Clara Adeline tidak pernah menyangka bahwa hadiah ulang tahun pernikahannya yang keenam adalah pemandangan paling menyakitkan dalam hidupnya.
Malam itu, ia berdiri di depan pintu ruang kerja suaminya dengan sebuah kotak hadiah berwarna hitam di tangan. Gaun satin berwarna champagne yang dikenakannya masih tampak sempurna. Rambut panjangnya ditata sederhana, sementara senyum kecil sejak tadi menghiasi wajahnya.
Ia baru saja menghabiskan waktu hampir dua jam menyiapkan makan malam di rumah mereka.
Nathaniel Pratama, suaminya, memang tidak pernah menyukai perayaan berlebihan. Karena itulah Clara memutuskan untuk memberikan hadiah secara pribadi, tanpa pesta, tanpa tamu, hanya mereka berdua.
Namun, sebelum tangannya sempat mengetuk pintu, Clara mendengar suara tawa seorang perempuan dari dalam ruangan.
Suara itu sangat dikenalnya.
Vanessa Laurent.
Sahabatnya sejak masa kuliah.
Clara mengernyit. Vanessa seharusnya berada di luar kota untuk menghadiri sebuah acara perusahaan. Bahkan pagi tadi, perempuan itu sempat mengirimkan pesan bahwa ia tidak bisa datang ke makan malam ulang tahun pernikahan Clara.
Lalu mengapa suaranya terdengar begitu jelas dari ruang kerja suaminya?
Clara mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci.
Dan dunianya runtuh dalam satu detik.
Nathan berdiri di dekat meja kerjanya, sementara Vanessa melingkarkan kedua tangan di leher pria itu. Bibir mereka bertaut dalam ciuman yang sama sekali tidak terlihat seperti kesalahan sesaat.
Kotak hadiah terlepas dari tangan Clara.
Benda itu jatuh ke lantai dengan suara keras.
Nathan dan Vanessa langsung menoleh.
Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara.
Clara menatap suaminya. Kemudian sahabatnya. Lalu kembali kepada suaminya, seolah berharap matanya telah melakukan kesalahan.
Sayangnya, pemandangan itu tidak berubah.
“Nathan?”
Hanya satu kata yang berhasil keluar dari bibirnya.
Nathan melepaskan tangan Vanessa dari lehernya. Ia tidak terlihat panik. Tidak pula berusaha menjelaskan apa yang baru saja dilakukan.
Pria itu hanya menghela napas panjang, seakan-akan Clara telah mengganggunya saat bekerja.
“Kenapa kau pulang lebih awal?”
Pertanyaan itu menghantam Clara lebih keras daripada tamparan.
Ia datang untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka, tetapi suaminya justru mempertanyakan mengapa ia pulang lebih awal.
Clara menelan ludah. “Aku ingin memberikan kejutan untukmu.”
Tatapannya beralih kepada Vanessa.
“Kalian berdua ... sejak kapan?”
Vanessa menunduk sebentar, tetapi Clara sempat melihat sudut bibir perempuan itu bergerak tipis. Bukan ekspresi seseorang yang merasa bersalah. Justru seperti seseorang yang sudah lama menunggu momen ini terjadi.
Nathan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Clara, jangan membuat keributan.”
“Keributan?” Clara tertawa kecil, meskipun air matanya mulai menggenang. “Aku memergoki suamiku mencium sahabatku sendiri, dan kau menyuruhku tidak membuat keributan?”
“Jaga suaramu.”
“Jawab pertanyaanku!”
Suara Clara akhirnya meninggi.
Selama enam tahun, ia selalu berusaha menjadi istri yang baik. Ia menahan diri ketika Nathan pulang larut malam, mengalah ketika pria itu membatalkan janji, bahkan meninggalkan pekerjaan yang dicintainya karena Nathan mengatakan bahwa mereka harus membangun perusahaan bersama.
Ia tidak pernah meminta hadiah mahal.
Tidak pernah menuntut Nathan menghabiskan setiap malam di rumah.
Ia hanya meminta satu hal: kesetiaan.
Dan malam ini, bahkan hal sesederhana itu tidak mampu diberikan suaminya.
Vanessa akhirnya melangkah mendekat.
“Clara, aku bisa menjelaskan.”
Clara menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Menjelaskan apa? Bagaimana kau bisa tidur nyenyak setelah mengkhianati sahabatmu?”
Wajah Vanessa berubah.
“Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu.”
“Kalau begitu, kenapa kau melakukannya?”
Vanessa terdiam.
Clara menggeleng perlahan. “Kau tahu apa yang paling menyedihkan? Aku pernah membelamu ketika semua orang mengatakan bahwa kau hanya mendekatiku karena keluargaku. Aku bahkan membantumu mendapatkan pekerjaan di perusahaan Nathan.”
“Aku tahu,” jawab Vanessa pelan.
“Lalu kau membalasnya seperti ini?”
Vanessa mengangkat wajah. Kali ini, tidak ada lagi kepura-puraan dalam tatapannya.
“Aku tidak bisa terus hidup di bawah bayang-bayangmu, Clara.”
Clara tertegun.
“Apa maksudmu?”