DENDAM LUKA & CINTA

Donny Sixx
Chapter #14

Penangkapan

Nora dan Bashan telah menceritakan semuanya pada Seth kenapa mereka dianggap gila oleh orang-orang di desa ini. Seth dari tadi menunduk tanpa mau bicara sepatah kata.

“Orang baik satu persatu mulai lenyap. Sekarang tergantung padamu, mana yang akan kau perjuangkan,” kata Nora lalu ia pergi ke dapur.

Feodora mendekat dan memegang tangan Seth yang gemetar sedari tadi. “Pak Seth bukan orang jahat kan?” tanya Feodora senyum. “Jangan buat aku benci. Aku tidak mau mengacungkan panah ke muka pak Seth. Tidak mau.”

Seth akhirnya membuka mulut setelah beberapa menit yang lalu ia bahkan tampak seperti orang bisu. “Tenang saja. Aku bukan orang jahat. Aku hanya lelaki biasa yang ingin mencari kebenaran. Itu saja.” Bashan menatap Seth dalam-dalam dengan air mata yang belum kering di pipinya yang kurus.

Tak berapa lama Nora ke dapur, ia kembali dengan membawa makanan menu lauk pauk seadanya. “Mari makan,” ajak Nora sambil ia meletakan makanan di atas meja.

“Ayo pak, kita makan,” ajak Feodora.

Seth tampak dua-dua hati untuk bergabung di meja makan.

“Jangan menolak niat baik orang. Sedangkan binatang saja dikasih makan, apalagi orang,” sambung Nora.

Feodora beranjak dan menarik tangan Set. “Ayuk, pak. Tidak usah malu. Anggap rumah sendiri.”

Dalam hati, Seth sebenarnya ingin secepatnya kembali ke rumah Matias, sebab ia khawatir, barangkali ada mata-mata yang sedang mengintainya dari kegelapan di luar pintu. Namun ia juga sadar, tidak mungkin ia mau membuat Feodora sedih. Seth terpaksa mengiyakannya saja dan merapat ke meja makan. Bashan yang masih duduk merengek di sudut pintu itu, sebab telah mengingat kembali kematian calon istrinya yang sungguh menyedihkan, juga dipanggil Nora untuk bergabung di meja makan.

“Bashan, kemari. Jangan terus seperti orang bodoh di situ. Makan, kalau tidak mau mati.” Bashan mengelap air matanya dan bergabung bersama.

“Jangan lupakan kami, setelah kau pulang dari sini. Ingat, masih ada orang yang harus kau lindungi di dalam rumah ini,” pesan Nora pada Seth.

Seth tersenyum dan perlahan, matanya mulai berkaca-kaca ketika melihat Feodora, Nora dan Bashan saling mengambilkan lauk pauk satu sama lain. Malam itu, empat orang yang awalnya tidak saling kenal, kini jadi akrab di dalam rumah yang sangat sederhana. Entah besok, mereka masih akan bertemu—ataukah tidak, yang terpenting mereka harus mengisi perut supaya kenyang, demi bertahan hidup dari para orang-orang biadab yang masih merajalela di tanah yang sudah sekarat ini.

Pagi datang. Ayam jantan berkokok ketiga kalinya. Aram bangun di waktu langit masih kelabu. Tanah masih basah, dan bau pupuk pelan-pelan bercampur dengan embun, serta kabut tipis masih menggantung di setiap pucuk-pucuk pohon cendana besar yang tumbuh—mengarah ke atas langit. Baru saja ia mengalungkan parang di pinggang untuk berangkat ke ladang yang ia garap, sekilas, sepasang matanya yang awas menangkap sebuah siluet yang tak asing. Aram memicingkan mata, ternyata yang ia lihat itu, Bashan. Ia berjalan tergesa, menenteng sebuah tas kanvas dekil yang terlihat begitu berat untuk sekadar berisi pakaian ganti. Ada gelagat buruan dalam cara Bashan berjalan, tergesa-gesa, seperti anjing liar yang baru saja mencuri sepotong daging dari pasar.

Rasa penasaran menggerogoti isi kepala Aram seperti rayap pada kayu lapuk. Alih-alih melanjutkan langkah menuju ladangnya, yang ada beberapa petak masih dipenuhi gulma, Aram memilih mengendap-endap, mengikuti Bashan dari belakang. Ia menjaga jarak, menyelinap di antara pohon, merunduk di balik semak-semak lamtoro, layaknya hantu yang tak memiliki kerjaan selain menguntit manusia-manusia bernasib sial.

Langkah itu berakhir di sebuah pekarangan yang halamannya dipenuhi daun-daun kering. Rumah Feodora. Tanpa keraguan sedikit pun, ia mengambil telepon selulernya dari dalam kantung celana, membukanya, kemudian mengetik kalimat pendek yang dikirimkan langsung kepada Matias:

Lihat selengkapnya