Nora melanjutkan, Seth menyimak.
“Tapi kebahagiaan kecil itu tak berlangsung lama. Setelah Salman tahu kalau Putriku akan menikah dengan Bashan.” Nora memandang sejenak pada Bashan, Bashan tampak menunduk dan murung sekali. “Ia kemudian datang dengan pinangan.”
Salman duduk di depan Nora dengan senyum yang dibuat-buat.
“Saya ingin menjadikan putrimu sebagai istri mudaku. Tanah besar, kebun, ladang, rumah, uang berapa pun itu, saya akan kasih. Tinggal bilang saja apa yang kamu mau, asalkan, putrimu kawin dengan saya,” katanya memaksa. “Bagaimana, apa kamu setuju dengan pinangan saya kepada anakmu ini?”
Nora menoleh pada Ada yang duduk di samping. Wajahnya kusut dan kelihatan masam memandang Salman. Ada kemudian berkata dengan lantang, “Jangan harap saya mau terima pinangan kamu! Saya tidak mau!” Wajah Salman seketika berubah jadi marah.
Salman menatap Ada tajam, “Apa kamu bilang?”
“Saya hanya ingin menikah dengan Bashan. Tidak dengan orang lain.”
“Laki-laki itu sudah kupecat!” katanya tinggi.
Ada dan Nora saling memandang.
“Dia sekarang sudah tidak punya pekerjaan. Apa kamu masih mau, menikah dengan lelaki pengangguran, hah?”
“Tidak masalah dia pengangguran, dari pada aku harus menikah dengan orang jahat sepertimu, yang seenaknya merampas tanah kami demi kepentinganmu sendiri.”
Nora tampak khawatir sambil memegang tangan Ada. “Nak. Sudah.”
“Jaga bicaramu, jangan sampai kamu menyesal,” tegurnya. “Saya kasih kesempatan sekali lagi, apa kamu terima pinangan saya atau tidak?”
“Keputusanku sudah bulat,” tegasnya. Saya tidak mau menikah dengan kamu. Bawa pulang kekayaanmu itu. Saya tidak sudi menerima harta harammu itu.”
“Baiklah.” Salman berdiri dari tempat duduknya sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Saya sudah kasih kesempatan, tapi kamu tetap menolaknya. Sebelum saya pergi dari sini, saya cuma mau bilang, kalau saya tidak bisa mendapatkan kamu, berarti orang lain pun sama. Ingat itu baik-baik! Permisi.” Salman segera keluar dari rumah Nora dengan membawa kekecewaan yang mendalam.
Ada lalu memeluk Nora sambil menangis. “Bu, apa keputusanku itu sudah benar atau aku yang salah?”
“Apapun keputusan yang kamu ambil, ibu selalu dukung. Ibu juga tidak mau melihat kamu menderita. Ibu berdoa, semoga Tuhan melindungi kamu dan Bashan sampai kalian menikah.” Ada mengangguk dengan air mata yang menjuntai di dagu.
Hari mulai gelap. Burung malam telah berkicau. Seth masih berada di rumah Feodora mendengar kebenaran yang sementara diceritakan oleh Nora.
“Setelah Salman pergi, itulah hari terakhir aku memeluk Putriku.”
Bashan terdengar merengek di sudut meja dekat pintu masuk.
Nora kembali melanjutkan, “Keesokan harinya, pagi itu dia pergi ke rumah Wa Keni. Seorang paranormal tua terkenal di desa ini, yang meninggal tiga tahun lalu. Katanya, dia ingin sekedar mengetahui masa depannya sebelum dia menikah.
Pagi itu mendung sekali. Langit sungguh tak kelihatan cemerlang, seperti menandakan petaka yang akan dialami seseorang.
“Bu, aku mau keluar,” kata Ada yang yang menemui Nora di dapur.
“Mau ke mana?”
“Ke rumah Wa Keni. Mau coba tanya masa depanku sebelum aku nikah.”
“Yang tahu masa depan kamu hanya Tuhan, bukan paranormal tua itu.”
“Ah, tidak masalah, kan cuma coba-coba. Tidak lama kok Bu, ya.”
“Ada-ada saja kamu. Cepat pulang. Persiapan kamu nikah sudah dekat. Tidak boleh jauh-jauh dari rumah.”
“Iya, iya, aku tahu.”