DENDAM LUKA & CINTA

Donny Sixx
Chapter #17

Bahagia Sementara

Di tengah lorong, Seth ditawari tumpangan oleh kepala dusun yang hendak ke sawah. Sepeda motor bututnya, berbunyi bising, dengan knalpot berkarat yang hampir menyentuh tanah serta lubang knalpotnya mengeluarkan asap hitam.

“Mau kemana pak?”

“Mau pulang pak ke rumah bos saya.”

“Anak pak Salman itu ya?”

“Iya, pak. Matias namanya. Kami belum lama datang ke desa ini … dari kota.”

“Pak, mending kamu cari bos lain saja di kota sana. Kerja dengan keluarga mereka, tidak bagus, pak,” kata pak kepala dusun. “Banyak warga di sini yang tidak suka dengan bapaknya itu, karena dia waktu hidup, banyak menyusahkan masyarakat di sini, dengan merampas ladang tempat kami cari makan, dengan surat tanah palsu. Ujung-ujungnya, kami dipaksa berhutang padanya lalu tanah kami diambil. Untung saya masih punya sebagian kecil dari tanah yang dia ambil, jadi masih bisa menghidupi keluarga saya walaupun susah. Karena itu, sudah banyak warga di sini yang memilih pindah ke desa lain untuk mencari hidup yang lebih baik. Namun, kami yang masih bertahan, harus setengah mati banting tulang supaya bisa hidup. Saya kepala dusun di sini, tapi tidak pernah dianggap, yang dianggap hanyalah si kepala desa korup sialan itu, si Jafar.”

“Pemerintah di desa ini memang harus diganti, kalau tidak warga tidak bisa lagi tinggal di sini.”

“Betul itu pak, memang harus secepatnya diganti. Terutama si Jafar. Dia yang paling membuat kami susah.”

“Bersabar dulu pak, semoga saja ada jalan keluar supaya desa ini membaik.”

“Bersabar sampai kapan, pak? Sampai kami mati?”

Seth hanya tersenyum.

“Berhenti di situ saja,” kata Seth turun dari motor. “Pak, ini … ambil.” Seth memberikan tiga lembar uang seratus ribu kertas yang masih agak basah dari dalam saku celana, kepada si kepala dusun dan langsung berjalan masuk ke halaman rumah.

Setelah membuka uang tersebut, Pak kepala desa merasa tegang. “Pak, pak, tunggu pak.”

Seth menoleh ke belakang.

“Ini kebanyakan.”

“Ambil saja, itu buat istri dan anakmu di rumah.”

“Ya Tuhan! Makasih banyak ya pak!”

Seth mengangkat kepala dan tersenyum kecil. Pak kepala desa lanjut menuju ke sawah membawa uang kaget . Sesampainya di halaman rumah, Pak Petrus langsung menyambutnya dengan pipi masih memar.

“Kau tidak apa-apa?”

“Aku sudah tidak tahu lagi, apa aku baik-baik saja atau tidak.”

Lihat selengkapnya