Malam merayap lambat di rumah tua warisan kakek Arka. Suara detak jam dinding antik di ruang tamu seolah menghitung mundur ketenangan yang sudah lama rapuh. Di dalam kamar utama yang berdebu, Samaira duduk bersimpuh di lantai kayu. Napasnya terdengar memburu, tidak teratur, mencerminkan kekacauan yang berkecamuk di dalam kepalanya. Buku sketsa kesayangannya—satu-satunya benda yang mampu menampung seluruh isi kepalanya yang bising—telah hilang entah ke mana sejak sore tadi.
"Tidak mungkin hilang begitu saja," bisik Samaira pada dirinya sendiri, jemarinya gemetar meraba tas ranselnya yang kosong.
Kecemasan itu berubah menjadi kepanikan ketika dorongan untuk menuangkan sesuatu ke atas kertas tidak bisa lagi ditahan. Pikirannya berdengung, menuntut ruang untuk bernapas. Matanya kemudian menangkap sebatang arang sisa perapian yang tergeletak di sudut kamar. Tanpa berpikir panjang, didorong oleh dorongan instingtif yang mendesak, Samaira meraih arang tersebut. Kakinya melangkah mendekati dinding kamar utama yang bercat putih kusam dan penuh noda usia.
Sentuhan pertama arang hitam itu pada permukaan dinding terasa begitu kasar.
Sreeek... sreeek...
Suara gesekan arang menggores dinding memecah kesunyian malam. Samaira mulai menarik garis demi garis, membentuk lekukan wajah manusia yang abstrak namun sarat emosi. Semakin dalam ia menggambar, semakin ia lupa di mana ia berada. Dinding putih yang tadinya polos perlahan-lahan berubah menjadi kanvas raksasa. Matanya menatap tajam ke arah bayangan imajinasi yang ia tumpahkan ke dinding. Garis-garis tegas berpadu dengan sapuan tangan yang mengotori dinding dengan noda hitam legam.
"Aku tidak boleh lupa... aku harus keluarkan ini," gumam Samaira, air matanya menetes tanpa ia sadari, membasahi pipinya yang tirus.
Di luar kamar, langkah kaki berat mendekat. Arka baru saja kembali dari kedai kopi di ujung jalan, berniat memeriksa keadaan rumah sebelum beristirahat. Namun, penciumannya langsung menangkap aroma arang dan kayu terbakar yang pekat. Alisnya yang tebal berkerut. Ia menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar utama yang tidak tertutup rapat.
❖ ❖ ❖
Arka mendorong pintu kamar itu selebar-lebarnya. Pemandangan di hadapannya membuat darahnya mendidih seketika. Dinding kamar utama yang selama ini dirawatnya dengan sisa-sisa tenaga, kini telah berubah rupa menjadi sebuah kekacauan hitam pekat. Wajah-wajah asing berukuran besar tergambar dengan liar di seluruh penjuru dinding.
"Apa yang sedang kau lakukan?!" bentak Arka, suaranya menggelegar memecah keheningan malam, membuat Samaira terlonjak kaget hingga arang di tangannya terjatuh ke lantai.
Samaira menoleh perlahan, tubuhnya menegang kaku. "Aku... aku hanya..."
"Kau merusak rumah ini!" Arka melangkah maju dengan amarah yang meluap-luap. Matanya menatap tajam ke arah dinding, lalu beralih pada sosok Samaira yang meringkuk di sudut ruangan. "Kau pikir rumah ini tempat sampah pelarian stresmu? Pergi! Kemasi barang-barangmu sekarang juga!"
"Tunggu, Arka, dengarkan aku dulu—"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" potong Arka dengan nada tinggi, menunjuk ke arah pintu keluar. "Keluar dari rumah ini sekarang atau aku sendiri yang akan menyeretmu keluar!"
Samaira bangkit berdiri, dadanya naik turun menahan amarah dan rasa takut yang bercampur aduk. "Kau tidak punya hak mengusirku begitu saja! Aku tidak sengaja—"
"Rumah ini milik keluargaku! Dan kau baru saja menghancurkan dindingnya!" Arka menatap Samaira dengan sorot mata penuh kebencian dan kekecewaan yang mendalam. "Keluar!"
Suasana di dalam kamar itu mendadak membeku. Keduanya saling berpandangan dalam jarak dekat, napas memburu, dikuasai oleh ego dan emosi yang sama-sama meledak.