Si Jafar dan para preman bayaran itu telah mati. Mayat mereka kini berjejeran bersama dengan jasad Aram di depan rumah Jafar. Di depan mayat-mayat tersebut, ada Nora, Feodora, dan orang-orang kampung yang sedang berdiri memandanginya.
“Kasihan belum kawin sudah mati,” kata Nora menatap jasad Aram.
“Dia kakaknya Amara,” balas Feodora.
“Sama saja, mereka masih bau busuknya Salman.”
Tiba-tiba, Istri Jafar yang gendut dan mukanya yang menjengkelkan, datang dengan mobil sedan putih bersama dengan supirnya. Tanpa turun dan singgah untuk melihat keadaan rumahnya yang hancur dan kondisi suaminya yang sudah jadi mayat, ia pura-pura cuek saja, dan tidak menyuruh supirnya berhenti, sebab semua wajah-wajah mengerikan yang masih hidup di depan sana, memandangi mereka di dalam mobil, seolah-seolah mereka itu buruan berikutnya yang mereka incar.
“Nyonya, kita tidak singgah?” tanya si supir memasang wajah kikuk.
“Singgah? Bodoh dipiara!” tegurnya. “Kamu tidak lihat wajah mereka itu mau makan kita. Kalau kamu sudah bosan hidup, kamu saja yang turun. Sana turun!” Ia marah dan membelalak pada supirnya.
“Tidak, tidak, maaf nyonya, maaf,” ucapnya merendah.
Istri Jafar sempat mengerutkan kening, ketika memandang ke belakang ketika mobil menjauh, sebab ia heran melihat orang-orang kampung seperti mengelilingi sesuatu, seakan-akan mereka menutupi sesuatu yang tidak diperbolehkan orang lain. Namun, sekilas ia melihat ke jendela yang hancur dan ada bercak-bercak darah di dinding di depan rumah. Ia seketika panik, dan berpaling ke depan, ia menatap ke jalan panjang menuju ke desa sebelah. Sekali ia menelepon Jafar, tidak diangkat. Ia bingung dan berpikir, kalau suaminya itu barangkali telah ditimpa malapetaka.
“Jalan cepat, pak, ada urusan yang harus kuselesaikan di kecamatan,” perintahnya.
“Baik bu.”
Matahari semakin miring, langit mulai tampak gelap. Napas Matias memburu, ketika ia sampai di pintu depan rumahnya dan mendobraknya sendiri. Peluhnya sebesar biji jagung, anyir oleh ketakutan yang menggenang di pori-porinya. Ia susah payah lari tunggang langgang menghindari maut yang tiba-tiba mengendus tengkuknya. Di ruang tengah yang gelap, ia berteriak memanggil-manggil nama pak Petrus, namun, hanya gema suaranya sendiri yang memantul dari dinding-dinding perabotan jati.
Rumah itu sepi seperti kuburan yang belum digali. Jantung Matias berdebar makin gila. Panik mulai merambati tubuhnya, menyengat seperti ribuan semut merah. Sialan, rutuknya berulang kali. Ia meraba kantong celana, teleponnya tidak ada. Bangsat, umpatnya.
Ia tidak punya waktu menelepon seseorang. Dengan langkah serabutan, ia berlari ke kamarnya, membongkar laci lemari, dan meraup bergepok-gepok uang tunai ke dalam tas kulitnya. Tak lupa, ia mengambil pistol di dalam laci di meja pribadinya. Jika mati adalah kesialannya di desa jahanam ini yang ia buat sendiri, maka, ia lebih baik lari daripada mati konyol. Namun, kesialan itu memang tak pernah datang sendirian.
Saat ia bergegas keluar melalui pintu depan, halaman rumahnya tak lagi kosong. Langit yang dikepung awan hitam, telah diusir oleh suara-suara mengerikan para warga desa yang datang untuk membuatnya dikubur selamanya. Di barisan paling depan, kepala desa berdiri dengan wajah sekeras batu, matanya menyorotkan dendam, menghampiri pintu. Aroma kuburan yang datang tiba-tiba, sempat membuat Matias nyaris kencing di celana.
“Keluar kau bangsat!”
“Cepat keluar!”
“Keluar!”
“Keluar kau anak setan!” teriak orang-orang yang marah itu.
Tidak mau mengambil risiko dicincang parang, Matias buru-buru mundur. Ia membanting pintu, menguncinya dengan gemetar, dan menyeret sebuah bufet berat untuk mengganjalnya.
“Pergi kalian!” teriaknya panik sekali. “Pergi dari sini!”
Di luar, suara dengungan, berubah menjadi teriakan-teriakan seperti binatang buas. Terdengar hantaman benda tumpul pada kayu jati pintunya. Sekali. Dua kali. Kayu itu mengerang, lalu retak.
“Bedebah kalian semua! Kutu busuk!” Matias memaki ke arah pintu, tangannya memegang erat sepucuk pistol. Ia mengokangnya dengan tangan gemetar. Tak lama setelah itu, Pintu akhirnya jebol dengan suara derak yang memekakkan telinga. Para warga merangsek masuk, membawa parang, celurit dan sabit, siap membuatnya meninggal tanpa berteriak nama Bapaknya. Matias yang merasa sudutnya telah habis, mengangkat pistolnya dan menodongkannya tepat ke arah mereka, terutama ke dada kepala desa.
“Maju selangkah lagi, kutembak kepala kalian satu-satu!” ancamnya, suaranya pecah di ujung kalimat.
