Sepulang dari puskesmas, bau asap gudang yang masih mengepul menempel di baju Seth seperti kudis yang tidak mau lepas. Langit sudah gelap total, kabut turun rendah sekali, menyelimuti pepohonan pisang sampai hanya tersisa siluet hitam yang bergoyang pelan seperti orang digantung. Rumah besar tampak seperti binatang raksasa yang sedang tidur dengan mulut terbuka. Penerangan di ruang tengah, cahayanya kuning sakit, membuat bayangan di dinding menari seperti hantu yang tidak sabar menunggu. Matias tergeletak di sofa di ruangan pribadinya, mabuk berat. Botol arak kosong berguling di lantai. Bau alkohol bercampur bau keringat basah dan nafsu yang busuk. Matias tertawa sendiri, bibir basah, mata merah.
“Kau mabuk, pak,” kata Seth berdiri di depan pintu.
“Kemari,” panggil Matias. “Duduk sini.”
Seth mendekat dan duduk di sebelah Matias. “Minum?” tawarnya. Seth menggeleng.
“Mabuk itu tidak bagus, pak.”
“Malahan mabuk, bisa bikin kita lupa dengan dunia. Kita bisa enjoy sementara dan menikmati apa yang kita miliki, tanpa pusing urusan hidup. Heh.” Matias tertawa kecil.
“Lalu bagaimana dengan mereka yang pak Matias usir?”
“Biar Jafar yang urus. Emosiku tidak stabil.”
“Amara barangkali sudah tahu yang pak Matias lakukan pada mereka.”
“Sudahlah, tidak masalah kalau dia tahu. Biarkan saja. Pikiranku lagi kacau.
“Pasti karena dia.”
“Mau siapa lagi kalau bukan dia. Dia saudari tiriku, bikin aku gila, dan … dan entah kenapa, aku ingin sekali menidurinya. Sialan memang.”
“Amara jujur cantik, pak. Siapa saja bisa tergoda melihatnya. Mujur di desa ini tak banyak lelaki genit, coba kalau di kota, pasti sudah banyak yang ingin kawin dengan dia.”
“Betul sih, beruntung dia tinggal di sini, bukan di kota.” Matias meneguk minuman di gelasnya. Matias melanjutkan, “Omong-omong, soal Bashan, apa kau sudah mulai terbiasa melihat orang ditembak, mati di depan matamu sendiri?”
Seth menggeleng, tersenyum miring. “Tidak tahu, pak.”
“Lupakan, lupakan, itu rahasia kita.”
Seth kemudian teringat dengan kalung liontin yang dia pungut dari lantai di ruangan ini. “Oh iya, pak, tadi … aku menemukan ini di lantai, waktu memeriksa dokumen surat-surat tanah tadi siang,” kata Seth, sambil mengeluarkan kalung itu pelan-pelan, dan memberikannya pada Matias. Kalung liontin tersebut kusam, dan berkilat di bawah cahaya lampu yang pucat.
“Kalung ini,” kata Seth, suaranya datar tapi bergetar di ujung. “Kau pernah pegang di lahan kosong itu dulu, waktu kita baru datang. Siapa pemiliknya, Tuan?”
Matias menatap kalung lama. Matanya yang mabuk tiba-tiba jernih sejenak, lalu gelap lagi. Ia meraih kalung itu dan memutar-mutar.
“Ini … Heh.” Ini milik perempuan yang dibakar hidup-hidup oleh Bapak.”
Seth terperanjat.