Seth tersenyum pura-pura, sambil mengucapkan terima kasih, dan keluar dari situ menuju ke mobil yang terparkir di luar, menyalakannya, dan bergerak menuju ke rumah Amara. Masih sekitar seratus meter dari rumah Amara, Seth memandang dari mobil, Amara sementara menjemur pakaian bersama si bisu Sisilia, kesayangannya. Melihat mobil Matias mendekat, Amara langsung mengajak Sisilia cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Seth memarkirkan mobil, ia turun, dan berjalan ke pintu depan. Seth mengetuk pintu. “Amara, minta tolong, saya mau bicara sebentar.”
Amara membalas dari dalam rumah, “Mau bicara apa?”
“Pak Matias ….”
“Sudah kubilang, aku tidak mau bertemu abang.”
“Pak Matias lagi sakit keras di rumah, pak Matias, ingin kamu datang dan jenguk biar cuma sebentar.”
Di dalam rumah, Amara duduk bersama Sisilia di kedera panjang. Sisilia tampak, terus memegang lengan Amara. Barangkali ia ingin, Amara tidak menemui Matias. Sisilia menatap Amara, menggelengkan kepala.
“Pak Matias Demam tinggi sejak semalam. Dia terus memanggil-manggil kamu, dan mengigau bilang dia tidak mau sendirian.”
Amara hendak mau membukakan pintu, tapi Sisilia kembali menahan lengannya. Sisilia menggeleng, jangan buka.”
Tak mempan dengan hanya sebatas kata-kata, Seth berakting sedih, hingga menangis di depan pintu. “Amara, saya mohon, tolong jenguk Pak Matias, dia sekarat, Amara, tolong ….”
Langkah kaki dari dalam rumah terdengar merapat ke pintu. Seth masih berpura-pura sedih, lalu video call pada Matias. Pintu dibuka. Amara berdiri dengan tatapan jengkel. Matias mengangkat telepon yang ternyata dipegang oleh pak Petrus. Seth memperlihatkannya pada Amara. Matias sungguh tampak, kelihatan sekarat di tempat tidur, mengigau, memanggil-manggil nama Amara. Ia sudah seperti orang yang mau mati. Melihat keadaan Seth yang dibuat-buat itu, hati Amara langsung tersentuh. “Abang ….” tatapannya sedih. Dan sepertinya, Amara berhasil masuk ke dalam perangkap yang dibuat Seth untuk menghancurkan Matias.
“Kamu jaga rumah, aku mau ke rumah abang Matias. Meski aku marah sekali, tapi dia juga tetap abangku.”
Sisilia kembali berupaya untuk menahan Amara, tapi Amara sudah terlanjur percaya pada kebohongan itu.
“Maaf, Sisilia, aku harus pergi. Kamu di rumah, ya.”
Sisilia menunduk, ia tahu, ia sudah kalah, untuk membuat Amara tidak pergi ke rumah Matias. Ia pun merelakan Amara jatuh ke dalam perangkap setan. Setelah tiba di rumah Matias, Amara masuk ke kamar dengan tulus. Matias berbaring, wajah pura-pura pucat, tapi hasrat, napsu, dan egonya ingin meniduri Amara telah memuncak dan lapar. Seth dan pak Petrus keluar dan menutup pintu. Amara merapat pelan-pelan pada Matias. “Abang ….” panggilnya pelan. “Abang … ini Amara.” Amara duduk di tepi kasur.
Matias pura-pura membuka matanya pelan-pelan, dan berkata, “Apa kamu ini Amara?”
“Iya abang. Amara datang kemari jenguk abang.”
Matias bersedih. “Amara, abang sungguh minta maaf, kalau abang ada salah. Abang minta maaf. Abang kangen sama Amara.”
“Abang istirahat dulu, biar aku jagain.”
“Makasih Amara.”
“Abang obatnya di mana, aku ambilkan. Abang harus minum obat, biar cepat sembuh.”
Tiba-tiba saja, tangan Matias bergerak lebih dulu, memegang tangan Amara. Ia meraih pergelangan Amara, suaranya berubah normal.
“Amara ….”
Amara mengerutkan dahi, curiga. “Abang ….”
Sudah tidak tahan lagi, berpura-pura sakit di hadapan Amara, Matias lalu menarik Amara ke atas kasur dengan kekuatan yang mengejutkan, dan berkata terang-terangan, “Abang cinta padamu, Amara. Abang cinta! Bukan sebagai saudara. Sebagai lelaki. Kau milikku. Sejak abang kembali ke desa ini, abang sudah suka sama kamu.”
“Apa-apaan ini abang?” Amara berupaya melepaskan tangannya.
“Jangan tolak abang, abang mohon!”
“Abang ternyata pura-pura sakit, biar aku datang jenguk abang kan? Heh!”
“Maaf, abang harus lakukan ini, supaya kamu datang. Abang sungguh jadi gila karena kamu Amara.”
“Aku sudah curiga pada abang sejak di gubuk itu. Tapi, aku tulus datang kemari karena tahu abang sakit. Ternyata abang sebusuk itu pada saudara sendiri!”
Amara menarik-narik tangannya.