Dendam yang Kau Ciptakan

Aisyah Ariska
Chapter #2

Warisan yang Tersembunyi

Clara tidak tidur semalaman.

Dokumen peninggalan ayahnya terbentang di atas meja kamar hotel. Berkali-kali ia membaca setiap kalimat, berharap menemukan penjelasan yang masuk akal tentang hubungannya dengan Pratama Group.

Bagaimana mungkin ayahnya memiliki hak atas perusahaan Nathan?

Selama enam tahun menikah, Clara tidak pernah mendengar Nathan menyebut nama ayahnya dalam urusan bisnis. Bahkan ketika mereka masih merintis perusahaan, Nathan selalu mengatakan bahwa keberhasilan mereka adalah hasil kerja kerasnya sendiri dan dukungan beberapa investor.

Tidak pernah sekali pun ia menyebut bahwa keluarga Clara mungkin menjadi bagian penting dari perusahaan tersebut.

Pukul delapan pagi, ponselnya berdering.

Nomor yang sama dengan orang yang meneleponnya semalam.

“Selamat pagi, Nona Clara. Apakah Anda bersedia bertemu hari ini?” tanya suara pria di seberang.

Clara melirik dokumen di depannya.

“Saya ingin mengetahui semuanya. Tentang ayah saya, saham itu, dan mengapa saya baru mendengarnya sekarang.”

“Kalau begitu, datanglah ke kantor saya pukul sepuluh. Ada beberapa hal yang sebaiknya saya jelaskan secara langsung.”

Setelah menerima alamatnya, Clara mengakhiri panggilan.

Ia berdiri di depan cermin, memandangi wajahnya sendiri. Matanya sembap karena menangis semalaman, tetapi tidak ada lagi air mata yang ingin ia keluarkan.

Kemarin, ia masih menjadi istri yang berharap suaminya akan memilihnya.

Hari ini, ia ingin mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

Clara mengenakan blus putih dan celana panjang hitam. Rambutnya dibiarkan tergerai, sementara dokumen peninggalan ayahnya dimasukkan ke dalam tas.

Sebelum meninggalkan kamar, ia melihat cincin pernikahannya yang tergeletak di samping tempat tidur.

Ia mengambilnya, menggenggamnya sesaat, lalu memasukkannya ke dalam laci.

Untuk sekarang, cincin itu hanya mengingatkannya pada kebohongan.

Kantor pengacara itu berada di sebuah gedung tua yang masih terawat di pusat kota.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun menyambut Clara di ruang kerjanya. Rambutnya telah memutih di beberapa bagian, tetapi sorot matanya masih tajam.

“Nama saya Hendrik Santoso. Saya pengacara pribadi mendiang ayah Anda.”

Clara menjabat tangannya.

“Maaf, Pak. Saya bahkan tidak tahu bahwa ayah saya memiliki pengacara pribadi.”

Hendrik mempersilakannya duduk.

“Wajar jika Anda tidak mengetahuinya. Ayah Anda meminta agar beberapa dokumen disimpan sampai Anda cukup dewasa untuk memutuskan sendiri apa yang ingin Anda lakukan.”

“Lalu mengapa saya baru menerima semuanya sekarang?”

“Karena ada ketentuan yang harus dipenuhi sebelum hak tersebut dapat Anda gunakan.”

Hendrik membuka sebuah lemari arsip, lalu mengeluarkan map tebal berwarna biru tua.

“Ayah Anda adalah salah satu penyandang dana awal Pratama Group. Ketika perusahaan itu didirikan, beliau memberikan modal yang cukup besar. Sebagai gantinya, dibuatlah perjanjian mengenai kepemilikan saham dan hak pengendalian perusahaan.”

Clara terdiam.

“Jadi, ayah saya membantu Nathan membangun perusahaannya?”

“Bukan hanya membantu. Dana dari ayah Anda menjadi salah satu fondasi utama perusahaan tersebut.”

Clara menunduk, mencoba mencerna penjelasan itu.

Nathan pernah menceritakan betapa sulitnya ia membangun bisnis dari nol. Clara selalu bangga mendengar kisah itu. Ia bahkan membantu Nathan menyusun beberapa laporan keuangan pada masa-masa awal perusahaan mereka.

Namun, Nathan tidak pernah menyebut nama ayahnya.

“Apakah Nathan mengetahui semua ini?” tanyanya.

Hendrik tidak langsung menjawab.

“Dia mengetahui bahwa keluarga Anda pernah terlibat dalam pendanaan perusahaan. Namun, saya tidak bisa memastikan seberapa banyak yang ia ketahui mengenai perjanjian khusus yang dibuat ayah Anda.”

“Perjanjian khusus?”

Hendrik mendorong satu lembar dokumen ke hadapan Clara.

“Bacalah bagian ini.”

Clara mengikuti petunjuknya. Ada klausul yang mengatur bahwa hak pengendalian saham tertentu dapat dialihkan kepada ahli waris apabila terjadi pelanggaran terhadap perjanjian pendirian perusahaan, termasuk pengalihan aset secara melawan hukum.

“Apakah ini berarti saya bisa mengambil alih perusahaan Nathan?”

Lihat selengkapnya