Matahari pagi baru saja mengintip di balik tirai jendela dapur, membawa bias jingga yang hangat ke dalam rumah kos yang dihuni oleh empat orang mahasiswa tingkat akhir. Namun, kehangatan itu sama sekali tidak tercermin di meja makan. Suasana justru terasa membeku, seolah udara di ruangan tersebut berubah menjadi kristal es yang siap pecah kapan saja.
Yassir menatap piring kosongnya dengan pandangan kosong, sementara tangannya memutar-mutar cangkir kopi yang sudah mulai dingin. Di seberangnya, Azalia sedang membereskan sisa sarapan dengan gerakan yang sedikit lebih kasar dari biasanya—sebuah tanda universal bahwa kesabarannya telah habis.
"Yassir, ini sudah hari ketiga jadwal piketmu membersihkan area dapur dan ruang tamu terlewat begitu saja," suara Azalia memecah keheningan pagi, datar namun menyaratkan ketegasan yang tertahan. "Aku sudah bilang berulang kali, kita tinggal di sini bersama-sama. Rumah ini bukan hotel di mana kamu bisa datang, tidur, makan, lalu membiarkan orang lain membereskan kekacauanmu."
Yassir mendengus pelan, mengangkat wajahnya dengan malas. Ia menatap Azalia, lalu melirik sekilas ke arah sudut ruangan tempat selembar kertas jadwal piket ditempelkan. "Bukan sengaja aku lewatkan, Za. Aku sibuk. Jadwal bimbingan skripsiku padat, dan aku harus merevisi bab tiga malam-malam. Jangan samakan waktuku dengan kalian yang kuliahnya lebih santai."
"Kuliah kami santai?" Azalia menghentikan gerakannya, meletakkan spons cuci piring ke atas sink dengan bunyi debuman kecil yang cukup nyaring. Ia membalikkan badan, menatap Yassir tajam. "Kamu pikir aku tidak mengerjakan skripsi? Aku juga sidang bulan depan, Yassir! Arka dan Zahra juga sama sibuknya. Tapi buktinya, kami tidak pernah melalaikan kewajiban menjaga kebersihan tempat tinggal kita sendiri."
"Ya sudah, kalau begitu jangan dibersihkan. Biarkan saja kotor. Nanti juga lama-lama bersih sendiri," jawab Yassir enteng, nada bicaranya menyiratkan sikap acuh tak acuh yang selalu berhasil memancing emosi siapa pun yang mendengarnya.
"Bukan masalah kotor atau bersihnya saja, Yassir! Ini soal tanggung jawab dan rasa saling menghargai," Azalia melangkah mendekati meja makan, kedua tangannya bertumpu di atas permukaan kayu. "Kita berbagi atap yang sama. Kalau semua orang punya pola pikir egois sepertimu, rumah ini pasti sudah berubah jadi kapal pecah dari bulan lalu."
Yassir ikut berdiri, kursinya bergeser ke belakang dengan suara derit yang nyaring dan mengganggu pendengaran. "Egois, katamu? Yang egois itu kamu, Za. Selalu mengatur-atur orang lain seolah kamu yang paling suci dan paling benar di rumah ini. Aku lelah, tahu? Pulang kuliah langsung disuguhi omelan soal piring kotor dan lantai berdebu."
"Kalau kamu tidak mau diomeli, jalankan kewajibanmu!" seru Azalia, suranya mulai meninggi, mencerminkan akumulasi kejengkelan yang sudah menumpuk selama berpekan-pekan.
"Cukup!" Arka yang sejak tadi duduk di ujung meja sambil membaca artikel di ponselnya akhirnya angkat bicara. Ia menutup layarnya dengan gerakan pelan namun tegas, lalu mendongak menatap kedua orang di hadapannya bergantian. "Kalian mau ribut terus tiap pagi begini? Kepalaku sudah mau pecah mikirin bab pembahasan, jangan ditambah lagi dengan drama rumah tangga tidak penting seperti ini."
"Bilang itu ke temanmu yang kepalanya batu, Arka," cerca Azalia sambil menunjuk Yassir dengan dagunya.
Yassir mendengus sinis, melipat kedua tangannya di dada. "Sudahlah, aku tidak punya waktu meladeni drama pagi kalian. Buang-buang energi."
