Matias bersandar di bawah kaki tempat tidurnya. Wajahnya memar, bibirnya bengkak, dan hidung berdarah, tapi matanya sudah tajam seperti pisau yang baru diasah. Seth membuka pintu, merapat ke Matias pelan-pelan dengan tangan di saku, wajahnya tenang, kelihatan tidak ada beban.
“Bagaimana Aram bisa tahu, aku sedang bersama Amara di dalam kamar?” tanya Matias pada Seth.
Seth menunduk dan berbohong, “Paling yang mengadu pada Aram, Sisilia, pak.”
“Si bisu sialan itu datang kemari?”
Seth mengangguk.
“Mau apa dia?”
“Mungkin dia kemari ingin mengetahui keadaan Amara, pak,” dustanya. Tenang dan halus. “Aku juga kaget, waktu berpapasan dengan dia di jalan dekat sini sepulang beli rokok di warung.”
“Kenapa kamu biarin dia pulang?”
“Maaf, pak, dia di motor, dan motornya ngebut. Tidak bisa kutahan. Jadi saya lekas-lekas kemari.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Saya tidak mau ganggu, pak Matias dan Amara di dalam kamar.”
Matias menggeleng, menutup mata. “Sialan.” Matias menahan sakit, dan perlahan-lahan berdiri dari lantai. “Tapi kenapa dia bisa lihat? Padahal, pintunya aku kunci,” gumamnya pelan. Ia lalu menatap Seth lama. Ada kecurigaan di sana, tipis seperti asap rokok yang belum hilang. Namun, pikirannya sedang kacau—sakit, amarah, dan bayangan Amara yang masih menempel di kulitnya. Dia kembali menggeleng.
“Kurang ajar si bisu! Aku akan habisi dia. Tidak ada yang boleh tahu,” katanya.
Seth melangkah mendekat, suaranya lembut. “Biar aku yang bantu, pak,” sambung Seth yang sudah dikuasai dendam.
Matias menatapnya, lalu mengangguk pelan. “Apa kau yakin?”
“Serahkan padaku.” Seth tersenyum manis, dengan wajah sungguh-sungguh.
“Hmm. Rupanya kau sudah terbiasa, ya, hah? Sudah mulai menerima, kalau majikanmu ini orang biadab.”
“Aku cuma jongos. Apapun yang pak Matias lakukan, itu juga urusan saya.
“Baik. Kau urus.”
Di rumah Aram, Amara berdiri di tengah ruang tamu. Aram memasang wajah ganas di depannya, matanya merah, dada naik turun, napas memburu.
“Kau tidur dengan bangsat itu!” teriak Aram. Suaranya memantul di dinding. “Kau sudah tidak punya harga diri Amara? Atau kau sudah lupa si bangsat itu abang kita.”
Amara membuka mulut, tapi kata-katanya tertahan. “Aku sudah bilang, tapi dia tidak peduli, abang. Aku tidak kuat melawan.”
“Kurang ajar manusia itu!” umpatnya. “Dia datang ke desa ini, cuma bikin rusuh, terus perkosa kamu. Bangsat!”
Aram melangkah maju, jari telunjuknya menuding. “Kamu masuk ke kamar sekarang!”
Amara membentak, “Abang ….”
“Masuk!” perintahnya, matanya melotot.
Amara masuk ke dalam kamar lalu membanting pintu, ia bersandar di pintu, menangis dan perlahan duduk meringkuk di muka pintu kamarnya. Aram mengunci pintunya dari luar.
“Sisilia, pegang kunci ini, kamu yang jaga Amara.”
Aram masuk ke dalam kamarnya lalu mengambil sejumlah uang, lalu keluar menemui Sisilia. “Aku mau bayar gaji orang kerja di ladang. Jangan kemana-mana. Aku tidak lama.”
Sisilia mengangguk patuh, Aram dengan pikiran yang bancuh, menyalakan motor dan kembali ke ladang. Sisilia duduk di depan meja makan, sambil mendengar Amara merengek-rengek hingga lewat tengah hari. Menjelang sore, langit berwarna kuning tua. Anjing-anjing mulai melolong, memanggil setan. Jalanan kosong, tampak tidak ada orang yang beraktivitas, seperti menunggu orang mati lewat untuk dikuburkan. Namun hanya ada satu mobil yang benar-benar memecah kesunyian. Mobil Matias yang dikendarai Seth mendekat ke rumah Aram. Dia berhenti di depan rumah, memanggil Sisilia yang sedang duduk di beranda sambil melamun.
