dia mau ajak aku sama kamu ke kota, jenguk makam Bapak.”
“Iya, setidaknya kita jenguk makam Bapak. Karena biar bagaimana pun juga, yang Bapak kasih ke kita di sini lumayan besar, cukup untuk menghidupi kita sampai tua.”
Amara kemudian memberitahukan pada Aram tentang kejadian di rumah Matias.
“Aram ... tadi siang abang Matias diserang oleh Bashan di dalam rumah.”
Aram terkejut. “Bashan ... lelaki yang gila itu?”
“Iya.”
“Apa yang dia mau?”
“Kata abang Matias, masalah surat tanah keluarganya yang dipalsukan Bapak. Dia datang ingin meminta surat tanah itu, dikembalikan.”
“Berarti selama ini dia pura-pura gila?”
“Iya, sepertinya begitu.”
“Apa Matias sudah lapor polisi?”
“Sudah. Siang itu juga polisi langsung datang ke rumah abang.”
“Padahal aku kasihan padanya setelah Ada, calon istrinya itu meninggal karena gantung diri. Cuma, mau gimana lagi, dia sendiri yang cari masalah.”
“Tapi apa kamu tahu, kenapa Ada gantung diri?”
Aram menggeleng. “Tidak ada yang tahu kenapa dia nekat gantung diri. Sampai sekarang.”