❖ ❖ ❖
Tanpa memedulikan tatapan tajam dari Azalia maupun teguran dari Arka, Yassir berbalik badan dan melangkah cepat meninggalkan ruang makan. Langkah kakinya terdengar berat menapaki lantai keramik, menuju koridor kamar yang berada di bagian belakang rumah.
Setibanya di depan kamarnya, ia langsung mendorong pintu kayu tersebut dengan kasar dan membantingnya hingga berderit keras. Suara bantingan pintu itu menggema ke seluruh penjuru rumah, menjadi pernyataan bisu bahwa Yassir sama sekali tidak berniat untuk mengalah atau melanjutkan perdebatan.
Yassir menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur busa yang belum sempat ia rapikan sejak pagi. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya lewat mulut dengan kasar, mencoba meredakan detak jantungnya yang berdegup lebih cepat karena amarah. Diambilnya sebuah bantal guling, lalu ia benamkan wajahnya ke sana selama beberapa detik.
Kenapa mereka semua selalu menyudutkanku? batinnya bergolak. Aku memang sibuk. Kenapa mereka tidak bisa mengerti sedikit saja? Skripsiku sedang diuji habis-habisan oleh dosen pembimbing. Setiap malam aku harus begadang memperbaiki analisis data yang selalu salah. Mana sempat aku memikirkan lantai yang berdebu atau cucian piring yang menumpuk?
Ia bangkit dari posisi berbaringnya, lalu berjalan menuju meja belajar yang berantakan oleh tumpukan buku referensi, cetakan jurnal ilmiah, dan cangkir-cangkir kopi bekas kemarin malam. Yassir meraih laptopnya, membuka layar benda pipih itu dengan gerakan cepat, dan mencoba kembali fokus pada lembar dokumen digital yang dipenuhi coretan merah dari dosen pembimbingnya.
Namun, konsentrasinya buyar seketika. Pikirannya melayang kembali ke percakapan di meja makan tadi. Wajah murka Azalia dan tatapan dingin Arka seolah terbayang di balik layar laptopnya. Rasa kesal bercampur sedikit rasa bersalah bergemuruh di dalam dadanya, meskipun ego mudanya langsung menepis rasa bersalah tersebut sekuat tenaga.
Tidak, aku tidak salah, pikirnya meyakinkan diri sendiri. Mereka saja yang terlalu lebay. Masalah piket kecil seperti itu bisa dibicarakan baik-baik tanpa harus berteriak di pagi hari.
Yassir memutuskan untuk mengunci kamarnya rapat-rapat. Ia menarik kunci dari slot pintu, memutarnya hingga terdengar bunyi klik yang mantap, lalu menarik tirai jendela kamarnya agar cahaya matahari pagi tidak bisa masuk. Di dalam ruangan yang kini temaram dan hanya diterangi cahaya dari layar laptop, Yassir memilih mengurung diri, memutuskan isolasi total dari dunia luar dan dari ketiga rekan serumahnya yang lain.
Waktu berjalan lambat. Jarum jam dinding di luar terus berputar, menandakan siang menjelang sore, tetapi Yassir bergeming di kursi belajarnya. Ia sengaja tidak keluar kamar bahkan ketika mendengar suara langkah kaki orang berjalan di koridor atau suara dentingan piring di dapur. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak gentar dan tidak peduli dengan ketegangan yang ia ciptakan sendiri.
❖ ❖ ❖
Sementara Yassir asyik dengan dunianya di balik pintu tertutup, suasana di bagian depan rumah justru terasa semakin menyesakkan. Di dapur yang kini sudah bersih dari sisa sarapan, Azalia berdiri seorang diri di depan wastafel. Air keran mengalir deras, namun suara gemerciknya tidak mampu meredam isak tangis yang sejak tadi ia tahan mati-matian.
Air mata gadis itu akhirnya tumpah juga. Ia menundukkan kepala, membiarkan tetesannya jatuh bercampur dengan air cucian piring. Selama ini, Azalia memang dikenal sebagai sosok yang paling peduli dengan kebersihan dan ketertiban rumah kos tersebut. Ia yang membuat jadwal piket, ia yang rajin menyapu ruang tamu, dan ia pula yang sering kali turun tangan membereskan kekacauan yang ditinggalkan oleh Yassir maupun Arka.
Namun, hari ini, benteng pertahanannya runtuh. Beban pikiran menghadapi sidang skripsi yang semakin dekat, ditambah rasa lelah fisik dan mental karena harus mengurus rumah seorang diri, membuatnya merasa sangat rapuh.