Denyut Nadi di Rumah Kita

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Debu dan Ego

Pagi itu, cahaya matahari menembus jendela kaca ruang depan dengan malas, menyinari debu-debu halus yang menari-nari di udara. Rumah tua peninggalan orang tua mereka selalu menyimpan ritmenya sendiri, lambat dan penuh kenangan. Zahra berdiri di sana, memegang sehelai kain mikrofiber di tangan kanannya. Niatnya sederhana: membantu merapikan ruang tamu sebelum matahari semakin tinggi dan penghuni rumah lainnya terbangun. Namun, sebuah gerakan ceroboh mengubah segalanya dalam sepersekian detik.

Siku tangan Zahra menyenggol sudut meja konsol kayu jati tempat vas antik kesayangan keluarga diletakkan. Vas keramik biru berukir naga emas itu, yang selama puluhan tahun dijaga ketat dari senggolan sekecil apa pun, meluncur bebas ke udara.

Prank!

Suara pecahnya keramik menggema nyaring, memecah keheningan pagi. Serpihan vas berserakan di atas lantai marmer, tampak seperti pecahan jiwa yang mustahil disatukan kembali. Zahra terpaku, napasnya tercekat di tenggorokan. Matanya menatap nanar pecahan barang bersejarah yang hancur berkeping-keping di kakinya.

"Zahra! Ada apa itu?!" suara Fathan melengking dari arah lorong kamar tidur, terdengar penuh ketidaksabaran.

Langkah kaki berat mendekat dengan cepat. Fathan muncul di ambang pintu ruang depan dengan wajah kusut khas orang baru bangun tidur. Namun, ekspresinya langsung berubah drastis begitu melihat pemandangan di depannya. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang, dan matanya membelalak menatap pecahan vas yang berserakan, lalu beralih tajam ke arah Zahra yang berdiri gemetar.

❖ ❖ ❖

"Apa yang kamu lakukan, Zahra?!" Fathan berseru, suaranya menggelegar di ruangan yang sempit itu. "Kamu ini benar-benar tidak bisa diandalkan! Vas itu barang antik, peninggalan sah leluhur kita, dan kamu menghancurkannya begitu saja hanya karena kecerobohan yang tidak perlu!"

Zahra menunduk, air mata hampir menetes di sudut matanya. "Aku... aku cuma mau bantu membersihkan debu, Kak. Siku-ku tidak sengaja menyenggolnya. Aku tidak bermaksud..."

"Alasan!" potong Fathan tajam, suaranya meninggi tanpa ampun. "Selalu saja alasan. Niat baik tanpa perhitungan matang itu sama dengan bencana, Zahra. Kamu tidak pernah belajar untuk lebih berhati-hati. Semua hal di rumah ini harus diurus dengan ketelitian, bukan dengan tangan cerobohmu!"

Suasana pagi yang tadinya tenang langsung berubah menjadi medan pertempuran penuh ketegangan. Kata-kata Fathan terasa seperti tetesan air keras yang membakar kulit Zahra. Ia merasa disudutkan, diperlakukan seolah-olah keberadaannya di rumah itu hanya membawa kerugian.

"Cukup, Fathan!" sebuah suara tegas memotong pertikaian mereka dari arah tangga.

Samaira melangkah turun dengan anggun namun tatapannya menyalang penuh kemarahan. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Fathan dengan sorot mata yang tidak kalah tajam.

❖ ❖ ❖

"Kenapa kamu harus membentaknya separah itu?" Samaira maju, berdiri di samping Zahra untuk melindunginya. "Dia cuma berniat membantu membersihkan rumah, Fathan. Manusia itu tempatnya salah, bukan robot yang tidak pernah luput dari kecelakaan."

"Kamu selalu membela tindakan cerobohnya, Samaira!" balas Fathan sengit, memalingkan tubuhnya menghadap sang adik. "Kalau dibiarkan terus, kecerobohan kecil seperti ini akan menjadi kebiasaan buruk yang merusak banyak hal lain di rumah ini. Kamu selalu memaklumi semuanya dengan dalih 'niat baik', padahal kenyataannya dia merusak barang berharga!"

Lihat selengkapnya