Di rumah Amara, malam itu terasa lebih pengap dari biasanya. Sisilia duduk di pojok dapur, jari-jarinya terus memelintir ujung kain basah, mata menghindari kontak. Amara yang sedang mengiris bawang merah berhenti, ia meletakkan pisau.
“Sisilia,” katanya pelan. “Kau sudah gelisah sejak kemarin. Ada yang kau tutupi. Bilang padaku.”
Sisilia menggeleng cepat, tapi air mata sudah menggenang. Amara mendekat, berlutut di depannya, memegang kedua tangan yang gemetar.
“Aku saudara perempuanmu di sini. Kau bisu, tapi aku bisa baca matamu. Katakan.”
Dengan berat hati, Sisilia mulai “berbicara” lewat gerakan tangan yang lambat dan penuh rasa bersalah. Ia menunjuk ke arah kamar mandi, menirukan orang yang berdiri mengintip di balik gorden, lalu menunjuk dirinya sendiri yang ketakutan, jari di bibir, mata tajam yang mengancam. Amara membeku. Wajahnya memutih, lalu memerah. Amara memicingkan mata, “Sisilia, siapa yang mengintip aku mandi?”
Sisilia gemetar, ia gugup untuk mengatakannya pada Amara. Amara kemudian mendesak, “Katakan Sisilia, siapa orang itu?”
Dengan berani, akhirnya Sisilia memberitahukan orang itu lewat gerakan tangan pada Amara.
“Abang Matias?” Suaranya bergetar, hampir tidak percaya. Sisilia mengangguk sungguh-sungguh. “Dia orang yang mengintip aku mandi?” Sisilia kembali mengangguk sungguh-sungguh. “Apa kau tidak bohong?”
Sisilia mengangguk. Dia membalas dengan gerakan tangan, percaya aku, Kakak.
“Apa dia mengancammu supaya tutup mulut?”
Sisilia mengangguk mengiyakan dan air matanya menetes. Amara berdiri, tangan mengepal. “Ternyata firasatku benar. Aku memang sudah curiga padanya, waktu di gubuk itu. Tega kau abang! Kau pura-pura baik padaku ternyata niatmu buruk.” Amara menggeleng. “Padahal aku saudari tirinya yang masih sedarah, tapi kenapa dia tega …. bajingan!” Amara mendengus, menutup mata, tampak emosi.
Sisilia panik, memegang lengan Amara, menggeleng keras. Matanya memohon. Amara menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Kamu tidak usah kuatir, aku janji kamu akan baik-baik saja.”
Sementara itu, di rumah Matias yang megah namun berbau kelam, suasana tidak kalah panasnya. Matias berdiri tegak di ruang tengah dengan mata melotot merah. Seth belum kembali sejak semalam. Pak Petrus berdiri di depan pintu kamarnya, wajahnya pucat. “Pak … Seth belum pulang. Mungkin ….”
Matias berbalik cepat menghampiri pak Petrus. “Kau yang bilang ke dia tentang gudang itu, kan?” suaranya dingin, penuh tuduhan. “Hanya kau yang tahu tempat itu. Hanya kau yang sering ke sana dulu bersama Bapak.”
Pak Petrus menggeleng panik. “Tidak, Pak! Saya ….” Tamparan keras mendarat di pipi lelaki tua itu. Membuat kepalanya tersentak ke samping. Bunyinya nyaring, memantul di dinding kayu. Pak Petrus terhuyung, tangan memegang pipinya yang merah. Matias menatapnya dengan mata berapi-api.
“Diam, tidak usah banyak bicara. Jangan main-main denganku, pak Petrus! Kalau kau bohong, kau tahu sendiri akibatnya.”
“Maaf, pak.”
“Jangan sampai kau ulangi lagi.”
Pak Petrus menunduk dan mengangguk.
“Tugasmu disini hanya sebagai pengurus rumah, bukan yang lain.”
“Baik pak.”
“Bagaimana dengan mayat Bashan?”
“Sudah kubayar beberapa orang untuk mengubur mayatnya di tempat pemakaman.”
Pak Petrus mengingatnya. Beberapa jam yang lalu, ada lima orang yang sedang menggali kubur dan memasukkan mayat Bashan.
“Cepat, cepat. Jangan sampai ada yang lihat,” kata Jafar sambil mengawasi kalau ada yang datang.
“Ambil sekopnya, timbun, timbun,” perintah pak Petrus.