Seth mengklakson. Sisilia mengangkat kepala. Seth kemudian memanggilnya dengan tangan. Sisilia menghampirinya.
“Kamu sendirian?”
Sisilia menggeleng, ia berkata dengan bahasa tubuh, “Aku lagi jaga Amara.”
“Aram di dalam?”
“Tidak, dia sudah kembali ke ladang, bayar orang kerja.”
“Bisa temani aku sebentar?”
“Buat apa?”
“Temani aku ngobrol. Aku stres dimarahi pak Matias soal kejadian itu. Seolah-olah aku yang salah, padahal aku tidak tahu apa-apa,” bohongnya, supaya Sisilia percaya.
“Kita ngobrol di teras saja.”
“Bagaimana kalau di pemandangan? Kan deket dari sini, sekalian cari udara sejuk.”
Sisilia menunduk, menggeleng pelan, lalu menunjuk ke kamar Amara. Tangannya membuat gerakan kunci. “Amara lagi dikurung di kamar, aku kuatir kalau ditinggal.”
“Tidak lama kok, setengah jam, kita balik. Paling Amara juga tidur. Dan sebenarnya, aku mau kenal kamu lebih dekat, kamu mau kan?”
Sisilia ragu. Matanya bergerak ke pintu masuk, lalu ke wajah Seth yang hangat. Akhirnya dia tidak bisa menolak ajakan Seth, yang mau melemparkannya ke dalam jurang malapetaka. Si bisu yang polos, sungguh kasihan dirimu, selamat tinggal.
Sisilia pun mengangguk dan naik ke dalam mobil. Seth menghidupkan mesin, melaju pelan melewati jalan setapak yang sepi, diapit sawah yang sudah menguning. Di belokan, di balik semak, orang suruhan Matias ternyata telah bersembunyi di balik kaca mobil yang hitam—di belakang tempat duduk Sisilia. Lelaki itu pelan-pelan mengangkat tubuhnya ke atas, segera membekap mulut Sisilia.
“Sisilia,” ucap Seth.
Sisilia menoleh, tatapannya polos, dan raut wajah tak bersalah.
“Kamu cantik, tapi ….”
Sisilia mengernyitkan kening, menunggu Seth melanjutkan. Tapi sayang, kau mudah tergoda dan kau tidak akan berumur panjang.”
Seketika Sisilia membelalak dan saat itu juga, sebuah kapas basah menempel di hidung Sisilia, berbau alkohol dan obat tidur. Lelaki itu membius Sisilia. Ia sempat melawan sejenak, tangan kecilnya memukul, tapi tubuhnya lemas. Matanya masih terbuka ketika mereka membawanya ke gudang tua di ujung desa—gudang yang masih berbau darah Bashan. Di dalam, Matias sudah menunggu. Kedua tangannya diikat dan ia ditendang Matias.
“Kau yang bilang ke Aram?” tanya Matias, suaranya tenang.
Sisilia menggeleng keras, air mata mengalir. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara. Hanya desahan. Keringat dingin bercucuran.
“Kau telah membuat kesalahan besar. Kau memang tukang cari masalah. Kenapa kau tidak diam saja, dan tidak usah berlagak, kalau kau itu bisa ngomong, bangsat!”
Matias mengambil pisau dan mengangkatnya ke depan wajah Sisilia. “Pisau ini, akan menutup mulutmu selamanya di dalam kuburan yang kau gali sendiri. Dadah bisu.”
Matias tertawa jahat. Sisilia menggeleng-geleng, memohon supaya tidak dibunuh. Namun pisau itu, lebih cepat menembus kulit dadanya. Matias menikam dada Sisilia, dua kali, sampai tubuh Sisilia lemas, kepala tertunduk. Dan terakhir, untuk melampiaskan kekesalannya, ia menikam leher Sisilia. Sisilia pun menghembuskan napas terakhirnya. Akan tetapi, tanpa diketahui Matias, Seth ternyata berdiri di sudut pintu di luar gudang, sambil memegang handphone dan telah merekamnya. Matias sungguh-sungguh telah masuk ke dalam jurang, menuju penderitaan yang sementara menunggu gilirannya nanti.