DENDAM LUKA & CINTA

Donny Sixx
Chapter #19

Orang-orang Yang Ditindas

Semakin siang, Matias semakin menjadi-jadi. Ia berdiri di atas mobilnya dan berteriak, “Akan kujadikan kampung ini villa-villa besar! Penginapan elit! Orang-orang kaya akan datang berlibur di sini! Kalian yang sudah kami usir, silakan cari tempat lain.”

Orang-orang yang terusir keluar dari rumah mereka, kemudian berkumpul dan bergunjing dengan kepala dusun yang nasibnya serupa.

“Kita harus ke mana ini pak?”

“Iya pak, kita tidak punya tempat tinggal lagi.”

“Ada gudang bekas tampungan padi, di sebelah sana, untuk sementara kita berteduh di situ dulu, baru kita pikirkan mau kemana tujuan kita selanjutnya.”

“Iya, iya, pak, ayo.”

Rombongan itu pun bergerak membelah kesialan yang menyeret langkah mereka seperti barisan semut yang sarangnya baru saja dikencingi bocah mabuk. Mereka memanggul karung-karung berisi pakaian lusuh, panci penyok, dan beberapa ekor ayam yang berkotek panik seolah tahu kiamat baru saja mampir di dapur mereka.

Gudang bekas itu berdiri di ujung dusun, miring ke kiri mirip orang tua yang kelelahan menahan encok. Pintunya sudah lama raib, entah dicolong maling kere atau tandas dikunyah rayap. Saat mereka melangkah masuk, udara pengap langsung menyergap paru-paru. Aroma di dalamnya adalah perpaduan yang ganjil antara kencing tikus, debu jerami, dan bau kutukan. Kepala Dusun dan beberapa lelaki mencoba mengusir kelelawar yang bergelantungan di kasau-kasau lapuk.

“Setidaknya di sini kita tidak berlindung sementara waktu,” gumamnya, lebih terdengar seperti membujuk dirinya sendiri, sambil mendudukkan pantatnya di atas tumpukan karung goni busuk.

Seorang perempuan tua, meludah ke lantai tanah. Ludahnya bercampur sepah sirih, merah pekat serupa darah yang sering diceritakan dalam dongeng-dongeng hantu di warung kopi. “Aku sudah tua, dan makin tua, nasibku selalu sial. Malah diusir dari kampung yang sudah kutinggali selama berpuluh tahun.” rutuknya.

“Memang bangsat. Anak sama Bapaknya tidak jauh beda, sama-sama biadab!”


“Percuma bicara, kalau kita cuma bisa diam.”

“Lalu kita harus gimana? Melawan, yang dibayar mereka itu preman, masalah bunuh orang, buat mereka itu gampang, kecil, yang penting duit.”

“Kalau mereka ke sini … apa yang harus kita lakukan?”

“Diam saja, begitu ….”

“Ya, mau gimana lagi, kita lawan saja.”

“Jangan,” kata si kepala dusun, “kalian masih muda, jangan berpikir pendek. Mereka itu sudah biasa bunuh orang, kalau kalian mati, gimana? Lihat, banyak orang yang perlu kita jaga. Selagi mereka tidak membahayakan kita, biarkan saja, tapi kalau mereka langsung main pukul, apa boleh buat, kita lawan.”

“Betul, betul ….” Mereka semua mengangguk mengiyakan.

“Pak, selain di sini, apa ada tempat lain yang bisa kita datangi … cuma jaga-jaga,” kata lelaki gondrong.

“Satu-satunya tempat … seandainya mereka datang mengacau, di puskesmas. Kalau di situ mereka tidak berani.”

Lihat selengkapnya