Sesampainya di rumah Amara, Aram menyambut di teras. “Pak Seth … abang yang suruh?”
Seth mengangguk. “Saya kemari disuruh pak Matias untuk menemui Amara.”
Aram menghela napas. “Masuk saja. Tapi dia tetap tidak mau keluar.”
Seth masuk dan mengetuk pintu kamar Amara. “Amara … ini saya, Seth. Boleh saya bicara sebentar?”
Amara tidak mau membalas.
“Apa kamu baik-baik saja?”
Akhirnya Amara bersuara, namun suaranya Amara terdengar dingin. “Aku baik-baik saja. Bilang pada abangku itu, aku tidak mau bertemu dengannya untuk sementara. Sudah.”
“Boleh saya tahu alasannya apa?”
“Tidak. Pulanglah. Jangan ganggu aku.”
“Oke, oke, saya permisi.” Seth segera menjauh dari kamar Amara.
Di teras, Aram bertanya, “Bagaimana, apa dia bicara?”
“Ya. Amara memang tidak mau bertemu pak Matias … untuk saat ini. Alasannya pun, dia tidak bilang.”
Aram mengangguk-angguk pelan. “Eh, pak Seth, um ….” Aram tampak ragu-ragu untuk bicara.
“Ya?” Seth mengernyitkan kening. “Tanya saja kalau ada yang mau ditanyakan.”
“Begini, um … abang Matias bilang, Bashan sudah mati, apa betul itu?”
Seth penasaran. “Kenapa kamu bertanya pada abangmu tentang Bashan?”
Orang yang membuat Bashan terbunuh, akhirnya mengaku juga, “Yang memberitahu keberadaan Bashan pada abang Matias … itu aku yang bilang.“
Seth membeku. Matanya terbuka lebar. Darahnya seolah berhenti mengalir ke kepala. Ia menatap Aram lama. Tegang dan nyaris tak berkedip sama sekali. “Kau yang bilang?”