Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Surat dari Masa Lalu

Angin sore berhembus pelan, membawa debu jalanan yang menempel di teras rumah warisan keluarga yang kini tampak begitu usang. Kayu-kayu kusen jendela telah mengelupas, kehilangan cat putihnya sejak bertahun-tahun lalu. Di sanalah, di dalam kotak pos besi berkarat yang nyaris roboh dari tiangnya, Arka menemukan secarik amplop cokelat kusam. Tidak ada stempel pos baru di sana, hanya selembar kertas resmi dari instansi hukum yang mencantumkan nama almarhum ayah mereka dan ancaman penyitaan mutlak dalam waktu kurang dari sebulan jika tunggakan pajak serta sisa hipotek tidak dilunasi.

Arka meremas surat itu dengan tangan bergetar. Udara di sekitarnya terasa semakin menyesakkan. Rumah tua di Jalan Mawar Nomor 12 ini bukan sekadar bangunan tua tempat berteduh; rumah ini adalah saksi bisu dari seluruh fragmen masa kecil mereka, tempat tawa dan tangis keenam bersaudara pernah berpadu sebelum waktu dan ego memisahkan mereka masing-masing. Kini, bangunan itu berdiri seperti raksasa tua yang sekarat, menunggu waktu untuk dirobohkan oleh dinginnya birokrasi kota.

"Kita tidak boleh membiarkan ini terjadi begitu saja," gumam Arka pelan pada dirinya sendiri, menatap lurus ke arah pintu utama yang tertutup rapat.

Ia tahu, satu-satunya cara untuk menyelamatkan rumah ini adalah dengan mengumpulkan kembali mereka yang telah lama pergi. Keenam saudara kandung yang selama sepuluh tahun terakhir sibuk dengan hidup, luka, dan jarak masing-masing. Arka segera mengeluarkan ponselnya dari saku jaket, menarik napas dalam-dalam, lalu mulai mengirimkan pesan singkat ke grup keluarga yang telah lama mati suri. Pesan itu singkat, namun sarat akan urgensi yang tidak bisa diabaikan lagi. “Rumah Ayah akan disita. Datanglah malam ini. Kita harus bicara.”

❖ ❖ ❖

Malam pun tiba, menyelimuti kawasan perumahan lama itu dengan keheningan yang mencekam. Lampu gantung tua di ruang tamu berdengung pelan, memancarkan cahaya kekuningan yang redup dan temaram. Untuk pertama kalinya setelah satu dekade penuh, keenam bersaudara itu kembali berada di bawah satu atap yang sama. Debu tipis mengepul setiap kali salah satu dari mereka melangkah masuk, menambah kesan asing di tempat yang seharusnya paling akrab.

Fathan, anak sulung yang kini mengenakan setelan jas kantor yang tampak kusut, berdiri menyandar di dinding dekat lemari buku tua. Wajahnya menyiratkan kelelahan yang teramat sangat akibat tekanan pekerjaan di kota besar.

"Kau yakin ini waktu yang tepat untuk mengumpulkan kami, Arka?" tanya Fathan dengan nada suara berat, memecah keheningan yang sejak tadi mendominasi ruangan.

Di sudut ruangan, Yassir menyilangkan tangan di dada dengan senyum sinis tersungging di bibirnya. Matanya menatap berkeliling ruangan seolah sedang menilai harga jual properti tersebut. "Buat apa kita bernostalgia di tempat bangkrut ini? Rumah ini sudah lama mati, Fathan. Biarkan saja mereka mengambilnya. Kita semua toh sudah punya hidup masing-masing."

"Jaga mulutmu, Yassir!" sergah Samaira tajam, melangkah maju dengan tatapan penuh kemarahan. Ia adalah anak keempat yang selama ini merantau ke luar pulau dan baru saja turun dari taksi dengan napas memburu. "Ini bukan cuma soal bangunan tua! Ini tentang kenangan kita, tentang tempat di mana ibu dan ayah menghabiskan seluruh hidup mereka!"

Azalia, anak kelima yang berprofesi sebagai seorang seniman muda, hanya diam membisu di dekat jendela. Ia sibuk mengusap permukaan kaca yang berdebu, menatap pantulan wajahnya sendiri di sana. Sementara itu, Zahra, si bungsu yang masih kuliah, duduk meringkuk di sofa kain yang sudah robek di bagian lengan, menatap lantai kayu dengan mata berkaca-kaca.

"Kita di sini bukan untuk saling menyalahkan," Arka bersuara tegas, berdiri di tengah-tengah lingkaran saudara-saudaranya. "Rumah ini akan disita dalam waktu tiga minggu ke depan. Kalau kita tidak melakukan sesuatu sekarang, tempat ini akan hilang selamanya."

❖ ❖ ❖

Suasana ruang tamu langsung berubah menjadi medan pertempuran verbal yang panas. Perdebatan sengit pecah seketika antara Arka yang bersikeras ingin mempertahankan rumah warisan tersebut dengan Yassir yang bersikap realistis namun terkesan dingin dan menyerah begitu saja.

Lihat selengkapnya