Si kepala dusun menahan warga di belakangnya yang masih nekat mau menyerang Matias. Matias mundur perlahan-lahan ke belakang.
“Maju kalian! Maju! Kutembak!”
Namun, sebelum jari telunjuknya sempat menarik pelatuk, sebuah bayangan bergerak cepat dari belakangnya. Seseorang mengayunkan balok kayu tebal tepat ke belakang kepala Matias. Berbunyi gedebuk dan keras. Pandangan Matias seketika meledak menjadi jutaan bintang putih sebelum akhirnya bergulung dalam kegelapan mutlak. Ia pingsan sebelum tubuhnya menyentuh lantai. Seth lalu muncul dari belakang mereka.
“Mau kita apakan majikan kita ini pak?” tanya pak Petrus yang memegang balok.
“Kita bawa dulu dia ke lahan kosong, yang ada rumah tua dan pohon kering itu.”
“Kenapa di tempat itu pak?”
“Dia harus mengingat kembali apa yang Bapaknya lakukan pada si pemilik kalung ini, baru dia kita bunuh!”
“Angkat dia dan bawa ke mobil,” perintah Seth, “Yang lain, pergilah ke rumah kalian dan ambil obor.”
“Iya, iya pak.” Matias lalu dibawa mereka menuju ke sana.
Malam pun datang, Matias tersadar oleh sensasi dingin yang menyengat kulit dan bau pesing yang aneh. Bukan, itu bukan pesing. Matanya terbuka, mengerjap menahan perih setelah disiram bensin. Hal pertama yang ia rasakan adalah tangannya yang mati rasa, terikat erat ke belakang dengan tali tambang yang kasar. Ia sedang bersujud di tanah gembur, tanah yang sama yang ia singgahi saat kembali menginjakkan kaki di kampung sialan ini.
Ia mengangkat wajahnya yang berlumur lumpur dan darah kering. Di depannya, berdiri barisan orang-orang yang wajahnya diterangi cahaya rembulan dan obor. Ada Seth, berdiri dengan tenang seperti malaikat maut. Ada Pak Petrus, ada Nora, perempuan yang matanya kosong namun menyimpan bara, Feodora dengan busur panah di tangannya, dan orang-orang di situ yang menatapnya seperti menatap bangkai babi.
“Kalian mau apa, Hah?” teriak Matias. Namun suaranya terdengar seperti rengekan. Bau bensin yang menyengat dari sekujur pakaiannya membuat nyalinya rontok. “Lepaskan aku! Lepaskan aku, bedebah! Aku akan kembalikan semuanya! Semua aset, semua surat tanah yang kusita, ambil semuanya! Kalian mau uang? Aku punya banyak! Tolong, lepaskan aku.”
Tak ada yang menyahut. Mereka hanya berdiri tersenyum dan memaki, dan barangkali ada yang mengutuk dalam hati. Diam mereka lebih mengerikan daripada cacian dan hinaan oleh orang-orang sombong.
“Seth, apa yang kau lakukan, tolong bilang pada mereka, supaya lepasin aku.”
Seth tersenyum, melangkah maju, memecah keheningan dengan suara sepatunya yang menginjak ranting kering.
“Maaf, pak Matias yang terhormat. Itu tidak bisa,” katanya.
“Apa maksudmu?” tanya Matias dengan jantung berdebar.
“Aku harus menyelesaikannya di sini.”
“Selesain apa, hah? Apa?” teriaknya dengan wajah panik dan air mata.
Seth hanya diam. Matias lalu menatap pak Petrus. “Pak Petrus, tolong, aku pak, bilang pada orang-orang ini supaya membebaskan aku. Tolong pak.”
Pak Petrus juga, tidak mau bersuara. Ia kembali menatap Seth. “Seth, aku janji, kalau kamu bebasin aku, aku akan berangkat ke luar negeri dan kampung ini jadi milik kamu. Silahkan ambil semua. Dan Ibumu Sara ….”
Seth memandang Matias. “Kamu jemput dia di rumah dan tinggal sama kamu, ya,” bujuknya supaya Seth tergoda kelicikannya. “Rumahku juga di sini, kau boleh ambil, dan uang-uangku juga, ambil dan bangun kampung ini sesuai keinginanmu.”
Ia menatap Matias dengan pandangan yang sulit diartikan—bukan sekadar benci, tapi maksud terselubung yang ingin menghancurkan Matias.
“Kau pikir ini soal uangmu yang najis itu, hah?” suara Seth terdengar berat, mengambang di udara malam yang dingin. “Kau pikir dunia ini cuma berputar di atas surat tanah dan emas yang dikumpulkan bapakmu dari memeras darah orang-orang di sini?”
Matias menelan ludah. “Lalu apa? Apa salahku padamu?”
Seth menoleh ke arah Nora, perempuan yang selama ini dianggap gila oleh seluruh desa. "Ceritakan padanya, Nora. Biar telinganya terbuka sebelum tubuhnya jadi arang.”
Nora maju selangkah. Bibirnya yang keriput bergetar, namun suaranya keluar bagai kutukan. “Bapakmu, Salman... babi biadab yang kalian panggil tuan itu ... dia yang membunuh anakku, Ada.”
Matias mengernyit. “Aku tidak tahu apa-apa soal ….”
“Diam saja, tak perlu bicara!” bentak Seth. “Dengarkan!"
Seth lalu mengambil alih cerita itu, menceritakan segalanya dengan nada datar yang mematikan. Semua itu diceritakan Nora pada Seth tempo hari, saat ia berkunjung ke rumah Feodora sebelum Bashan dihabisi.