DENDAM LUKA & CINTA

Donny Sixx
Chapter #15

Sesal

Matahari baru saja memanjat tinggi ketika Seth terbangun dari tidurnya dengan tenggorokan kering. Ia mendapati rumah terasa terlalu sunyi. Mobil di halaman tidak ada. Matias tidak ada di kamarnya. Rasa gelisah merayap dingin di balik kulit Seth, mendorongnya keluar untuk menemui Pak Petrus yang sedang menyapu halaman dengan sapu lidi yang mengeluarkan suara kris-kris yang menjengkelkan.

“Pak Petrus, mau tanya, pak Matias kemana?” tanya Seth dengan suara serak.

Pak Petrus menghentikan gerakannya, menatap Seth dengan pandangan nanar yang menyimpan sejuta kepedihan tua. “Pak Matias pergi bersama Philip … polisi bayaran,” jawab pak Petrus. “Kudengar, mereka ingin menangkap Bashan. Cepatlah ke sana pak Seth, aku yakin mereka tidak berniat membawanya ke kantor polisi.”

Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia berbalik dan berlari sekencang-kencangnya. Napasnya memburu, paru-parunya serasa terbakar oleh udara pagi yang mendadak berubah menjadi racun. Ia memacu langkahnya menembus jalanan berbatu, menghiraukan segala pandangan orang-orang yang hendak menuju ke ladang.

Setibanya di rumah Feodora, pemandangan yang menyambutnya adalah puing-puing keputusasaan. Pintu rumah terbuka lebar. Feodora memeluk Nora yang gemetar ketakutan, air mata mereka tumpah tanpa suara.

“Bashan mana?” tanya Seth tegang.

“Sudah mereka bawa,” kata Nora terbata-bata, suaranya pecah di antara isak tangis.

“Ke kantor polisi?”

Nora menggeleng. Seth menggertakkan giginya, menahan amarah dan ketakutan yang bergolak di dalam dada. Ia segera mengeluarkan ponselnya, menghubungi pak Petrus dengan tangan yang gemetar.

“Halo pak Petrus.”

“Iya pak Seth … Bashan?”

“Sudah ditangkap. Tapi tidak tahu, dia dibawa kemana.”

“Bahaya pak.”

“Pak Petrus, apa di sini ada tempat-tempat rahasia keluarga pak Matias yang pak Petrus tahu? Rumah, gubuk, gudang, atau apalah yang jarang orang tahu.”

“Mungkin gudang, pak. Diujung kampung ada gudang kosong, di tengah sawah, tempat yang dulunya sering dikunjungi oleh Salman semasa hidupnya. Kalau tidak salah, tempat itu digunakan untuk menyimpan barang-barang terlarang.”

“Saya coba cek ke sana pak.”

“Iya pak. Hati-hati, karena pak Matias tidak jauh beda dengan Bapaknya.”

Sebelum meninggalkan rumah itu, Seth menatap Nora lurus-lurus. “Aku tidak janji akan membawanya pulang, tapi akan kuusahakan.”

Langkah Seth kembali berlari, menempuh jarak yang terasa tak berujung. Menjelang tengah hari, langit berubah kelam dengan cepat. Awan hitam menggantung rendah, dan gerimis mulai turun, menciumi tanah kampung dengan titik-titik air yang dingin. Ketika Seth akhirnya tiba di ujung kampung, bangunan gudang tua itu berdiri tegak seperti raksasa berkarat yang menelan kesunyian. Pintunya setengah terbuka, membiarkan bau anyir darah menyembul ke luar, bersembunyi di balik aroma busuk kayu lapuk.

Seth mendorong pintu itu hingga berderit nyaring. Di dalam ruangan yang remang-remang, oleh cahaya matahari yang hanya menembus celah-celah kayu dan berdebu, ia melihat pemandangan yang meremukkan hatinya. Bashan terikat di sebuah kursi kayu, wajahnya sudah tidak dikenali lagi—bengkak, penuh lebam ungu, dan bersimbah darah segar yang menetes ke lantai tanah. Matias berdiri di hadapannya, terengah-engah dengan buku-buku jari yang berdarah. Philip dan dua anak buahnya hanya menonton di sudut ruangan sambil merokok, menikmati tontonan itu layaknya sebuah pertunjukan sirkus.

“Hentikan, pak!” teriak Seth, suaranya menggema di dalam gudang. Mereka terkejut.

“Tahu dari mana dia tempat ini, pak,” kata Jafar memandang Matias.

Matias berpikir sejenak, “Pak Petrus …. sialan tua bangka itu.”

Seth berjalan mendekat, merentangkan tangan. “Cukup! Jangan pukul dia lagi!”

Matias menoleh, matanya merah menyala oleh amarah yang telah merusak akal sehatnya. “Jangan ikut campur, ini urusanku!”

“Lepaskan dia, pak!” Seth memohon, suaranya bergetar hebat. Ia menatap Philip dan polisi-polisi bayaran itu. “Pak Polisi tolong hentikan dia, kumohon.” Tak satupun dari mereka bergerak. Mereka adalah budak-budak dari keserakahan yang tuli.

Melihat tidak ada harapan dari orang-orang berseragam itu, Seth mengalihkan kembali pandangannya kepada Matias dan menawarkan satu-satunya yang tersisa di kepalanya. Pak Matias, dengarkan aku. Biarkan aku yang mengurus Bashan. Aku bersumpah, aku akan membuatnya pergi jauh dari kampung ini. Dia tidak akan pernah lagi berani mengusikmu atau siapa pun. Saya janji pak, tolong.”

“Kau terlalu banyak omong. Keluar kau sekarang! Jangan membantah, aku tidak suka,” usir Matias. “Dia juga bukan saudaramu atau keluargamu, buat apa kau sampai berlutut di lantai dan memohon seperti itu, hah?”

Seth terdiam sebentar.

“Dia menyerangku di rumah dan mengancamku, sampai menuduh Bapakku mengambil tanah mereka dengan surat palsu. Apa kau masih mau membiarkan orang seperti itu hidup, sambil kau terancam di dalam rumah, apa begitu yang kamu mau?”

Seth menunduk dan menjawab, “Aku tahu, pak, aku tahu. Tapi bukan dengan cara yang salah seperti ini. Ada polisi, pak Matias bisa menyuruh mereka membawa Bashan ke kantor polisi dan diproses sesuai hukum yang berlaku, biar dia dipenjara. Itu lebih bagus, pak.”

Lihat selengkapnya