Suara debum berat dari ruang tengah langsung memecah kesunyian sore hari yang tenang di rumah tua itu. Hujan rintik-rintik di luar jendela seolah menjadi latar suara yang muram bagi sebuah insiden yang sama sekali tidak pernah diharapkan. Fathan terpelanting jatuh dari atas kursi kayu reyot, sementara balok kayu atap yang lapuk di tangannya meluncur bebas dan menghantam lantai semen dengan suara gemeretak yang nyaring. Serpihan kayu tua dan debu tebal berhamburan ke udara, menyelubungi tubuh Fathan yang kini meringis menahan sakit.
"Aduh, sial..." gerutu Fathan tertahan, suaranya bergetar hebat saat ia berusaha menarik napas dalam-dalam di tengah kepungan rasa nyeri yang mendadak melilit sekujur tubuh bagian kanannya.
Siku kanannya membentur sudut meja makan dengan keras, menghasilkan luka robek yang menganga cukup lebar. Darah segar seketika merembes keluar, mengalir cepat membasahi lengan kemejanya yang sudah pudar warna birunya. Kening Fathan langsung dibasahi butiran keringat dingin. Ia mencoba bangkit menggunakan sisa tenaga yang ada, tetapi rasa pusing yang teramat sangat langsung menyerang kepalanya, membuatnya kembali terduduk lemas bersandar pada dinding yang catnya sudah mengelupas di sana-sini.
Di dapur belakang, Azalia yang sedang membereskan cucian piring seketika menghentikan aktivitasnya begitu mendengar suara benturan keras yang disusul ringisan kesakitan. Jantungnya berdegup kencang secara tidak beraturan. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia melepaskan sarung tangan karetnya dan berlari tergesa-gesa menuju ruang tengah.
Langkah kaki Azalia terhenti seketika di ambang pintu. Pemandangan di hadapannya membuat napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Fathan terduduk di lantai dengan darah yang sudah mulai menetes ke ubin dingin, menciptakan genangan kecil berwarna merah pekat yang tampak sangat kontras dengan warna lantai yang kusam.
"Fathan! Astaga, ya Tuhan!" pekik Azalia tertahan, suaranya melengking tinggi karena gelombang kepanikan yang langsung menguasai seluruh indranya.
Azalia tidak membuang waktu untuk bertanya atau terpaku dalam kebingungan. Insting profesionalnya sebagai seseorang yang pernah hidup dalam keterbatasan medis darurat langsung mengambil alih. Ia melangkah cepat menghampiri Fathan yang masih meringis sambil memegangi siku kanannya yang terluka parah.
"Jangan banyak bergerak dulu, tahan sebentar," kata Azalia tegas, meski nada suaranya jelas menyiratkan kecemasan yang mendalam. Ia segera berbalik setengah berlari menuju kamar belakang tempat kotak P3K darurat disimpan.
Di ruang tengah yang remang-remang karena cahaya matahari sore tertutup awan mendung, Fathan hanya bisa menatap punggung Azalia yang berlari menjauh. Rasa sakit di sikunya memang luar biasa menyiksa, tetapi ada satu sensasi aneh yang tiba-tiba merayap di dadanya, mengalahkan rasa perih di fisiknya sendiri—sebuah kehangatan asing melihat betapa sigap dan pedulinya wanita itu terhadap keselamatan dirinya.
❖ ❖ ❖
Azalia kembali ke ruang tengah dalam hitungan detik dengan membawa kotak P3K berukuran sedang dan sebotol air hangat bersih beserta handuk kecil. Gerakannya terlihat sangat cekatan, terlatih, dan tidak menyia-nyiakan satu detik pun. Ia langsung berlutut di sebelah Fathan, mengabaikan debu lantai yang mengotori ujung celananya.
"Biar kulihat lukanya. Jangan ditarik atau digerakkan, lenganmu bisa makin parah," instruksi Azalia dengan nada yang terdengar otoritatif namun penuh perhatian. Tangannya yang terulur sama sekali tidak gemetar, menunjukkan ketenangan luar biasa di tengah situasi yang menegangkan.
Fathan mengangguk pelan, membiarkan Azalia memeriksa kedalaman robekan di siku kanannya. "Aku cuma mau benerin atap yang bocor sebelum hujan makin deras, Zal. Nggak disangka kayunya rapuh banget di bagian dalam," ucap Fathan mencoba membela diri, meski suaranya terdengar melemah akibat kehilangan banyak darah.
"Atap bisa dibenerin nanti atau besok pagi, tapi kalau tanganmu patah atau infeksi karena kurang ajar sama kayu lapuk, siapa yang mau repot?" cerca Azalia setengah mengomel, meski matanya menyiratkan kekhawatiran yang tulus saat ia mulai membersihkan darah di sekitar luka menggunakan cairan antiseptik.
Desis tertahan keluar dari bibir Fathan saat cairan dingin itu menyentuh dagingnya yang robek. Ia mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan rasa perih yang menjalar sampai ke tulang.
"Pelan-pelan, Dokter... perih banget ini," gerutu Fathan dengan mata terpejam rapat.
"Makanya, jangan sok jagoan kalau badan udah capek seharian kerja," balas Azalia cepat, namun ia menurunkan tekanan tangannya, membersihkan sisa kotoran dan serpihan kayu yang menempel di dalam luka dengan sangat hati-hati.
Azalia merobek bungkus kasa steril dengan giginya, lalu mengambil salep antibiotik dan mengoleskannya secara merata pada luka robek tersebut. Bau antiseptik dan obat merah langsung menyeruak memenuhi udara ruang tengah yang sempit. Jarak wajah mereka yang kini sangat dekat membuat Fathan bisa melihat butiran keringat tipis di pelipis Azalia dan kerutan halus di dahi wanita itu yang menunjukkan betapa seriusnya ia merawat luka tersebut.
"Nah, tahan sebentar ya. Ini agak ditekan sedikit supaya pendarahannya benar-benar berhenti," ujar Azalia lembut, lalu melilitkan perban putih bersih secara melingkar mengelilingi siku Fathan dengan simpul yang rapi dan kuat.
Fathan membuka matanya perlahan. Ia menatap lurus ke arah wajah Azalia yang berada hanya beberapa jengkal dari wajahnya. Dalam jarak sedekat ini, Fathan baru menyadari betapa dalam sorot mata wanita itu di balik ketus dan omelannya yang bertubi-tubi. Ada kelelahan hidup yang tersimpan rapi, namun ada pula ketulusan murni yang terpancar tanpa dibuat-buat.
"Sudah selesai," kata Azalia menghembuskan napas panjang lega setelah merapikan ujung perban terakhir. Ia mendongak, dan mendapati Fathan sedang menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip sedikit pun. Suasana mendadak menjadi hening, menyisakan suara ketukan rintik hujan di atap seng luar rumah.
❖ ❖ ❖
Suasana hening yang tiba-tiba menyelubungi ruang tengah itu terasa begitu padat. Azalia yang tadinya sibuk merapikan alat-alat medis di dalam kotak P3K mendadak merasakan hawa di sekitarnya menghangat secara drastis. Tatapan mata Fathan yang begitu intens membuat napasnya tercekat di tenggorokan.